
Tari Topeng Beber di Desa Beber, Majalengka, memiliki sejarah panjang yang bermula dari abad ke-17. Kesenian ini awalnya dibawa oleh seniman dari keraton yang bergabung dengan masyarakat setempat, lalu berkembang pesat hingga meraih puncak kejayaannya pada 1925–1980. Namun, seiring waktu, popularitasnya mulai meredup akibat perubahan selera masyarakat dan minimnya regenerasi.
Meski sempat mengalami penurunan, Tari Topeng Beber tetap bertahan berkat dedikasi para seniman seperti Pandisurono dan Yayah Tarsiah. Kini, sanggar-sanggar tari didirikan untuk melestarikan warisan budaya ini, termasuk adaptasinya menjadi Tari Topeng Randegan. Bagaimana perjalanan kesenian ini dari masa ke masa?
Asal-Usul dan Masa Kejayaan
Tari Topeng Beber berakar dari para seniman keraton yang bermigrasi ke Desa Beber pada abad ke-17. Menurut dalang Momon (2024), garis keturunan seniman ini berasal dari Buyut Surawacita, yang menikahi Buyut Sonten dari Gegesik, Cirebon. Keturunan mereka, seperti Dalang Kardama, Ening Tasminah, dan Dalang Sabdani Cakranatasuara, menjadi pelopor kesenian ini.
Puncak keemasan Tari Topeng Beber terjadi antara 1925–1980, di mana seniman seperti Ening Tasminah bahkan meraih juara pertama Lomba Tari Tingkat Provinsi Jawa Barat pada 12 November 1974. Kala itu, kelompok seniman kerap mendapat undangan pentas hingga 3–5 kali seminggu, menjadikan kesenian ini sebagai sumber penghidupan utama.
Penurunan Popularitas
Memasuki 1985–1994, minat masyarakat beralih ke kesenian modern seperti organ dangdut dan tari Jaipong. Penari yang menua dan minimnya regenerasi turut memperparah kondisi ini. Pertunjukan pun menyusut drastis, hanya tersisa 2–4 kali setahun, meski sesekali masih tampil di acara pemerintah seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Upaya Pelestarian
Di tengah tantangan, Ibu Yayah Tarsiah mempertahankan tradisi ini dengan memindahkan pusat kesenian ke Desa Randegan Wetan, sehingga tari ini dikenal sebagai Tari Topeng Randegan. Upaya lain dilakukan Pandisurono, yang mendirikan Sanggar Tari Beber pada 2019 setelah kembali dari Cianjur.
Sanggar ini tidak hanya mengajarkan tari topeng, tetapi juga berbagai jenis tari lain untuk menarik minat generasi muda. Saat ini, sekitar 15 murid aktif berlatih setiap Sabtu di GOR Desa Beber. Pandisurono juga mengajar di SMP 3 Ligung dan melatih ibu-ibu Polres Majalengka untuk lomba tari Polda Jabar.
Prestasi Terkini
Pandisurono terus mempromosikan Tari Topeng Beber di kancah nasional dan internasional, seperti Internasional Mask Festival 2022 di Solo. Meski frekuensi pentas tak sebanyak dulu, ia tetap konsisten tampil di acara seperti HUT RI dan kegiatan sekolah.
Tari Topeng Beber adalah warisan budaya yang telah melewati pasang-surut sejarah. Dari kejayaan masa lalu hingga tantangan modernisasi, kesenian ini bertahan berkat ketekunan para senimannya. Dengan adanya sanggar dan generasi penerus, harapan untuk melestarikan Tari Topeng Beber tetap hidup, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Majalengka.
(Sumber: Wawancara dengan Pandisurono, Momon, dan Suhadi)
