
CIHAMPELAS, KBB – Di sudut Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, aroma khas gula aren dan kelapa parut mengepul dari tungku kayu. Dari dapur sederhana yang tak pernah sepi itu, Wajit Madurasa oleh-oleh khas Cililin terus dilahirkan. Lebih dari sekadar kudapan, wajit adalah warisan rasa, tradisi keluarga, dan bukti bahwa kearifan lokal masih punya ruang di tengah arus modernisasi.
Bagi masyarakat Priangan, wajit bukan hanya makanan manis. Ia adalah penanda perayaan, pemersatu dalam hajatan, dan kenangan kolektif yang melekat. Bagi Neng Rima (48), pemilik usaha keluarga Madurasa, wajit adalah hidupnya sendiri. “Kalau hari biasa, produksi sekitar 3 kwintal. Tapi sejak awal puasa, bisa naik dua kali lipat. Saat Lebaran, kami pernah capai 15 kwintal,” tuturnya sambil membolak-balik adonan wajit di atas kuali besar, Sabtu (14/5).
Dari Dapur Ibu, Menuju Lidah Nusantara
Wajit Madurasa mulai diproduksi sejak awal 1990-an oleh ibunda Neng Rima, Umi Hj. Edah, yang hingga kini masih aktif mendampingi proses produksi. Usaha ini dirintis dari skala rumahan dan diwariskan secara turun-temurun. Ciri khasnya terletak pada bahan-bahan alami tanpa pengawet: ketan, kelapa, dan gula aren. Prosesnya pun masih menggunakan tungku kayu, dengan pembungkus dari kulit jagung kering yang menjadi identitas tersendiri.
Dulu, wajit disajikan dalam pesta panen dan acara adat. Kini, ia menjelma sebagai oleh-oleh favorit para pelancong dan perantau. Toko oleh-oleh di kawasan Sasak Bubur selalu kebanjiran peminat, dan permintaan dari luar daerah seperti Jakarta, Subang, hingga Garut semakin meningkat.
“Kami mulai jual lewat media sosial. Sekarang juga ada di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop,” jelas Neng Rima yang kini menangani langsung pemasaran daring produknya.
Tradisi yang Perlu Diteruskan
Meski digemari, usaha ini menghadapi tantangan regenerasi. Banyak anak muda yang menilai usaha semacam ini kurang menjanjikan.
“Anak-anak sekarang lebih tertarik kerja kantoran atau usaha kekinian. Padahal bikin wajit itu bukan hanya soal untung, tapi juga melestarikan tradisi,” ujar Neng Rima.
Di tengah keterbatasan tenaga kerja muda, produksi tetap berjalan berkat loyalitas keluarga dan para pengrajin lama yang telah terbiasa dengan prosesnya.
Antara Bahan Baku dan Ketekunan
Menjelang Lebaran, tantangan terbesar justru datang dari kelangkaan bahan baku. Tahun 2022, daun jagung susah dicari hingga ratusan wajit gagal dibungkus. Tahun berikutnya, harga beras ketan naik hampir 50%. Dan tahun ini, 2025, giliran kelapa yang langka dan harganya melonjak dua kali lipat. “Kami bahkan sampai beli kelapa dengan harga yang sangat tinggi. Kalau tidak, produksi bisa berhenti total,” ujar Neng Rima. Namun demikian, ia memilih tetap bertahan. Bagi Neng Rima, membuat wajit bukan semata bisnis, tapi bentuk perlawanan lembut terhadap zaman yang serba instan.
Warisan yang Diakui dan Dilestarikan
Sejak 2022, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat menetapkan Wajit Madurasa sebagai ikon kuliner lokal yang masuk dalam daftar warisan budaya takbenda. Langkah ini dianggap penting sebagai upaya melestarikan kuliner tradisional yang semakin terpinggirkan. “Wajit itu arsip budaya. Ia mencerminkan sejarah sosial masyarakat Priangan, menyimpan nilai ekonomi, spiritual, dan identitas lokal,” ungkap Dede Kurniawan, sejarawan kuliner dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Inovasi Rasa, Menyentuh Generasi Z
Agar lebih dekat dengan selera generasi muda, Madurasa kini menghadirkan varian rasa pandan dan durian di samping versi klasik ketan putih dan hitam. Strategi ini didukung pemasaran digital dan distribusi melalui platform belanja online. “Anak muda suka yang unik dan beda. Jadi kami coba kreasikan rasa baru, tapi proses dan bahannya tetap asli,” jelas Neng Rima.
Manis yang Tak Pernah Pudar
Di dunia yang serba cepat, Neng Rima memilih jalan yang pelan namun penuh makna. Wajit Madurasa bukan hanya kudapan manis, ia adalah simbol keteguhan, warisan ibu, dan bukti bahwa tradisi bisa terus hidup selama ada yang bersedia menjaganya.
“Selama tungku ini masih bisa menyala, dan selama orang masih merindukan rasa lama, kami akan terus membuat wajit,” ucapnya, tersenyum menggenggam rasa manis masa lalu untuk masa depan.
