
Bandung, Jumat 13 Juni 2025 – Di Tengah ramainya modernisasi dan gempurannya digital, terdapat tempat tersembunyi yang berada di Jalan Garut No 2, Kota Bandung ada sebuah toko yang menawarkan petualangan unik bagi para pencari harta karun intelektual. Lawang Buku, sebuah kata dari bahasa sunda yang artinya adalah ”Lubang” atau tempat keluar masuknya ilmu, informasi. Bukan hanya sekedar toko buku biasa, akan tetapi menjadi labirin yang menyimpan ribuan atau akses lembaran Sejarah, ilmu pengetahuan dan cerita kuno yang sulit ditemukan di rak-rak toko konvesional. Di situlah, para pembaca setia dan para kolektor buku langka dapat menyusuri jejak waktu melalui buku-buku langka dan tua, membiarkan setiap halaman membisikkan kisah dari masa lalu.
Toko buku ini sebelumnya pernah beroperasi di Pasar Kaget Gasibu setiap hari minggu dengan konsep lesehan di tahun 2001, pernah membuka toko fisik di Baltos (Bandung Town Square) dan tutup ketika tahun 2016, yang terakhir di Jalan Garut No.2 dan menetap disana sampai sekarang. Toko ini dijaga oleh Pak Deni yang akrab dipanggil dengan Deni Lawang, beliau pemilik sekaligus penjaga toko ini dari awal berdiri hingga sekarang. Toko ini buka hari Minggu sampai Jumat dan Sabtu tutup, dari pukul 8 pagi hingga 10 malam. Selain bisa membeli buku disini, para pengunjung pun diperbolehkan untuk membaca langsung dengan diiringi lagu-lagu pop indonesia zaman dulu sehingga membuat suasana menjadi lebih tenang.

Terciptanya toko buku ini sangat sederhana sekali, berangkat dari Pak Deni yang hobi membaca buku hingga mencapai bisnis yaitu jual beli buku, beliau pernah menjadi distributor buku dan bekerja sama dengan beberapa penerbit sampai akhirnya beliau berfikir untuk membuka toko buku. Pak Deni menjelaskan bahwa proses pengumpulan buku ini sering kali berawal dari relasi dengan para kolektor. Seiring waktu, komunitas luar justru menjadi magnet bagi buku-buku yang ”datang sendiri”.
”sebenarnya karena sudah lama ya, sudah rentang watunya, jadi pada akhirnya buku tuh kayak nyamperin sendiri” ujar Pak Deni. Beliau menyebutkan bahwa buku-buku itu bisa datang sendiri lewat berbagai jalur.

Namun, yang menarik adalah semakin seringnya masyarakat yang datang secara sukarela untuk menyumbangkan buku. ”Kadang ada yang donasi, nanti kita sortir lagi. Banyak juga yang datang karena pindahan rumah, pindah kos atau yang kuliahnya sudah selesai. Buku-buku itu akhirnya disumbangkan ke sini kalau cocok, ya kita beli” tambahnya.
Selain menjual buku, toko buku ini juga sering mengadakan kegiatan review buku yang diselenggarakan oleh ”Club Buku Laswi” setiap hari Rabu, dari siang hingga sore. Buku-buku yang dibahas umumnya berkaitan dengan isu-isu kontemporer atau tema yang sedang hanya diperbincangkan. Kegiatan ini akan tetap dilaksanakan meskpun jumlah masa yang datang sedikit.

Menurutnya, buku bukan sekedar benda baca, melainkan juga objek koleksi yang menyimpan nilai sejarah dan emosional. Fenomena ini menunjukkan bahwa tempat ”Lawang Buku: ini telah membentok ekosistem literasi yang hidup dan inklusif, ia bukan sekedar tempat jual beli buku, melainkan ruang berbagi ilmu, mencari teman, dan tempat di mana buku-buku lama diberi kehidupan baru, sehingga masyarakat menemukan makna baru dalam melepas dan menerima pengetahuan
