Tradisi Bola Api di Madrasah Al-Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin Cirebon, Warisan Budaya yang Tetap Menyala hingga saat ini

Oleh: Miftah Fathur Rahman (1225010097)

Tradisi Bola Api di Madrasah Al-Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin Cirebon, Warisan Budaya yang Tetap Menyala hingga saat ini

Permainan Bola Api

Sumber : Ajipurnama (Pemain Bola Api angkatan Pasopati)

Tradisi sepak bola api di Madrasah Al-Hikamus Salafiyah (MHS) Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, masih bertahan hingga kini sebagai salah satu ikon budaya dan spiritual pesantren. Setiap tahun menjelang bulan suci Ramadan atau pada berakhirnya pembelajaran tahunan, lapangan desa Babakan berubah menjadi arena atraksi menegangkan: para santri bertelanjang kaki beradu ketangkasan menendang bola api yang terbuat dari batok kelapa kering yang telah direndam minyak tanah dan solar lalu dibakar.

Tradisi ini bukan sekadar permainan ekstrem, melainkan sarat dengan nilai-nilai dakwah dan latihan spiritual. Bola api melambangkan hawa nafsu yang harus dikendalikan dan dikalahkan. Para santri diajarkan untuk berani melawan hawa nafsu, memperkuat mental, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebelum pertandingan, santri dianjurkan berwudhu dan membaca auradnya masing-masing, sebagai bentuk permohonan perlindungan dan kekuatan batin.

” Permainan Bola Api kienkuh simbol ketakwaan ning gusti kang Maha Esa, yaiku panase geni bisa dikalahnang karo tetege ati,” Dimas Candrawiguna (20) Minggu (15/6/2025), Pemain Bola Api Angkatan Pasopati tahun 1446 H/2025 M.

Permainan bola api tidak bisa diikuti sembarangan. Para santri yang akan bermain harus menjalani puasa dan tirakat selama 21 hari, serta mendapatkan izin dari orang tua. Proses ini menanamkan disiplin, keberanian, dan pengendalian diri yang tinggi. Bola api sendiri dibuat dari batok kelapa yang direndam minyak tanah minimal selama 6 jam agar menyerap sempurna, sehingga saat dibakar, bola tetap menyala sepanjang pertandingan.

Tongkat Api

Sumber : Ajipurnama (Pemain Bola Api angkatan Pasopati)

Tradisi ini berlangsung meriah dan menjadi ajang silaturahmi antara santri dan masyarakat. Ribuan warga Ciwaringin dan sekitarnya datang menyaksikan, menjadikan malam atraksi bola api sebagai simbol semangat kolektif menyambut Ramadan. Selain sepak bola api, atraksi mandi petasan, kubus api, gangsing api, tongkat api, dan fire work juga digelar, menambah kekaguman penonton terhadap ketangguhan fisik dan mental para santri.

Meskipun terkesan berbahaya, para santri dibekali pengetahuan dan latihan khusus di bawah pengawasan para ustadz berpengalaman. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi kebanggaan masyarakat Babakan Ciwaringin. Selain memperkuat identitas pesantren, tradisi bola api juga memperkokoh kebersamaan dan semangat spiritual komunitas.

“Kegiatan iki dudu sekadar hiburan, tapi bagian sing warisan perjuangan ngelawan penjajah kedik. Bola Api Iki wes ana sanget zaman Belanda,” Dimas Candrawiguna (20) Minggu (15/6/2025), Pemain Bola Api Angkatan Pasopati tahun 1446 H/2025 M.

Tradisi bola api di Madrasah Al-Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin bukan hanya sekadar pertunjukan spektakuler, tetapi juga warisan spiritual yang menanamkan nilai keberanian, pengendalian diri, dan solidaritas. Dengan tetap dipertahankan hingga kini, tradisi ini menjadi simbol kekayaan budaya lokal dan kekuatan iman yang terus menyala di tengah masyarakat Cirebon.

Scroll to Top