Situ Patenggang di Ciwidey bukan sekedar danau indah di pelukan pegunungan Bandung Selatan. Di balik kabut tipis dan hamparan kebun teh, tersimpan kisah cinta legendaris yang abadi: kisah Dewi Rengganis dan Prabu Kian Santang, yang melahirkan Pulau Cinta dan Batu Cinta, dua ikon romantis yang kini menjadi magnet wisata dan harapan bagi para pencari cinta seja.
Nama Situ Patenggang berasal dari bahasa Sunda, pateang-teangan, yang berarti “saling mencari”. Legenda ini bermula dari masa Kerajaan Siliwangi, ketika Prabu Kian Santang, putra Prabu Siliwangi, jatuh cinta pada Dewi Rengganis, seorang gadis jelita dari kalangan rakyat biasa. Cinta mereka diuji saat Prabu Kian Santang harus pergi berperang, meninggalkan Dewi Rengganis yang setia menunggu dalam penantian panjang.
Setelah berbulan-bulan, keduanya saling mencari di tengah rindu yang membuncah. Pencarian itu membawa mereka ke sebuah batu besar di tepi danau, yang kini dikenal sebagai Batu Cinta—tempat sakral pertemuan kembali dua sejoli ini. Menurut legenda, setelah pertemuan penuh haru di Batu Cinta, Dewi Rengganis meminta Prabu Kian Santang membuatkan danau dan perahu sebagai simbol cinta abadi mereka. Dari permintaan inilah lahir Situ Patenggang, dan konon perahu mereka berubah menjadi pulau kecil berbentuk hati di tengah danau: Pulau Asmara atau Pulau Cinta. Pulau ini menjadi ikon utama, diyakini membawa berkah cinta sejati bagi siapa pun yang mengelilinginya bersama pasangan.
Batu Cinta di tepi danau bukan sekadar batu besar, tetapi saksi bisu pertemuan kembali Dewi Rengganis dan Prabu Kian Santang setelah lama terpisah. Masyarakat percaya, siapa pun yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Cinta dengan niat tulus akan menemukan cinta yang langgeng, sebagaimana pasangan legendaris itu. Tak heran, Batu Cinta menjadi destinasi wajib bagi pasangan muda, pengantin baru, hingga wisatawan yang ingin merayakan cinta dengan cara berbeda.
Selain kisah romantisnya, Situ Patenggang menawarkan panorama alam luar biasa: danau jernih dikelilingi perbukitan hijau, udara sejuk pegunungan, dan hamparan kebun teh yang menyejukkan mata. Pengunjung bisa berkeliling danau naik perahu, bersantai di jembatan apung, memetik stroberi di kebun sekitar, hingga berburu foto di spot-spot ikonik Batu Cinta dan Pulau Asmara.
Lokasinya yang hanya sekitar 47–48 km dari pusat Kota Bandung membuat Situ Patenggang mudah diakses dan cocok sebagai destinasi bulan madu, liburan keluarga, atau sekadar pelarian dari hiruk-pikuk kota. Legenda Situ Patenggang dan Pulau Cinta Dewi Rengganis bukan hanya cerita turun-temurun, tapi telah menjadi identitas budaya dan daya tarik wisata Ciwidey. Setiap sudut danau, setiap hembusan angin di kebun teh, seolah mengingatkan bahwa cinta sejati selalu layak diperjuangkan—dan kadang, harus dicari hingga ke ujung dunia.

“Konon, siapa saja yang mengunjungi Batu Cinta dan Pulau Asmara dengan niat tulus akan diberkahi cinta yang langgeng, sama seperti cinta yang dimiliki oleh dua tokoh legendaris tersebut.”
