Hafidz, Mahasiswa Ushuluddin yang Memutar Masa Depan dari Bengkel Kecil

Di balik kesibukan akademik sebagai mahasiswa semester 8 Jurusan Akidah Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Muhammad Hafidz justru menemukan jalan hidupnya di antara mur, baut, dan suara mesin motor. Bersama temannya, Rizki Purnomo Aji, ia membuka sebuah bengkel sederhana yang diberi nama “Go Fast and Furious”.
Perjalanan itu dimulai pada akhir 2023. Aji, teman sejurusannya, mengajak Hafidz untuk bekerja di bengkel motor. Tanpa latar belakang teknik, Hafidz belajar langsung dari Aji. Kini, mereka menangani semua jenis motor kecuali motor listrik. Dengan jam kerja yang fleksibel namun pastinya melelahkan karena sambil kuliah, Hafidz menuju bengkel setelah jadwal kuliahnya di hari itu sudah selesai ia langsung menuju bengkel Fast and Furious. Kadang rame kadang juga sepi biasanya saat sudah adzan berkumandang mereka bersepakat untuk melaksanakan solat 5 waktu terlebih dahulu, baru melanjutkan kembali pekerjaannya.
Hari – hari besar digunakan untuk istirahat dan libur seperti Idul Fitri dan Idul Adha jadi saling menghargai antar agama. Sistem kerja mereka bukan gaji bulanan, tapi bagi hasil: Aji 60%, Hafidz 40%. Meski begitu, Hafidz tak pernah merasa lebih rendah. “Karena solidaritas tanpa batas. Duduk sama rata, berdiri tanpa raja,” katanya, merujuk pada prinsip kesetaraan yang ia pegang teguh.
Bengkel mereka juga sering jadi tempat nongkrong. Banyak teman datang bukan cuma servis motor, tapi juga sekadar ngobrol. Bahkan anak-anak SMP kadang datang membawa motor rusak tanpa uang. “Saya tetap kerjakan dengan sepenuh hati,” tutur Hafidz. Baginya, bengkel bukan hanya tempat kerja, tapi ladang amal dan persaudaraan.
Harga jasa mereka pun sangat bersahabat. “Kalau kerusakan di bagian CVT, biasanya 25 ribu, dan pengerjaannya cuma 10 menit,” jelasnya. Namun pekerjaan ini bukan tanpa tantangan. Hafidz harus pandai membagi waktu antara kuliah dan bengkel. “Kalau tugas kuliah lagi banyak, harus lebih teliti memanajemen waktu. Capek sih, tapi tetap dilalui,” ucapnya.
Meski bermula dari ruang kecil, mimpi Hafidz besar: membawa bengkel “Go Fast and Furious” ke level internasional. Lebih dari itu, ia ingin menyumbang satu miliar rupiah ke setiap pesantren, dan membangun 100 masjid. “Saya ingin hidup di masa depan tanpa harus memikirkan uang,” katanya lirih, namun penuh keyakinan.
Dari sudut kecil sebuah bengkel di pinggiran kota, Hafidz memutar bukan hanya baut motor tapi juga roda nasib dan arah hidupnya. Dan siapa tahu, dari kunci inggris dan pelumas mesin, kelak lahir perubahan besar yang membawa manfaat untuk banyak orang.

Scroll to Top