Menjaga Warisan Seni : Upaya Pelestarian Karinding di Jatinangor

Salah satu alat musik tradisional khas Sunda yang disebut karinding diperkirakan sudah ada sejak 600 tahun yang lalu masih dilestarikan hingga saat ini, dibuktikan dengan naskah kuno dan folklor dari berbagai daerah di priangan timur dan banten yang menjadi bukti sejarah kemunculan nya. Alat musik karinding telah digunakan sejak zaman dahulu oleh masyarakat Sunda di berbagai daerah seperti Lembang, Garut, Tasikmalaya, Sukabumi dan Sumedang. Pada awalnya Masyarakat terdahulu memainkan alat musik karinding  untuk membantu para petani dalam merawat sawah agar terbebas dari hama, kadang kala digunakan untuk mengiringi saat panen padi maupun saat menjemur padi.

Alat musik ini terbuat dari bambu dibentuk sedemikian rupa dengan cara mengiris bagian tengahnya, sehingga terlihat menjulur seperti lidah yang apabila dipukul akan bergetar dan menimbulkan suara. Untuk meperkeras dan mengatur tinggi rendah bunyi yang dihasilkan dengan cara mengatur rongga mulut karena berfungsi sebagai resonator yang mengubah nada.

Terdapat sebuah fenomena menarik dimana alat musik karinding pada awalnya dipakai dalam pemeliharaan pertanian kemudian menjadi sebuah seni pertunjukan yang mengikuti perkembangan zaman. Berdaskan hasil pengamatan pada awalnya alat musik karinding dikenal oleh masyarakat tatar Sunda sebagai alat pemeliharaan pertanian, namun dalam perjalanan nya alat musik karinding mengalami perkembangan menjadi seni pertunjukan yang memberikan gairah bagi para seniman. Para seniman Karinding mengekspresikan nya sehingga alat musik karinding selalu dimainkan sebagai media hiburan.

            Endang Sugriwa atau lebih akrab di sapa Abah Olot dikenal sebagai maestro Karinding di Sumedang terus melestarikan kesenian ini. Beliau tidak hanya membuat Karinding tetapi juga mengajarkan nya kepada banyak orang terkhusus kepada anak-anak muda dari berbagai daerah. Menurut Abah Olot Pada tahun 2012 anak-anak muda yang berdatangan untuk belajar karinding berasal dari daerah Jatinangor, Cimanggung, Rancaekek, Cicalengka. Mereka belajar alat musik Karinding dan melakukan perkembangannya secara konsisten sampai saat ini.

            Sehingga di Jatinangor dalam upaya pelestariannya kesenian Karinding berkembang dengan membentuk sanggar dan komunitas, dengan nama khasnya masing-masing seperti Sanggar Jaga, Sanggar Sekar Wanci, Karinding Tatar, Karinding Kapurba, dan juga ada Komunitas Karinding Jatinangor (KKJ) yang mencakup berbagai sanggar Karinding yang ada di Jatinangor.

            Menurut Dodi selaku ketua KKJ, beliau mengutarakan bahwa kesenian Karinding bisa tampil di berbagai acara seperti khitanan, pernikahan bahkan pada tahun 2019 ketika bulan Ramadhan kesenian ini selalu di tampilkan untuk mengisi kegiatan ngabuburit yang lokasinya di Saung Budaya Sumedang (SABUSU) bersebelahan dengan kampus ITB Jatinangor.

            “Terkadang beberapa orang berdatangan kepada saya untuk mengundang kesenian Karinding agar bisa di tampilkan Ketika ada acara hajat, Khitanan, pernikahan  sebagai bentuk hiburannya.” Kata Dodi. Tidak menutup kemungkinan bahwa kesenian Karinding masih tetap eksis sampai saat ini karena berbagai penampilannya selalu menjadi daya tarik masyarakat setempat.

            Dalam mengikuti perkembangan zaman kesenian Karinding mengalami perubahan genre yang awalnya buhun pada saat ini menjadi lebih kontemporer dikolaborasikan dengan alat musik modern, bahkan di bandung kesenian karinding sering tampil kolaborasi Bersama band Jasad dengan genre metal,

            Menurut Seno salah satu seniman Karinding. “Kesenian karinding pada saat ini kalau di kolaborasikan dengan alat musik modern terdiri dari beberapa alat musik diantaranya ada karinding, celempung renteng, goong tiup, gitar, biola, bass, terompet, suling dan ada penyanyi (seringkali disebut sinden), melakukan kolaborasi seperti ini bukan maksud untuk menghilangkan nilai buhun itu sendiri melainkan ini bagian dari Upaya pelestarian agar tetap hidup di era modernisasi ini.

Scroll to Top