Museum Pos Indonesia Menjaga Sejarah Menyemai Identitas Bangsa

(Bandung, 16 Juni 2025), Di balik bangunan berarsitektur kolonial yang megah di kawasan Jalan Cilaki No.73, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115.  Berdiri tegak Museum Pos Indonesia. Bukan sekadar tempat menyimpan perangko dan benda-benda tua, museum ini adalah penjaga sejarah panjang komunikasi di Nusantara, sejak masa kolonial hingga era digital.

Bersama Ibu Erlin, selaku pengelola Museum Pos Indonesia, membuka kisah panjang berdirinya museum yang kini menjadi bagian penting dari warisan budaya nasional.

“Awalnya museum ini sudah ada sejak tahun 1931,” tutur Ibu Erlin, “namun sempat terbengkalai karena situasi perang di masa kolonial. Barulah di tahun 1983, tepat pada Hari Bhakti Postel tanggal 27 September, museum ini kembali diresmikan dan dibuka untuk umum.”

Tak hanya menyimpan sejarah pos Indonesia, museum ini juga mencerminkan transformasi lembaga pos dari masa ke masa, dari Perum Pos dan Giro hingga menjadi PT. Pos Indonesia (Persero). Namun sejarah pos di Indonesia jauh lebih tua. Kantor pos pertama didirikan pada 1746 di Batavia oleh Gustaf Baron van Imhoff, bangsawan Belanda yang lahir di Jerman. Kini, usia layanan pos di Indonesia telah mendekati tiga abad.

Museum ini memiliki koleksi beragam, terutama perangko dari tahun 1948 hingga 2020 dan ada sebagian perangko yang telah digitalisasi sebagai bentuk upaya untuk pelestarian. Sekitar 140.000 keping perangko menjadi saksi bisu perjalanan bangsa mulai dari Perangko Seri Banteng pasca kemerdekaan, hingga perangko tematik lingkungan hidup yang akan dipamerkan dalam waktu dekat.

“Meski perangko kini jarang digunakan, namun ia tetap menjadi simbol identitas bangsa,” ujar Ibu Erlin. Maka dari itu, penerbitan perangko masih tetap dilakukan, meski dalam jumlah terbatas, untuk kepentingan koleksi dan budaya.

Namun perjalanan menjaga sejarah tentu tidak mudah. Tantangan utama datang dari kesulitan merawat koleksi tua yang membutuhkan perlakuan khusus serta keterbatasan sumber informasi sejarah, yang sebagian besar telah hilang seiring waktu.

“Merawat benda kuno tidak bisa sembarangan. Apalagi perangko yang usianya ratusan tahun,” jelasnya.

Digitalisasi dan pameran edukatif menjadi salah satu upaya Museum Pos Indonesia untuk tetap relevan di era Gen Z dan generasi Alpha. Bahkan, rencananya pada 5 Juli mendatang akan diadakan workshop bersama Prof. Dr. Leli Yulifan dari UPI, yang akan membahas pentingnya museum dalam pelestarian sejarah.

Lebih jauh, Ibu Erlin menyoroti perbedaan pandangan masyarakat Indonesia dan Eropa terhadap museum. “Di Belanda, orang datang ke museum untuk melihat langsung, bukan hanya sekadar foto-foto atau buka QR Code untuk mencari sumber informasi. Mereka benar-benar menghargai sejarah dan budaya,” ujarnya.

Ia berharap ke depan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, bisa lebih terlibat dalam upaya pelestarian budaya dan sejarah.

“Tenaga museum itu harus profesional. Jangan sampai kita jadi pengelola museum tapi tidak tahu isi sejarahnya,” pungkasnya.

Museum Pos Indonesia bukan hanya tempat menyimpan masa lalu. Ia adalah ruang belajar, pengingat identitas, dan jembatan antara sejarah serta masa depan komunikasi bangsa.

Scroll to Top