Teras Sunda Cibiru ini Ide atau pencetus proyek ini pertama kali dikemukakan oleh Ridwan Kamil (sebelumnya Wali Kota Bandung) pada 21 Agustus 2017.Pembangunan dimulai sekitar tahun 2017 dan lokasi dibangun di atas lahan seluas ± 5.600 m². Peresmian dilaksanakan oleh Oded M. Danial selaku Wali Kota Bandung pada tanggal 31 Oktober 2018.Lalu ada visi dan filosofi dari teras sunda cibiru ini,Teras Sunda Cibiru (TSC) hadir sebagai ruang budaya yang berkomitmen untuk melestarikan budaya Sunda di tengah arus modernisasi yang kian pesat. Visi ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan seni, pertunjukan, dan pembinaan generasi muda agar tetap mencintai akar budaya leluhur.Filosofi bangunan dan konsep TSC terinspirasi dari Tugu Perjuangan Timur, simbol semangat pantang menyerah masyarakat Sunda dalam mempertahankan tanah air. Elemen bambu runcing yang digunakan sebagai simbol kekuatan dan kebersamaan menjadi ciri khas utama. Tidak hanya sebagai hiasan, bambu juga digunakan dalam desain bangunan, mencerminkan kesederhanaan sekaligus keteguhan khas Sunda. Selanjutnya ada nilai dan identitas Sunda Setiap sudut Teras Sunda Cibiru menampilkan nilai-nilai budaya Sunda yang kuat. Bangunannya menggunakan material bambu, bale-bale kayu, dan arsitektur rumah adat Sunda yang menciptakan suasana alami dan hangat. Tempat ini tidak sekadar menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga representasi nyata dari filosofi hidup urang Sunda yang menjunjung tinggi keselarasan dengan alam, gotong royong, dan rasa hormat terhadap leluhur.
Untuk peran utama nya Sebagai wadah budaya, Teras Sunda Cibiru memiliki peran penting dalam memfasilitasi pelestarian sejarah, seni, dan budaya Sunda. Di sinilah para seniman, pelajar, dan masyarakat dapat berinteraksi, berlatih, dan menampilkan karya seni tradisional. Lebih dari sekadar tempat, TSC menjadi jembatan antara generasi muda dan warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.
Fokus pada Pementasan Kesenian Kegiatan utama TSC berfokus pada pementasan kesenian tradisional Sunda, seperti tari, musik, dan bela diri. Setiap minggu, aula TSC menjadi panggung ekspresi bagi para sanggar dan komunitas seni untuk menampilkan hasil latihan mereka. Suasana hangat dan semangat kolaborasi antar-seniman menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.Program rutin Berbagai sanggar dan komunitas aktif berlatih dan berkegiatan di Teras Sunda Cibiru, di antaranya:•Sanggar Amerta – latihan tari Jaipong, khas dengan gerakan enerjik dan penuh ekspresi.• Sanggar Cakanti, Sanggar Wanojayu, dan Sanggar MWS (Pedal Wirahma Sari) – berfokus pada kesenian tari tradisional dan musik Sunda.•Paguron Gelar Pusaka Pusat – latihan silat, seni bela diri tradisional yang memadukan kekuatan fisik dan nilai-nilai kesopanan Sunda. Karate Bandung Club dan Aa Boxer – bagian dari kegiatan bela diri modern yang turut berperan menjaga kebugaran dan disiplin generasi muda.Program-program ini terbuka untuk umum dan sering kali menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin belajar atau sekadar menyaksikan langsung proses latihan para seniman. Daya Tarik dan Suasana Daya tarik utama TSC terletak pada arsitektur bambu dan aula terbukanya yang memberikan kesan alami dan sejuk. Suara gamelan, irama kendang, dan semangat anak-anak berlatih tari menciptakan suasana yang hidup dan otentik. Banyak pengunjung yang datang tidak hanya untuk menonton, tetapi juga untuk merasakan pengalaman budaya yang menenangkan dan membanggakan. Menjaga Eksistensi Budaya Sunda Teras Sunda Cibiru terus berupaya menjaga eksistensi budaya Sunda di tengah perubahan zaman. Melalui kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan pemerintah daerah, TSC menjadi ruang inklusif bagi siapa pun yang ingin mengenal budaya Sunda lebih dekat. Kegiatan festival, lomba seni, hingga pelatihan budaya rutin diadakan untuk memperkuat semangat pelestarian. Harapan ke Depan Harapan besar bagi Teras Sunda Cibiru adalah agar dapat terus berkembang dan maju, baik dari segi fasilitas maupun program. Dengan dukungan renovasi dan penambahan sarana pendukung, diharapkan TSC semakin mampu memfasilitasi kegiatan seni dan budaya secara optimal. Sebagaimana pepatah Sunda mengatakan, “Leuwih hade leungit harta tibatan leungit budaya”lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan budaya.
Penutup Teras Sunda Cibiru bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga simbol hidupnya warisan leluhur yang tetap relevan hingga kini. Di tengah gedung-gedung modern dan hiruk pikuk kota, TSC berdiri kokoh sebagai teras budaya tempat masyarakat bisa kembali merasakan jati diri Sunda sejati.
