Tarawangsa Rancakalong: Harmoni Nada, Spirit Tradisi di Tengah Arus Modernitas

Dokumentasi Pribadi

Rancakalong, Sumedang — Di sebuah sore yang lengang, ketika matahari mulai turun di balik kebun bambu, suara dawai mulai terdengar dari sebuah rumah di tengah kampung. Bukan suara gitar, bukan juga kecapi. Ini adalah Tarawangsa musik tua yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang masih menyimpan kenangan tentang kampung, sawah, dan langit malam yang hening. Dua lelaki tua duduk bersila, jemari mereka menari di atas senar dua alat musik kuno yang dikenal sebagai Tarawangsa. Di hadapan mereka, warga desa khusyuk menari perlahan, mata terpejam, tubuh mengalun mengikuti irama. Inilah upacara Ngalaksa, tempat di mana musik bukan sekadar hiburan, tetapi jembatan spiritual antara manusia dan alam.

Tarawangsa adalah seni pertunjukan musik ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun di Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tidak sekadar bentuk kesenian, Tarawangsa adalah bagian dari sistem kepercayaan dan penghormatan masyarakat terhadap Dewi Sri simbol kesuburan dalam kosmologi agraris Sunda.

Sakral dan Langka

Tidak setiap saat Tarawangsa dimainkan. Hanya di momen-momen tertentu seperti panen raya atau Ngalaksa—ritual syukur atas hasil tani—seniman Tarawangsa tampil dengan pakaian adat Sunda, membawakan komposisi musikal yang tetap sama sejak ratusan tahun lalu.

Wawancara dengan Kang Asep

“Ini bukan musik biasa,” ujar Kang Asep (55), salah satu juru Tarawangsa yang telah memainkan alat ini sejak usia remaja. “Nada-nada ini punya doa di baliknya. Kalau dimainkan sembarangan, bisa kena bala.”

Menurutnya, Tarawangsa terdiri dari dua alat utama: satu berperan sebagai tarawangsa (gesek dua dawai), dan satu lagi jentreng (dipetik tujuh dawai). Keduanya menciptakan resonansi yang mendalam, menghantarkan suasana transendental yang dipercaya mampu menghubungkan manusia dengan kekuatan gaib penjaga bumi.

Generasi Baru, Tantangan Baru

Namun di balik pesonanya, Tarawangsa menghadapi tantangan besar: kehilangan pewaris. Anak muda Rancakalong lebih tertarik pada musik modern, sementara regenerasi pemain Tarawangsa berjalan lambat.

“Saya khawatir, nanti tinggal cerita saja,” kata Kang Asep. “Kami butuh dukungan, pelatihan, dan pengakuan bahwa ini warisan yang berharga.”

Meski begitu, harapan tetap menyala. Komunitas seni lokal seperti Sanggar Tarawangsa Rancakalong kini aktif mengenalkan tradisi ini ke sekolah-sekolah dan membuat pertunjukan terbuka. Bahkan, sejak 2011, Tarawangsa telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbud.

Nada yang Tak Pernah Padam

Di tengah derasnya globalisasi, Tarawangsa tetap bertahan sebagai suara dari masa lalu yang mengajarkan keseimbangan, kesyukuran, dan spiritualitas. Ia bukan sekadar musik, tapi wujud hidup dari kearifan lokal Sunda.

Selama masih ada yang mendengarkan dan merasakan getarnya, selama itu pula Tarawangsa akan terus berdendang menyatukan manusia, tanah, dan langit dalam satu harmoni yang suci.

Scroll to Top