Sejarah Tahu Bungkeng Sumedang

SUMEDANG – Di era serba instan dan viral, satu nama kuliner tetap bertahan tanpa gimik yaitu Tahu Bungkeng. Berdiri sejak 1917, tahu goreng legendaris ini tak hanya jadi ikon kota Sumedang, tapi juga simbol konsistensi rasa yang melewati lebih dari satu abad. Dari dapur sederhana milik keturunan perantau Tiongkok, Tahu Bungkeng membuktikan bahwa resep lama bisa tetap relevan di tengah zaman yang terus berubah.

Industri tahu di Sumedang kini menjamur dan menjadi ciri khas daerah, tetapi hanya sedikit yang tahu bahwa tonggak awalnya dimulai dari sebuah rumah produksi sederhana yang dirintis oleh perantau Tiongkok, Ong Ki No, pada awal 1900-an. Bermodalkan keterampilan mengolah kedelai dan resep turun-temurun dari tanah leluhur, Ong KiNo memperkenalkan tahu goreng yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat lokal.

Namun, nama “Tahu Bungkeng” mulai dikenal publik secara luas setelah usaha ini dikembangkan oleh putranya bernama Ong Bung Keng, pada tahun 1917. Dari sinilah kisah tahu Sumedang sebagai identitas kuliner dimulai. TahuBungkeng bukan hanya bisnis keluarga, tapi juga lambangdedikasi antar generasi dalam menjaga rasa dan kualitas. Padatahun 1958, tongkat estafet pengelolaan diserahkan kepadaOng Yu Kim, anak dari Ong Bung Keng. Di tangannya, produksi tahu tetap dijalankan secara tradisional, tanpamengubah sedikit pun resep maupun metode pembuatan yang diwariskan.

“Ong Kino bikin tahu awalnya tidak untuk jualan tapiawalnya untuk membahagiakan istrinya yang rindu akan makanan tradisional khas Tiongkok sana, lantaran sakingsayangnya ia pun akhirnya membuatkannya,” ungkap EdricWang generasi kelima dari Ong Kino atau anak dari SuryadiUkim pemilik gerai tahu Bungkeng

Keistimewaan Tahu Bungkeng terletak pada teksturnya yang garing di luar dan lembut di dalam, tanpa menggunakan pengawet atau penyedap buatan. Proses produksinya pun masih tradisional, mulai dari pemilihan kedelai, proses penggilingan, perebusan, hingga penggorengan semuanya dilakukan dengan tangan manusia, bukan mesin industri.Meski banyak tahu Sumedang bermunculan di berbagai daerah dengan variasi rasa dan kemasan, pelanggan setia tetap kembali ke Tahu Bungkeng. Sebab bagi mereka, tahu ini bukan sekadar makanan, tapi juga bagian dari nostalgia dan sejarah.

Kini, Tahu Bungkeng bukan hanya milik Sumedang, tapi telah menjadi bagian dari narasi kuliner nasional. Di balik setiap potong tahu yang digoreng, tersimpan jejak perjuangan seorang imigran, semangat keluarga, dan ketekunan dalam mempertahankan warisan budaya. Lebih dari 100 tahun berlalu, namun satu hal tak pernah berubah: rasa yang jujur dan kepercayaan yang terus tumbuh dari generasi ke generasi.

Scroll to Top