Malam hening, di Pondok Pesantren di Cibiru Bandung, seorang santri pernah berandai-andai bisa masuk Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar. Tak dinyana, di tahun 2025 sang pemimpi itu bisa mewujudkan keandaiannya. Ya, ia Dede Dendi yang di AKSI Indosiar itu populer dengan Deban alias Kang Deban, ialah pemenang polingnya. Tentu dari andaikan menjadi mimpi dan dari mimpi menjadi kenyataan harus menempuh jalan yang berliku.
Berliku memang, dari pendaftaran pun begitu mencurahkan tenaga. Sejak AKSI pertama tayang pada 2014, Kang Deban hanya bisa menyimpan mimpinya. “Sejak itu saya membayangkan, aduh saya bisa nggak ya?” kenangnya. Jalan menuju panggung baru terbuka pada 2019, ketika ia memaksakan diri mengikuti audisi di Jakarta. Ia lolos dua tahap, tetapi terhenti karena dianggap belum memiliki ciri khas. Percobaan berikutnya pada 2022 melalui seleksi daring pun belum membuahkan hasil. Hingga suatu malam saat ronda, ponsel sederhananya yang hanya berisi WhatsApp dan Facebook menuntunnya menemukan tautan pendaftaran AKSI. Ia dibantu temannya untuk mendaftar. “Kebetulan pas ronda, saya nyuruh teman, dia download, dia kirim pesan, saya daftar,” tuturnya. Momen itu menjadi titik awal langkah besarnya.
Langkah itu membuka babak baru yang penuh tantangan. Setiap malam ia harus memperbaharui materi ceramah, bahkan kerap baru siap sehari bahkan hitungan jam sebelum tampil. Persiapan mendadak itu membuatnya sedikit panik dan kehilangan percaya diri. Pada awalnya, ceramahnya menggunakan perpaduan bahasa akademik dan gaya kiai. Tim Indosiar menilai itu terlalu kaku. Masukan itu menjadi titik balik, dimana ia mulai menghadirkan ciri khas sunda, ngawih, dan tutur yang lebih cair. ”coba ceramah dengan Kostum Sunda, ciri khas, ngawih, nah ini ciri khasnya,” ujarnya. Pendekatan ini membuat dakwahnya hidup, dekat, dan mudah diterima oleh penonton.
Dekatnya pesan dakwah yang ia bawa tak lepas dari kesopanan dan adab yang ditanam sejak lama di pesantren. Hal ini menjadi nilai tambah di panggung AKSI. Ia selalu menyapa siapapun dengan hormat, bahkan kepada satpam pun ia salim. “Pergi ke Jakarta, ketika ada yang lebih tua saya cium tangan. Ke Jakarta ketemu satpam saya salim. Itu menjadi nilai plus,” ceritanya. Sikap itulah yang membuat salah satu satpam menebak, ia akan jadi juara karena sikap sopannya. Inspirasi terbesar ia peroleh dari orang tua dan guru-gurunya. Ayahnya mendidik dengan penuh perhatian, sekaligus menempatkannya sebagai sahabat. Ibunya menanamkan nilai kedermawanan, sementara dari dunia akademik, Prof. Dr. KH. Dindin Solahudin, MA. menjadi sosok yang bijaksana dan penuh teladan. Dari ayahnya, ia belajar optimisme; dari ibunya, kedermawanan; dan dari Prof. Dindin, kebijaksanaan yang membimbingnya menghadapi berbagai tantangan.
Bimbingan itu semakin terasa penting ketika Kang Deban menerima kabar lolos karantina. “Selamat atas nama Deban, Anda lolos dan berhak melanjutkan ke karantina,” begitu pesan dari Indosiar. Ia menegaskan, masuk AKSI saja sudah merupakan kemenangan. “gak papa jangan mikirin juara, masuk AKSI sudah juara,” ujarnya. Keikhlasan dan doa menjadi penopang saat menghadapi audisi yang menegangkan dan persiapan mendadak.
Kabar lolos karantina itu menjadi pintu menuju momen puncak. Saat diumumkan sebagai Juara 1 AKSI Indosiar 2025, Kang Deban tetap sederhana. Ia tetap fokus pada cita-cita membangun pesantren. Pesan dan nasihat untuk kaum muda ia bagikan: “Menjadi orang sukses itu capek tapi akan lebih capek kalau hidup tidak sukses. Manajemen waktu harus bisa diatur sama kita. Circle pertemanan. Jangan pernah FOMO (Fear of Missing Out), karena kenikmatan sesaat akan membawa ke penderitaan yang panjang. Lakukan semuanya dengan ikhlas.” Dari mimpi yang tersimpan, doa yang dijaga, hingga perjuangan di panggung nasional, Kang Deban membuktikan bahwa ketekunan, kesopanan, dan keberanian menampilkan jati diri akan selalu menemukan jalannya sendiri.
