Sumur Tua di Gedung PLN: Jejak Titik Nol di Kota Bandung

Bandung, 16 Juni 2025

Oleh : Azizah Nabilah Fauziyah

Di tengah padatnya arus kendaraan dan derap langkah pejalan kaki di Jalan Asia Afrika, berdiri sebuah gedung tua berarsitektur kolonial yang masih kokoh digunakan hingga kini: Gedung PLN. Namun siapa sangka, di balik fungsi modernnya sebagai kantor penyedia listrik, gedung ini menyimpan satu peninggalan penting yang nyaris tak dikenal publik—sebuah sumur tua, yang dipercaya menjadi penanda titik nol Kota Bandung.

Letaknya tidak mencolok, tersembunyi di lantai bawah gedung. Tidak ada penanda khusus, papan informasi, ataupun pagar pengaman yang menunjukkan bahwa sumur itu adalah saksi bisu dari awal mula lahirnya Bandung sebagai kota. Namun bagi sebagian orang yang tahu, keberadaan sumur ini menyimpan kisah panjang tentang masa ketika Bandung belum menjadi kota metropolitan seperti sekarang.

Menurut catatan sejarah, pada awal abad ke-19, Bupati R.A.A. Wiranatakusumah II memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke daerah yang lebih tinggi dan strategis, tepatnya di sekitar kawasan Asia Afrika saat ini. Pemindahan ini dilakukan karena wilayah sebelumnya sering terdampak banjir. Di lokasi baru tersebut, dibangun fasilitas-fasilitas pendukung, termasuk sumur yang menjadi sumber air utama penduduk kala itu. Kawasan tersebut kini dikenal dengan nama administratif “Sumur Bandung” sebuah penanda yang telah melekat secara simbolis dan geografis dalam sejarah kota ini.

Meski penting, kondisi sumur kini jauh dari kata ideal. Ia terletak di ruang yang kurang mendapat perhatian, seolah hanya menjadi bagian dari ruang bawah tanah biasa. Tidak ada narasi sejarah yang menjelaskan kepada pengunjung bahwa di tempat itulah, konon titik awal pembangunan Kota Bandung bermula.

Salah satu petugas disana mengatakan :

“Iya, sumurnya masih ada di bawah, bisa dilihat kalau lewat tangga ke bawah itu. Letaknya agak ke pojok, deket ruangan yang jarang dipakai,” jelas salah satu petugas keamanan

“Banyak yang nggak tahu sih. Kadang ada mahasiswa atau tamu datang buat lihat-lihat, tapi nggak semua ngerti nilai sejarahnya,” lanjutnya.

Beliau mengaku bahwa meskipun sumur itu sudah tidak digunakan, pihaknya tetap menjaga kebersihannya karena berada dalam bangunan aktif. Ia juga menyayangkan minimnya perhatian pemerintah atau lembaga terkait terhadap situs tersebut.

“Kalau ada papan informasi atau semacam plakat gitu kan enak, jadi orang tahu sejarahnya. Sayang juga sih, padahal katanya itu titik nolnya Bandung dulu,” ungkapnya.

Keberadaan sumur ini menjadi semacam jejak diam dari sejarah kota yang terus bergerak maju. Ia tidak berbicara, tidak bersinar, tapi menyimpan makna penting bagi siapa saja yang ingin mengenal Bandung lebih dalam. Sumur ini tidak hanya mencerminkan kebutuhan dasar masyarakat masa lalu, tapi juga menandai momen penting pergeseran pusat pemerintahan dan perkembangan tata kota.

Namun, hingga kini, belum terlihat adanya upaya serius dari pihak berwenang untuk menjadikan sumur ini sebagai situs sejarah yang layak dilestarikan. Bandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia yang telah mengembangkan titik nol sebagai destinasi wisata edukatif dan budaya.

Scroll to Top