
Berada di sisi barat kampus ITB, di tengah riuhnya Kota Bandung yang terus tumbuh dan berubah, Kebun Binatang Bandung berdiri sebagai saksi bisu zaman. Di balik kandang kandang satwa, pepohonan besar, dan kolam-kolam tenang, tempat ini menyimpan narasi panjang yang nyaris terlupakan: sejarah, perjuangan, dan warisan kota yang tak lekang oleh waktu.
Kisah Kebun Binatang Bandung dimulai dari sebuah tempat yang jauh dari Tamansari. Pada awal abad ke-20, R.A.A. Martanagara seorang Bupati Bandung mendirikan taman satwa di Cimindi. Di masa yang hampir bersamaan, warga Belanda penyayang binatang juga membangun kebun binatang lain di kawasan Bukit Dago. Dua taman satwa ini, meski sederhana, menjadi tonggak awal dari cinta warga Bandung pada margasatwa.
Namun, waktu berjalan. Satwa bertambah, biaya membengkak, dan pengelolaan pun menjadi beban. Solusinya muncul lewat penggabungan dua taman satwa ke satu lokasi baru yang lebih luas dan terencana, kawasan Tamansari. Lokasi ini dipilih karena strategis dan sejuk, dekat dengan ruang publik dan fasilitas pendidikan. Pada tahun 1930-an, pembangunan dimulai dan rampung pada 1933, menandai kelahiran kebun binatang yang kita kenal hari ini.
Pada masa Hindia Belanda, taman ini dikenal dengan nama Bandoengsche Zoologisch Park. Dengan dukungan finansial dari Hoogland seorang bankir terpandang, kawasan ini perlahan menjelma menjadi ruang rekreasi dan edukasi bagi masyarakat. salah satu bangunan paling ikonis pada saat itu adalah kandang gajah, yang dikerjakan oleh kontraktor keturunan Tionghoa, Thio Tjoan Tek, sebagai penanda kemegahan kawasan ini pada saat awal pendiriannya.
Namun masa tenang tak berlangsung lama. Saat Jepang menduduki Indonesia, pengelolaan kebun binatang menurun drastis. Tempat ini terbengkalai. Baru pada 1948, setelah perang usai, dilakukan rehabilitasi agar fungsi tempat wisata ini kembali hidup. Tak berselang lama, pada 1956, Raden Ema Bratakusumah menginisiasi pembubaran organisasi lama dan mendirikan Yayasan Margasatwa Tamansari setahun kemudian, demi menjaga keberlanjutan taman ini.
Seiring berjalannya waktu, Kebun Binatang Bandung menghadapi tantangan baru. Pada 1990-an, Pemkot Bandung sempat berencana memindahkannya ke Jatinangor untuk memberi ruang perluasan bagi ITB. Rencana itu urung karena keterbatasan dana. Ironisnya, sebagian kampus ITB kini justru telah berdiri di Jatinangor, sedangkan kebun binatang tetap bertahan di Tamansari.
Tak banyak yang tahu bahwa tempat ini bukan sekadar ruang rekreasi. Ia adalah potongan memori kolektif warga Bandung memori tentang kota, satwa, dan sejarah panjang sebuah taman yang menua bersama zaman.
