Tanjungsari, Sumedang: Aroma Tembakau yang Menghidupi Tradisi dan Ekonomi

Tanjungsari, SUMEDANG — Setiap Selasa dan Sabtu pagi, aroma khas tembakau menyeruak di udara kawasan Pasar Lama Tanjungsari. Di tengah deru aktivitas petani dan pedagang, Pasar Tembakau Tanjungsari menjadi denyut nadi ekonomi rakyat, sekaligus saksi hidup tradisi pertanian tembakau yang telah berusia puluhan tahun.
Pasar yang terletak hanya sepelemparan batu dari Alun-alun Tanjungsari ini tak hanya dikenal secara lokal. Ia diakui sebagai salah satu dari tiga pasar tembakau internasional, sejajar dengan Bremen (Jerman) dan Medan. Setiap pekannya, ratusan petani, tengkulak, dan pembeli dari berbagai penjuru Indonesia bahkan luar negeri, datang untuk melakukan transaksi. Aktivitas jual-beli biasanya memuncak antara pukul 06.00 hingga 11.00 pagi.
“Ini bukan sekadar pasar, ini tempat bertemunya harapan dan hasil kerja keras petani,” ujar Haji Warta, petani tembakau asal Desa Margajaya yang telah 30 tahun menggantungkan hidup dari panen tembakaunya.
Di pasar ini, tiga jenis tembakau utama diperdagangkan: Virginia, Burley, dan Mole. Kualitas tembakau dinilai langsung di tempat, dalam sistem lelang terbuka yang berlangsung cepat dan padat. Harga pun sangat kompetitif, tergantung dari kadar air, aroma, dan warna daun.
Selain pasar lelang, geliat bisnis juga tumbuh di sekitarnya. Salah satunya adalah Gardu Tembakau, sebuah toko yang menyediakan berbagai merek tembakau lokal siap pakai, dari RM Fruity hingga Cowboy Brand. “Pembeli datang bukan cuma dari Sumedang. Banyak dari Bandung, Garut, bahkan Jakarta yang sengaja cari rasa tembakau khas sini,” kata Dudung, pemilik toko tersebut.
Pasar Tembakau Tanjungsari bukan sekadar tempat transaksi, tapi juga ruang pertemuan budaya. Di sana, para petani bertukar kabar, saling berbagi strategi tanam, dan menjaga keberlangsungan warisan tembakau Sumedang yang unik. Meski dihadapkan pada tantangan perubahan iklim, fluktuasi harga, dan tekanan regulasi, pasar ini tetap bertahan sebagai simbol kekuatan lokal.
Dengan nilai ekonomi yang terus tumbuh dan dukungan dari pemerintah daerah yang mulai memberi perhatian lebih serius terhadap sektor agribisnis, Tanjungsari tak hanya menjual tembakau—tetapi juga menjual kisah tentang ketekunan, tradisi, dan harapan yang terus menyala di setiap helai daunnya.

Scroll to Top