Mengunjungi Warisan Ajip Rosidi: Perpustakaan yang Merawat Literasi Sunda

Perpustakaan Ajip Rosidi diresmikan pada 22 Agustus 2015. Gedung tiga lantai berfasad putih itu berdiri di Jalan Garut No. 2, Bandung, menempati lahan seluas kurang lebih 200 meter persegi. Sebagian besar pembangunannya dibiayai dari dana pribadi Ajip Rosidi. Di dalamnya tersimpan ribuan koleksi sastra, sejarah, budaya, dan pengetahuan, dengan khazanah Sunda sebagai poros utama. Namun, sejak kelahirannya, perpustakaan ini tidak pernah diniatkan sebagai monumen personal semata. 

Kebertahanan perpustakaan ini justru terletak pada gagasan dasarnya: pengetahuan tidak boleh berhenti di tangan satu generasi. Ajip Rosidi ingin memastikan bahwa buku-buku yang dikumpulkan seumur hidupnya tidak membatu di ruang privat. Ia harus dibuka, dipakai, diteliti, dan ditafsir ulang oleh generasi berikutnya.

“Kalau disimpan sendiri, tidak akan jadi apa-apa,” kata Melisa, petugas perpustakaan yang sehari-hari menjaga ruang ini. “Tapi ketika dibuka sebagai perpustakaan, akan lahir penelitian baru, pembacaan baru, dan manfaatnya bisa berlanjut. Saya kira demikianlah motivasi besar Pak Ajib.”

Selain koleksi Ajip Rosidi, rak-rak buku perpustakaan juga diisi warisan para sastrawan dan budayawan lain sejawatnya seperti Edi S. Ekadjati, H. Misbach hingga sumbangan dari penerbit-penerbit seperti Pustaka Jaya, Kiblat, Nuansa, dan Yayasan Obor. Bahkan, beberapa koleksi datang dari Perpustakaan Nasional dan lembaga pendidikan. 

Kini, perpustakaan ini menyimpan sekitar 10–20 ribu eksemplar buku, termasuk majalah dan terbitan langka. Beberapa di antaranya berasal dari era kolonial Belanda, bahkan akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Buku-buku semacam ini tidak selalu boleh dipinjam. Kondisi fisik dan kelangkaannya menjadi pertimbangan utama.

Dalam perjalanannya, perpustakaan ini tidak selalu berjalan mulus. Setelah diresmikan, sempat terjadi masa vakum karena ketiadaan petugas tetap. Baru pada 2019, operasional kembali berjalan lebih teratur. Ironisnya, tak lama berselang, pandemi COVID-19 datang. Namun, dalam situasi itu, perpustakaan tidak sepenuhnya tutup. Dengan penyesuaian, ruang baca tetap dibuka bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Pengunjungnya pun tidak selalu banyak. Tidak setiap hari ramai. Menurut keterangan Melissa, dalam sepekan, mungkin hanya dua atau tiga hari ruang ini dipenuhi pembaca. Mayoritas datang untuk keperluan riset: mahasiswa sastra Sunda, sejarah, arkeologi, atau dosen yang merujuk mahasiswanya ke sini. Di sinilah tantangan literasi terasa paling nyata.

Melisa bercerita tentang seorang ibu yang datang ke perpustakaan untuk mencarikan novel Sunda bagi anaknya yang masih SMA. Sang anak diminta membaca karya sastra tertentu. Ketika dihadapkan pada dua versi buku dengan isi yang sama, yang satu tebal, yang satu lebih tipis, jawaban anak itu bisa ditebak: pilih yang paling tipis. “Supaya gampang ngerjainnya,” kata anak itu lewat telepon.

Cerita itu, bagi Melisa, mencerminkan masalah yang lebih besar. Bahwa membaca masih dipersepsikan sebagai beban, bukan kesenangan. Buku identik dengan tugas. Dengan kewajiban. Bukan dengan kenikmatan atau kebutuhan batin. “Tapi ya sudah,” ujarnya pelan. “Yang penting anaknya masih baca.”

Dalam situasi seperti itu, perpustakaan ini tetap bertahan. Bukan sebagai ruang komersial. Tidak agresif mempromosikan diri.

Ajip Rosidi sendiri adalah contoh hidup dari kebertahanan itu. Ia bukan produk pendidikan tinggi formal. Namun karyanya diakui, pemikirannya dipercaya, bahkan pernah mengajar hingga ke Jepang. Ia membuktikan bahwa ketekunan, konsistensi, dan keberanian berpikir dapat membuahkan hasil yang manis. Ia menciptakan bengawan bagi tradisi literasi Sunda. 

Scroll to Top