Sukabumi Berirama: Marching Band Tradisi Hiburan Tahunan Sekolah

SUKABUMI– Sukabumi kembali diramaikan oleh alunan melodi dan hentakan perkusi dari puluhan drumband sekolah yang memukau. Parade drumband, sebuah tradisi tahunan yang telah mengakar kuat di kalangan pelajar, bukan hanya sekadar ajang unjuk kebolehan musikal, melainkan juga wadah pelestarian seni, pembentukan karakter, dan hiburan yang dinanti-nanti masyarakat.

“ Drumband ini adanya memang musiman, biasanya di bulan bulan  tahu  kenaikan kelas menuju ajaran baru sampai ke perayaan kemerdekaan Indonesia , bahkan kadang di acara acara dan hari besar tertentu pun ada , di moment ini  jalan-jalan di daerah Sukabumi dipenuhi gemuruh suara perkusi, dentuman bas, dan alunan melodi tiup “Ujar Herlina ( 30 ) salah seorang guru SD .

Menurut Bapak Yono seorang kepala sekolah dari salah satu institusi pendidikan di Sukabumi mengatakan bahwa “biasanya di akhir tahun pembelajaran semester genap para pelajar,wali murid, dan masyarakat selalu antusias mempersiapkan berbagai hal pendukung dalam hiburan marchingband, dari mulai persiapan koreografi berbagai karakter untuk pawai, hingga saweran – saweran bagi para pemain marchingband”. Seragam-seragam cerah yang bervariasi, dari warna-warna tradisional hingga desain modern, menambah semarak visual yang memanjakan mata penonton.

Bagi masyarakat Sukabumi, kehadiran parade Marchingband adalah hiburan gratis yang menyegarkan. Keluarga-keluarga berbondong-bondong datang, membawa anak-anak mereka untuk menyaksikan atraksi drumband yang penuh energi. “Anak saya selalu semangat kalau ada drumband. Mereka bisa belajar disiplin dan kerja sama tim dari kegiatan ini,” tutur Ibu Cucu , salah seorang warga yang setia menonton parade ini setiap tahun.

“Ini adalah momen yang sangat kami tunggu-tunggu,” ujar Imaddudin (17) seorang siswa yang menjadi penikmat marchingband. ” Atraksi yang memukau ini memang selalu dinanti, membawa euforia dan kebanggaan bagi warga dan pelajar. Namun, di balik dentuman perkusi yang meriah dan barisan rapi nan indah, terselip sebuah tantangan klasik yang tak terhindarkan kemacetan lalu lintas. “Saya sudah langganan nonton drumband tiap tahun. Senang sekali melihat anak-anak bisa tampil sehebat itu,” tutur Ibu Cucu susilawati (48 ) , seorang warga yang selalu menyempatkan diri menonton drumband . “Tapi ya itu, mau tidak mau harus siap-siap macet. Kadang butuh waktu berjam-jam untuk menempuh jarak yang biasanya cuma seperempat jam.”

Fenomena kemacetan ini memang menjadi sisi lain dari perhelatan drumband yang begitu meriah. Penutupan atau pengalihan jalur selama pawai berlangsung, ditambah antusiasme warga yang memadati bahu jalan, tak ayal membuat arus lalu lintas menjadi tersendat. Kendaraan merayap, klakson bersahutan, dan banyak pengendara terjebak dalam antrean panjang. Bagi sebagian warga yang memiliki kepentingan mendesak atau harus tepat waktu, kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri.

Meski demikian, sebagian besar warga Sukabumi tampaknya memahami dan bahkan memaklumi kondisi ini. Mereka melihat kemacetan sebagai harga yang harus dibayar untuk sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dan memberikan kegembiraan kolektif. Bagi mereka, kemacetan adalah bagian dari “paket lengkap” perayaan drumband, sebuah pertunjukan seni yang tak hanya menampilkan kebolehan musikal, tetapi juga semangat kebersamaan.

Lebih dari sekadar hiburan, parade marchingband ini menjadi ajang silaturahmi antar sekolah dan mempererat tali persaudaraan di antara para pelajar. Semangat sportivitas dan kebersamaan terlihat jelas di setiap penampilan. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton yang memadati ruas jalan menjadi energi pendorong bagi para pemain drumband  untuk memberikan yang terbaik.

Tradisi drumband di sekolah-sekolah Sukabumi adalah cerminan kekayaan budaya dan semangat kreativitas generasi muda. Ia bukan hanya sekadar pertunjukan musik, tetapi juga denyut nadi yang menjaga irama kehidupan sosial dan budaya kota, memastikan bahwa seni dan kebersamaan akan terus bergaung di setiap sudut Sukabumi.

Perhelatan drumband di Sukabumi adalah gambaran nyata bagaimana sebuah tradisi mampu menyatukan masyarakat dalam kebahagiaan, sekaligus menuntut adaptasi dan pengertian dari setiap individu. Di tengah riuhnya klakson dan langkah kaki seragam, Sukabumi terus mencari keseimbangan

Scroll to Top