
Di sebuah sudut Bandung pada tahun 1904, sebuah terobosan besar terjadi. Raden Dewi Sartika, seorang perempuan Sunda yang gigih, mendirikan Sakola Kaoetamaan Istri—sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia. Di tengah zaman ketika perempuan dianggap hanya pantas mengurus dapur, Dewi Sartika berani bermimpi lebih besar.
Awal yang Penuh Tantangan
Bayangkan suasana Bandung di awal 1900-an. Perempuan pribumi hampir tidak punya akses pendidikan. Kolonial Belanda tidak peduli, sementara budaya patriarki menganggap sekolah untuk perempuan sebagai hal yang tidak penting.
Tapi Dewi Sartika tidak menyerah. Dengan tekad baja, ia memulai sekolahnya dengan hanya 20 murid. Kelas pertama digelar di pendopo Bandung dengan peralatan seadanya. Yang diajarkan bukan hanya memasak dan menjahit, tetapi juga baca-tulis, berhitung, bahkan pengetahuan umum.
Kurikulum yang Membebaskan
Yang membuat Sakola Kaoetamaan Istri istimewa adalah pendekatannya yang revolusioner. Dewi Sartika percaya bahwa perempuan harus punya pengetahuan untuk mandiri. Murid-murid diajari Membaca dan menulis bahasa Sunda dan Melayu, Matematika dasar untuk berdagang, Keterampilan praktis seperti kerajinan tangan yang bisa dijual, Pengetahuan kesehatan keluarga.
Tak heran jika perlahan sekolah ini mulai dilirik. Dari 20 murid di tahun pertama, jumlahnya melonjak jadi 75 murid pada 1920.
Melawan Arus Zaman
Tentu saja banyak yang tidak setuju. Pemerintah kolonial curiga, sebagian kalangan tradisional menentang. Tapi Dewi Sartika punya strategi seperti Melibatkan tokoh masyarakat untuk mendapat dukungan, Menunjukkan hasil nyata lewat karya murid-muridnya, Perlahan merubah pola pikir masyarakat lewat contoh nyata.
Warisan yang Masih Terasa
Sakola Kaoetamaan Istri tutup di era 1940-an, tapi pengaruhnya tetap hidup karena Menjadi inspirasi sekolah perempuan di daerah lain, Membuktikan bahwa pendidikan perempuan bisa mengubah Masyarakat, Melahirkan generasi perempuan terdidik pertama di Jawa Barat
Kini, bekas lokasi sekolah di Jalan Dewi Sartika Bandung menjadi saksi bisu perjuangan ini. Sebuah plakat kecil menandai tempat dimana sejarah kesetaraan pendidikan perempuan Indonesia dimulai.
Dewi Sartika mungkin sudah tiada, tapi semangatnya terus hidup. Setiap perempuan Indonesia yang kini bebas bersekolah, berutang budi pada langkah berani seorang perempuan dari Bandung ini.
Sumber: Arsip Nasional RI, Naskah-naskah Dewi Sartika, Perpustakaan Nasional
