Mengabdi Untuk Bumi, Lewat Empati dan Edukasi: Profil Lulu Nailulaz, Sang Pelopor Sedekah Wadah

Hari kian berganti, lingkungan kian tak pasti, di tengah kehidupan masyarakat Urban, sebut saja Lulu Nailulaz, seorang Wanita hebat berumur 29 Tahun yang di tengah arus apatisme pada lingkungan hidup, lulu justru memilih untuk menjadi bagian dari bumi, mengukir arti. Lulu lahir di Garut, tahun 1996, dan berdomisili di Bandung bersama orang tuanya.

Lulu menempuh pendidikan Sarjana pada jurusan Teknik Lingkungan di Intitute Teknologi Bandung, kemudian melanjutkan fokusnya pada program Magister Psikologi dengan bidang kajian Psikologi Sosial. Latar pendidikannya menjadi modal sosial dan kekuatannya dalam menempuh jalan seorang aktivis lingkunhan.

Bermula pada tahun 2018, lulu yang kala itu tengah menjalani masa perkuliahan kemudian ikut pada Forum Indonesia Muda (FIM) dari sinilah lulu memantapkan niat untuk menjadi bagian dari manusia yang empati pada lingkungan hidupnya. Lewat jejaring forum, Lulu yang seorang Mahasiswa Teknik Lingkungan di Intitute Teknologi Bandung, Ia kemudian diajak untuk aktif di gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatka) sebuah program lingkungan hidup dari pemerintah kota Bandung. Dari forum ia tersentuh untuk aktif secara nyata, lewat Kang Pisman ia menjadi lebih berdampk untuk lingkungan. “Anaknya itu memang senang berjejaring di kampus, seringnya memang keluar kampus ketemunya tuh jejaring luar kampus itu seringnya, nah dari situ ketemulah di Forum Indonesia Muda, gabung di FIM lebih banyak lagi ketemu jejaring sosial keaktifasi lagi di itu untuk banyak berkegiatan, tapi lebih luas ada yang sosial ekonomi, kemudian sosial pendidikan nah 2018 ada anak FIM senior gitu, dia tau aktivitas Teteh, nah dia ngajaklah untuk program dari kota Bandung, taula yah, Kang Pisman 2018,” Jelasnya, saat diwawancarai via Google Meet.

Kang Pisman bukanlah akhir, melainkan titik awal untuk terus berkarya, baginya itulah definisi pekerjaan. Lulu dipertemukan dengan orang-orang yang sama-sama empati terhadap lingkungan lewat program kang Pisman, dari Wali Kota Bandung, Almarhum kang Oded.

DARI PASKIBRA, MENJADI CINTA TERHADAP SOSIAL DAN LINGKUNGAN

Kepedulian terhadap lingkungan tidak berakar hanya pada latar akademiknya, Teknik Lingkungan ITB, namun, jiwanya ia telah dapatkan sejak dirinya SMA, sejak bergabung dengan Paskibra kota Bandung. Kala itu, Paskibra mengadakan sebuah kegiatan Bakti Sosial untuk Masyarakat, dari sinilah Lulu tenggelam kepada kesukaannya pada ragam kegiatan sosial.

Setelah dari Paskibra, Lulu kemudian berjejaring, aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Lewat keyakinannya, jika empati lahir karena lingkungan yang mendukung, jika interaksi dengan orang lain menjadi awal terbentuknya gerakan lingkungan. Lulu, sejak menjadi Mahasiswa, aktif dalam proyek lingkungan bersama dosennya, salah satunya pada Isu-isu air limbah. Ia diajak oleh dosennya ikut pada program Rain Garden Project.

“Aku tuh sebenarnya fokus di isu-isu tentang air, karena ya, latar belakang akademik aku kan Teknik Lingkungan, yang memang nyari solusi dari masalah nyata, lewat Engineer gitu, nah waktu kuliah, aku secara khusus suka di isu air limbah, jadi aku memang sebenarnya lebih eligible di isu air, aku juga ikut project diajak sama dosen aku, namanya tuh Rain Garden Project,” Jelasnya.

DARI AKTIVIS MENJADI TRAINEER, DARI TRAINEER MENJADI PSIKOLOG LINGKUNGAN

Tahun 2021 menjadi tonggak penting dalam perjalanan Lulu, ketika ia resmi menjadi trainer Zero Waste Lifestyle di YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi). Di sini, ia tidak hanya mengajarkan praktik ramah lingkungan, tetapi juga menggali lebih dalam mengenai motivasi manusia dalam mengubah perilaku.

Pada 2022, ia bergabung dengan Salman, komunitas yang berbasis di Masjid Salman ITB, untuk mengelola program masjid ramah lingkungan. Menariknya, Lulu tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tapi lebih pada pengondisian manusia menciptakan pola pikir dan kebiasaan baru yang sesuai dengan nilai-nilai keberlanjutan.

“Sehingga akhirnya bukan tentang mencari solusi, tetapi memahami masalah dan melihat pendekatan untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut. Jadi nggak se-exact itu, tapi juga nggak berarti sengampang itu. Soal pendidikan. Kemudian kegiatan sosial. Ini memang antara ini ya, kalau ngomongin soal kegiatan sosial itu, secara tidak langsung memang gak pernah merencanakan akan berkegiatan sosial tapi memang lebih ke arah memaknai setiap orang itu pasti ada dorongan untuk melakukan hal itu cuman ada yang diaktivasi lebih sering kemudian disambut ada yang mungkin jadinya lalu disambut akhirnya tidak terlalu muncul kegiatan sosial jadi saya lebih yakin setiap orang itu pasti punya kegiatan social yang masing-masing pasti ada setidaknya sama satu mau itu sesederhana cuman ngambilin (memfasilitasi) ”jelasnya. Dari sinilah Lulu memilih untuk menempuh pendidikan Magisternya di Jurusan Psikologi, dengan fokus kajian pada Psikologi Lingkungan. Ia mengerti, jika permasalahan lingkungan bukanlah hanya soal mencari solusi, tapi membangun perilaku lewat Edukasi.

MEMBANGUN MINDSET LEWAT EDUKASI, MENCIPTA PERUBAHAN

Bagi Lulu, edukasi bukan sekadar transfer pengetahuan. Ia adalah proses menyelami psikologi manusia, mengenali hambatan-hambatan perilaku, dan menciptakan ruang yang memungkinkan transformasi. Ia menyadari bahwa tantangan terbesar dalam mengelola sampah atau menerapkan gaya hidup nol sampah bukan pada fasilitas, melainkan pada perilaku dan mindset.

Dengan pendekatan psikologi sosial yang ia pelajari, Lulu mampu melihat dinamika kelompok, norma sosial, dan bagaimana intervensi bisa dilakukan secara lebih efektif. Hal inilah yang menjadikan peranannya di berbagai pelatihan dan fasilitasi bukan sekadar penyuluhan biasa, tapi sebagai strategi membangun gerakan akar rumput yang sadar dan mandiri. Lulu pun meniti kariernya sebagai edukator pada kegiatan lingkungan pada tahun 2022 di Bidang Pengkajian dan Penerbitan (BPP) untuk menjadi pengelola program masjid Ramah Lingkungan.

“….ketika tahun 2022 saat teteh di mintai oleh pihak Bidang Pengkajian dan Penerbitan (BPP) untuk mengelola program Masjid Ramah Lingkungan. Tapi disitu ternyata akhirnya melihat bahwa isunya, nah problemnya, itu bukan di infrastruktur ramah lingkungan. Karena itu udah ada. Tapi problemnya adalah pengondisian manusia yang siap untuk mengimplementasikan infrastruktur dalam lingkungannya” Ceritanya.

MENUJU MASA DEPAN LEBIH HIJAU LEWAT PROGRAM SWK

Tahun 2022 pun menjadi permulaan lahirnya program yang menarik, yakni, Sedekah Wadah Kurban (SWK). Pada kala itu menjelang Iduladha, muncul semangat berbagi tak hanya dalam bentuk daging kurban, tapi juga dalam bentuk kesadaran lingkungan. Berawal dari pertanyaan sederhana soal efektivitas penggunaan besek dan keresek, Lulu menggagas gerakan Sedekah Wadah Kurban (SWK) sebagai respons terhadap kebiasaan sekali pakai masyarakat. Menurutnya, pikiran yang menjamur di masyarakat mengenai sekali pakai yang menyebabkan penumpukan sampah, “yang salah itu bukan besek atau kereseknya, tapi pola pikir kita yang terbiasa dengan budaya sekali pakai,” ujarnya. Ia kemudian menginisiasi gerakan mengumpulkan wadah bekas layak pakai dari masyarakat, yang kemudian digunakan untuk mendistribusikan daging kurban.

Di sudut-sudut kampus, di antara lorong komunitas, dan bahkan di teras-teras rumah warga, para relawan itu datang satu per satu. Mereka tak membawa proposal atau janji besar—hanya niat tulus dan semangat mengajak orang berbagi. Tahun pertama pelaksanaan gerakan ini mungkin tak mencatat angka fantastis: hanya 740 wadah kurban terkumpul dari kebutuhan total Masjid Salman ITB. Namun, angka itu menyimpan cerita tentang harapan, kolaborasi, dan kepedulian yang perlahan tumbuh.Lewat metode jemput bola, relawan menyusuri berbagai komunitas, unit kampus, hingga rumah warga. Wadah bekas pun dikumpulkan, dicuci ulang, dipilah satu per satu—sebagian bahkan berasal dari sisa acara kampus. Tak ada yang keberatan; justru dari sana, semangat gotong royong itu terasa nyata.

Memang, angka 33,7% mungkin belum mencukupi kebutuhan keseluruhan. Tapi gerakan ini bukan semata soal angka. Ia adalah bukti bahwa perubahan besar tak selalu dimulai dengan gebrakan megah. Terkadang, ia justru lahir dari tangan-tangan kecil yang bekerja dalam diam, dengan keyakinan bahwa setiap wadah yang dikumpulkan membawa jejak kebaikan yang tak ternilai.

Lebih dari sekadar upaya ramah lingkungan, Sedekah Wadah Kurban (SWK) menjadi cermin kepercayaan masyarakat pada sebuah ide sederhana yang tumbuh menjadi gerakan. Di awal, mungkin sebagian orang hanya ingin mengosongkan lemari dari tumpukan wadah plastik yang tak lagi terpakai. Namun siapa sangka, langkah kecil itu membawa mereka menjadi bagian dari perubahan sistem yang lebih besar. “Mereka percaya, walaupun nggak kenal kita, bahwa wadah itu akan dimanfaatkan dengan baik,” ujar salah satu penggagas, mengenang masa-masa awal gerakan ini dimulai. Kepercayaan yang tumbuh tanpa banyak basa-basi itu menjadi fondasi kuat bagi SWK untuk terus berkembang.

Kini, SWK bukan lagi sekadar program pengumpulan wadah. Ia menjelma menjadi gerakan edukatif dan partisipatif, yang menyatukan nilai-nilai ibadah dengan kepedulian pada bumi. Di setiap wadah yang disedekahkan, tersimpan kisah tentang kesadaran, keikhlasan, dan harapan akan sistem kurban yang lebih berkelanjutan.

Lulu Nailulaz seorang perempuan muda yang tak hanya berbicara soal lingkungan, tapi juga hidup di dalamnya. Dari latar belakang Teknik Lingkungan hingga mendalami Psikologi Sosial, Lulu tak sekadar merancang solusi teknis, tapi juga memahami manusia sebagai kunci perubahan. Baginya, menjaga bumi tak cukup dengan infrastruktur ramah lingkungan perlu cara pandang baru, dan itu dibangun lewat edukasi yang menyentuh.

Lulu adalah contoh nyata bahwa kepedulian bisa dimulai dari pengalaman pribadi dan ketulusan hati. Ia hadir bukan sebagai tokoh besar dengan sorotan publik, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang percaya bahwa perubahan dimulai dari bawah. Ketika ia memulai SWK pada tahun 2022, ia tidak menjanjikan revolusi. Ia hanya mengajukan pertanyaan sederhana tentang kebiasaan dan dari sanalah gerakan tumbuh. Ia menggerakkan relawan, menyambungkan komunitas, dan memfasilitasi kepercayaan masyarakat yang bahkan belum pernah mengenalnya secara langsung.

Sedekah Wadah Kurban bukan hanya gerakan pengumpulan wadah, melainkan cermin dari nilai-nilai yang Lulu bawa sejak lama: empati, ketekunan, dan keberanian untuk peduli.

Dalam setiap langkah kecilnya, Lulu membuktikan bahwa menjadi agen perubahan tidak harus menunggu waktu yang tepat atau posisi yang tinggi. Cukup dengan keberanian untuk memulai, dan keyakinan bahwa bumi layak diperjuangkan ia telah memberi kita teladan, bahwa satu orang bisa membuat dampak yang besar.

Bandung, Juli 2025.

Scroll to Top