Athiya Nasywa Rabbani | Bandung, 16 Juni 2025

Langkah kaki saya terhenti di depan deretan bingkai lukisan di Jalan Braga. Dari luar, tempat itu tampak seperti toko seni lawas—sunyi, sedikit berdebu, dan nyaris tak menunjukkan aktivitas. Tapi rasa penasaran membawa saya untuk melihat ke dalam, di situlah saya melihatnya: meja-meja kayu tua, etalase kaca, dengan berbagai bentuk roti klasik yang tak asing di dalamnya. Sumber Hidangan, begitu papan kecil di sana menyebut dirinya. Masuk ke dalam, membuat saya merasa sedang berdiri di ambang ruang waktu—menyaksikan sebuah fragmen masa lalu yang masih hidup, di tengah arus dunia modernisasi.

Toko ini berdiri sejak 1929, saat Jalan Braga masih dikenal sebagai Bragaweg, jalur elit para meneer Belanda. Dahulu namanya Het Snoephuis, tempat warga Eropa menikmati roti dan kopi sambil membaca surat kabar. Kini, puluhan tahun setelah kemerdekaan, bangunannya masih dengan konsep art deco yang tak banyak berubah, juga menu rotinya yang dibuat dengan resep klasik zaman Belanda. Waktu seolah enggan bergerak terlalu cepat di sini.
Sumber Hidangan tetap bertahan dengan sunyinya. Ia tidak memanggil lewat baliho besar, melainkan dengan kenangan. Pengunjung yang datang adalah mereka yang tahu—atau mereka yang cukup peka untuk merasa bahwa tempat ini bukan sekadar tempat makan, melainkan warisan budaya yang hidup dalam gigitan sederhana.
Toko roti ini didirikan sekitar 1 Februari 1928 oleh pasangan Tjan I Gwan, lalu mulai membuka di 1929 dengan nama kolonial yang bertahan setidaknya sampai tahun 1956, sebelum diubah menjadi Sumber Hidangan sekitar tahun 1957–1959, menyusul nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda.
Dahulu, Het Snoephuis dikenal sebagai restoran mewah dan toko roti-premium di Bragaweg—favorit warga Eropa dan elit lokal. Kini, roti klasik seperti krentenbrood, saucijzenbroodjes, dan speculaas masih dipanggang menggunakan resep jadul, tanpa pengawet—keotentikan inilah yang menjadikan tempat ini unik, sehingga banyak menarik pelanggan yang senang dengan rasa klasik ataupun sekedar penasaran, hendak mencicipi selera tempo doeloe.
Sumber Hidangan bukan sekadar toko. Ia menjadi sebuah pengingat lembut, bahwa sejarah tidak hanya tertulis di dalam naskah akademik. Ia juga hidup di sela-sela kehidupan—di dalam roti, ruang, juga rasa yang tak berubah selama hampir satu abad.
