Tradisi “Nyawer” Dalam Menyambut Hari Raya Idul Adha

Idul Adha merupakan salah satu hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak kaum muslimim (Islam) yang mana hari tersebut merupakan salah satu perayaan hari raya umat Islam, pada hari tersebut umat muslim yang memiliki harta yang cukup akan melakukan pemotongan hewan qurban, pada tahun ini Idul Adha jatuh pada hari Jum’at (6/6/2025). Di Indonesia sendiri ternyata di setiap daerahnya memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyambut hari raya Idul Adha.
Salah satunya adalah dengan melakukan “nyawer” sebelum prosesi pemotongan hewan qurban dilakukan, yang mana pada umumnya tradisi nyawer ini biasa kita jumpai pada adat prosesi pernikahan sunda. Biasanya nyawer dalam rangkaian pernikahan sunda memasukan banyak unsur seperti: beras, kunyit, sirih, bunga-bungaan, uang logam, serta permen. Namun berbeda dalam nyawer untuk menyambut Idul Adha biasanya pada perayaan ini hanya menggunakan uang logam dan permen saja.
Hal ini dilakukan karena lebih evisien yang mana dalam perayaan ini nyawer dilakukan dengan tujuan untuk memeriahkan perayaan Idul Adha saja berbeda dengan yang terdapat dalam tradisi pernikahan sunda yang mana terdapat nilai-nilai kesakralan yang terkandung dalam adat pernikahan sunda.
Yang mana tradisi nyawer ini dilakukan pada beberapa kampung di Desa Citamba, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya salah satunya di Kampung Sukamulya dan Kampung Cikoneng. Siti Saadah (40) merupakan salah satu warga Kampung Sukamulya yang melakukan acara “nyawer”.
“ya saweran ini dilakukan hanya untuk meramaikan perayaan Idul Adha ini, dan juga dengan melakukan saweran ini saya juga dapat membagi rezeki saya kepada orang banyak” ucap Siti Saadah
Saweran ini dilakukan pada Lokasi yang berbeda dengan lokasi hewan qurban ditempatkan karena jika dilakukan ditempat yang sama ditakutkan membuat hewan qurban tersebut merasa terganggu dan dapat membuat hewan qurban tidak terkendali
“kalau misalnya di satukan mah, takut sapinya ngamuk” ucapnya
Dengan dilakukannya hal tersebut dapat dilihat bahwasannya tradisi di Indonesia ini tidak bersifat kaku, hal ini dapat kita akulturasikan dengan tradisi lainnya, selama tradisi yang kita akulturasikan tidak bertabrakan dan memiliki nilai yang sama serta memiliki tujuan yang baik hal tersebut sangat bagus untuk dilakukan.

Scroll to Top