
Ditengah kawasan hunian modern Kota Baru Parahyangan yang tertata rapi dengan nuansa urban, berdiri sebuah pendopo kayu sederhana yang mengajak kita pulang pada akar budaya, pada suara gamelan, dan pada wangi dupa di sore hari. Tempat
itu bernama Bale Budaya Parahyangan, ruang budaya yang menjadi rumah bagi warisan tradisi Sunda di tengah derasnya arus modernisasi.
Bale Budaya Parahyangan diresmikan pada 20 Agustus 2022 dengan semangat besar melestarikan budaya Sunda dan Nusantara melalui partisipasi masyarakat, bukan sekadar proyek pembangunan formal. Dengan luas sekitar 8.000 meter persegi,
tempat ini dibangun dari niat tulus, bukan sekadar dana besar. Arsitekturnya bergaya joglo, dikelilingi taman dan jalan setapak yang mengarahkan pengunjung pada pengalaman ruang yang meditatif.
Setiap akhir pekan, bale ini dipenuhi suara calung, kawih, dan gelak tawa anak-anak yang belajar tari Jaipong dan musik tradisional. Di malam hari, pendopo menjadi panggung pertunjukan wayang golek, pemutaran film budaya, atau diskusi kebudayaan. Kelas membatik, pelatihan kerajinan, hingga seminar budaya pun rutin diadakan di ruang dalam bale.
Tidak hanya sanggar seni dan komunitas lokal, sekolah, kampus, bahkan komunitas luar kota datang untuk mengisi dan belajar di sini. Bale Budaya telah menjadi ruang temu lintas generasi, lintas profesi, dan lintas nilai.
Yang membuat Bale Budaya Parahyangan istimewa bukan hanya programnya, tetapi juga falsafah pengelolaannya. Semua orang boleh datang. Tidak ada tiket masuk, tidak ada sekat status sosial. Siapapun yang ingin belajar, tampil, atau sekadar duduk mendengar gamelan, akan disambut dengan hangat.
“Budaya bukan milik orang tua saja, dan bukan milik orang Sunda saja. Selama kita hidup di tanah ini, kita punya tanggung jawab untuk menjaganya,” ujar Dedeh, seorang ibu rumah tangga yang rutin mengajak anaknya berlatih angklung di sana.
Bale Budaya Parahyangan bukan benteng budaya, melainkan ladang tempat akar-akar budaya ditanam kembali. Di tengah maraknya digitalisasi, tempat ini menjadi penyeimbang—menawarkan pengalaman nyata dan nilai luhur yang tak bisa diajarkan lewat layar.
Anak-anak yang tumbuh di antara smartphone kini bisa mengenal rebab dan seruling. Remaja yang sibuk dengan TikTok bisa tahu bahwa tari Jaipong adalah ekspresi yang tak kalah kuat. Dan orang tua yang mungkin telah jauh dari budaya bisa menemukan kembali rumah yang mereka lupakan.
Bale Budaya Parahyangan hadir bukan hanya untuk melestarikan, tetapi menghidupkan kembali budaya secara partisipatif. Ia adalah bukti bahwa di balik rumah-rumah modern Kota Baru Parahyangan, masih ada denyut warisan leluhur yang berdetak tidak diam, tidak punah, tapi terus bergerak bersama waktu. Di tempat ini, budaya bukan dipajang. Ia dihirup, diingat, dan diturunkan.
