
BOGOR, 4 JUNI 2025 – Terik siang belum sepenuhnya turun dari langit saat Ending, 60 tahun, sibuk menata ikatan talas di lapaknya. Bertempat di pinggir jalan kawasan perbukitan Bogor, pria berkaos polos itu tampak biasa saja meski dagangannya disebut-sebut mahal untuk ukuran umbi-umbian lokal. Ending menyusun ikatan talas berisi enam buah, dijual seharga Rp50.000 per ikat. Sementara talas ukuran jumbo ia jual Rp75.000 per tiga biji. Meski begitu, lapaknya tak pernah sepi pembeli. “Biasa mah yang beli itu orang luar, wisatawan. Jarang yang orang sini beli banyak,” ujarnya sambil membetulkan posisi timbangan plastik kecil miliknya. Wajahnya teduh, namun tangan terus sibuk melayani pelanggan.
Menurut Ending, harga talas yang ia jual sebenarnya masih tergolong standar. Ia menyebut harga tinggi bukan karena asal daerah, tetapi karena kualitas dan ukuran. Talas yang ia jual adalah jenis unggulan dengan daging empuk dan rasa legit. “Talas di sini gede-gede, bagus. Panennya juga nggak sebentar,” katanya, menambahkan bahwa proses tanam hingga panen bisa memakan waktu hingga lima bulan. Tak hanya besar dan legit, talas Bogor juga punya daya simpan cukup lama jika disimpan dengan benar. “Kalau disimpan di tempat kering, bisa tahan sampai seminggu lebih,” ujarnya. Ini menjadi nilai tambah bagi wisatawan yang membawa pulang talas sebagai oleh-oleh.
Talas Bogor memang punya tempat tersendiri di hati para wisatawan. Tak lengkap rasanya pulang dari Kebun Raya atau Puncak tanpa membawa oleh-oleh umbi berkulit ungu keabu-abuan itu. Selain dikukus, talas kini banyak diolah menjadi bolu, keripik, dan aneka jajanan kekinian. “Kalau sekarang mah orang sukanya yang praktis, beli bolu langsung makan. Tapi masih banyak juga yang cari talas mentah buat direbus sendiri,” ujar Ending. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah mulai menggencarkan promosi produk lokal termasuk talas Bogor. UMKM pengolah talas bermunculan, menciptakan lapangan kerja baru serta memperkuat identitas kuliner lokal.
Namun, tantangan tetap ada. Menurut Ending, cuaca yang tak menentu membuat hasil panen sering tidak stabil. “Kadang hujan terus, tanah becek, jadi nggak bagus hasilnya,” katanya. Selain itu, biaya pupuk dan perawatan juga terus naik. Meski sering dianggap mahal, nyatanya talas tetap laris. Bagi warga sekitar, talas bukan sekadar bahan makanan, tapi bagian dari identitas kota. Umbi itu sudah lama tumbuh subur di lahan Bogor, menyatu dengan tanah dan tradisi. Talas juga kerap muncul dalam acara adat, seperti syukuran panen atau peringatan hari besar keagamaan. Kukusan talas hangat masih menjadi suguhan khas di beberapa kampung, menandakan eratnya hubungan antara masyarakat dan hasil bumi mereka.
Harga boleh naik, bentuk boleh berubah, tapi makna talas Bogor tetap kuat di hati masyarakat. Dari petani, pedagang, sampai pebisnis kuliner, semuanya punya cerita sendiri tentang umbi satu ini. Itulah mengapa talas tak hanya dianggap makanan, tapi juga simbol rasa dan kebanggaan. Di balik kulit kasarnya, tersimpan kisah panjang yang membuat talas layak disebut sebagai ciri khas Bogor.
