Sebuah motor merah jadul terparkir rapi di teras Toko Kelontong Cahaya, menjadi penanda bisu bahwa waktu seolah pernah berhenti pada era yang berbeda. Cat hijaunya yang memudar dimakan usia berpadu dengan bangunan toko yang sederhana namun kokoh, menghadirkan suasana tempo dulu yang begitu kuat. Toko kelontong ini berada di Jalan Gempol Kulon No.1, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat. Sejak tahun 1935 toko ini tak hanya menjadi tempat jual beli, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang kota Bandung dari masa ke masa. Rak-rak kayu bernuansa klasik, etalase kaca lama, serta barang-barang dengan kemasan jadul yang masih dipertahankan, membawa pengunjung seolah melangkah mundur ke masa ketika interaksi manusia lebih hangat dan waktu berjalan lebih pelan.
Kesederhanaan sosok Ebo Rusli yang kini berusia 76 tahun ini lah yang menjadi figur sentral dalam menjaga denyut kehidupan Toko Kelontong Cahaya. Sebagai generasi kedua keturunan Tionghoa asli, ia meneruskaan usaha orang tuanya dengan penuh kesetiaan. Sejak muda, ia telah akrab dengan aktivitas hitung menghitung di meja kasir dan berjibaku dengan barang dagangannya, menjadikan toko ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalan hidupnya. Baginya, menjaga toko bukan hanya soal berdagang, melainkan soal merawat amanah keluarga dan menjaga nilai-nilai kerja keras yang diwariskan lintas generasi.
Keberadaan Toko Kelontong Cahaya tak terpisahkan dari Sejarah metamorfosis Kota Bandung. Bangunan ini tetap berdiri kokoh di kawasan yang dulu ditempati oleh para pegawai pegawai rendahan pribumi Gedung Sate, suatu masa ketika area ini masih berupa pasar dan lapangan luas yang ramai dengan penjual obat herbal Baduy serta pedagang loak. Kini, kawasan itu telah berubah total, menjadi pusat kuliner yang tak pernah sepi. Di tengah hiruk-pikuk itu, Toko Cahaya tetap bertahan sebagai oasis sunyi yang menyimpan memori tentang perubahan sosial yang perlahan menggeser denyut kawasan sekitarnya.
Keramahan Ebo Rusli menjadi kesan pertama bagi siapa pun yang melangkah masuk ke dalam toko. Ia menyapa pelanggan dengan senyuman tulus, melayani dengan sabar, dan kerap mengajak berbincang pelanggannya untuk bertukar cerita atau mengenang Bandung tempo dulu. Namun, di balik kehangatan itu, terselip kesadaran usia dan waktu. Kini, ia hanya membuka toko dari pukul delapan pagi hingga tiga sore. Jika hujan turun, toko bisa saja tutup lebih cepat, semua itu mengikuti kondisi tubunya yang tak lagi sekuat dulu.
Hidupnya kini berdua bersama sang istri di toko yang juga menjadi rumah mereka. Sementara ketiga anaknya telah menjalani hidup mandiri dan berkarier di Jakarta, kehidupan sehari-hari Ebo berpusat pada ruang sempit antara rak-rak kayu dan meja kasir tua. Usia yang kian renta membuatnya tak lagi bisa bekerja sendiri sepenuhnya. Untuk urusan mengangkat barang atau melayani pembeli yang ramai, ia dibantu oleh seorang karyawan. Gerak tubuhnya tak lagi segesit dahulu, sebuah kenyataan yang ia terima dengan lapang dada. Meski begitu, semangatnya tak pernah redup. Ia tetap setia menghabiskan hari-harinya dengan duduk di kursi kasir, mengawasi, atau hanya sekadar menyapa pelanggan, dan memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya.
Tak jarang pelanggan datang dengan harapan menemukan sesuatu yang ikonik di antara barang dagangannya. Namun, bagi Ebo tak ada satupun barang yang disebut legendaris, “Semuanya tergantung kebutuhan masing-masing,” ujarnya, merendah. Baginya, nilai sebuah barang bukan terletak pada kelangkaan atau nostalgia yang melekat, melainkan pada fungsi dan arti bagi orang yang membutuhkan.
Pandangan sederhana itu tercermin dari cara Ebo merawat barang-barang lama yang masih tersimpan rapi. Mulai dari guci asli Tiongkok peninggalan dari orang tuanya yang dibawa langsung dari negeri asal, hingga berbagai koleksi-koleksi lawas lainnya yang sudah jarang ditemui, semua dirawat dengan penuh kehati-hatian. Barang tersebut bukan hanya pajangan etalase, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya yang ikut menua bersama waktu. Setiap goresan, warna yang memudar, dan bentuk yang tetap dipertahankan menyimpan kenangan tentang keluarga, masa lalu, serta nilai-nilai yang diwariskan orang tuanya. Baginya, merawat barang-barang itu sama artinya dengan menjaga ingatan dan menghormati jerih payah generasi sebelumnya.
Dalam kesederhanaannya, terselip kebanggaan ketika Ebo bercerita bahwa Toko Cahaya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Indonesia yang terpampang jelas di sudut depan toko nya. Pengakuan dari negara tersebut menjadi bentuk penghargaan atas kesetiaannya menjaga warisan keluarga dan mempertahankan bangunan bersejarah di tengah arus modernisasi. Namun, di balik plakat kehormatan itu, Ebo tetap bersikap realistis, bahwa ia menyadari status cagar budayanya itu tidak serta merta menjamin keberlangsungan toko lebih lama lagi. Penurunan pendapatan hingga separuhnya di masa pandemi serta ketiadaan penerus membuat masa depan toko ini berada di persimpangan. Dengan nada tenang, ia mengakui, “mungkin ketika Saya sudah tidak ada, toko ini akan tutup”. Sebuah pernyataan sederhana yang menyimpan kepasrahan, sekaligus menjadi potret sunyi perjuangan menjaga warisan di tengah perubahan zaman.
Kota Bandung yang terus melaju menuju modernitas, dengan deretan bangunan baru, ritme hidup yang semakin cepat, serta wajah kota yang kian hari kian berubah, Toko Kelontong Cahaya tetap berdiri bagai oasis kenangan. Keberadaannya seolah menantang arus zaman, mempertahankan bentuk dan suasana lama di tengah gempuran ritel modern dan budaya serba instan. Setiap sudut tua di dalam toko ini bukan hanya menyimpan barang dagangan, melainkan fragmen-fragmen cerita yang tak ternilai harganya. Rak kayu, etalase kaca, dan benda-benda lawas menjadi saksi bahwa dalam perjalanan panjang Ebo, menjadi jiwa yang menghidupkan seluruh kisah tersebut.
Dalam kesehariannya, Ebo menjalani hidup dengan kesederhanaan yang sarat makna. Ia menerima kenyataan bahwa waktu terus bergerak, begitu pula tubuh dan keadaan yang tak lagi sama seperti dulu. Doa untuk kesehatan dan ketabahannya mungkin terdengar sederhana, namun menjadi bentuk empati paling tulus bagi seseorang yang telah mengabdikan hidupnya untuk merawat sebuah warisan. Dari perjalanan hidupnya, tersimpan pelajaran berharga tentang kesetiaan menjaga peninggalan keluarga, tentang keteguhan bertahan di tengah perubahan, serta tentang keikhlasan menerima kenyataan tanpa kehilangan rasa syukur.
Kelak, ketika motor merah jadul di teras itu hanya tinggal kenangan, dan pintu Toko Kelontong Cahaya mungkin telah tertutup untuk selamanya, kisah Ebo Rusli tidak akan ikut menghilang. Kesetiaannya selama menjaga toko, dan ketulusannya melayani pelanggan, serta ketenangannya menghadapi masa depan, akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah singgah. Ia akan menjadi bagian dari legenda urban Bandung yang tak banyak dituliskan, namun terus hidup dalam cerita tentang sebuah toko kecil, seorang penjaga setia, dan kota yang terus berubah tanpa pernah sepenuhnya melupakan masa lalunya.
