Keindahan suatu kampung tidak akan bertahan lama tanpa kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungannya. Itulah pelajaran berharga dari kampung Cibunut Sumur Bandung, Bandung. Sebelum menjadi kampung warna-warni yang ramai turis pada 2017, warga sudah lebih dulu berperang melawan sampah sejak 2015. Dua tahun membangun kesadaran itulah yang membuat transformasi fisik mereka bertahan hingga hari ini, dinding warna warni yang menyambut pengunjung sebenarnya baru hadir belakangan.
Perubahan sesungguhnya justru berawal dari hal yang tak sedap dipandang, yaitu sampah. Pada 2015, Tini seorang anggota PKK mempelopori gerakan pemilahan sampah di RW 07. “Awalnya Ibu Tini menyuarakan ide ini ke ibu-ibu PKK, kemudian dibawa ke tingkat RT, dan akhirnya disosialisasikan ke seluruh warga,” jelas Erna, salah satu warga. yang turut aktif dalam gerakan ini. Program yang mengandalkan kesadaran tanpa sanksi ini perlahan menyebar melalui struktur komunitas yang sudah ada. Yang membanggakan, kesadaran ini merasuk ke semua usia. Dari anak-anak sampai orang tua aktif memilah sampah. “Sekarang justru anak-anak yang sering mengingatkan orang tuanya kalau lupa memilah,” tutur Erna.
Sistem pengelolaan sampah pun terbentuk, organik diolah menjadi kompos, sementara non-organik dijual ke bank sampah yang hasil penjualannya dibagikan kepada warga setahun sekali. Tidak ada sanksi bagi yang melanggar, hanya teguran yang ternyata cukup efektif membuat warga semakin disiplin. Dua tahun setelah fondasi kesadaran lingkungan terbangun, pada 2017, bantuan cat dari Dulux memantik ide transformasi visual. Dari 10 RT di RW 07, sembilan RT sepakat mengecat rumah dengan warna berbeda, menciptakan palet cerah yang Instagramable. Satu RT lainnya yang mayoritas warga Tionghoa memilih tidak ikut, namun harmoni tetap terjaga. Hasilnya luar biasa, kampung yang sudah bersih menjadi semakin cantik dan menarik perhatian wisatawan.
Kunjungan wisatawan pun melonjak, dari turis lokal hingga mancanegara seperti Singapura, Korea, dan Filipina. “Warna menarik mereka datang, kebersihan membuat mereka betah,” ujar Erna. Kini Cibunut tidak hanya dikenal sebagai kampung warna-warni, tetapi juga kampung sampah terpilah terbaik se-Bandung. Ekonomi warga pun terdongkrak dengan hadirnya para wisatawan yang kerap membeli produk lokal dan jasa pemandu wisata. Meski begitu, tantangan tetap ada. Sebagian cat mulai mengelupas dan semangat warga perlu terus dijaga. Erna berharap program ini tidak berhenti di RW 07 saja. “Kami tidak ingin sekadar cantik, tapi berkelanjutan. Semoga daerah lain bisa mencontoh, agar terhindar dari banjir dan lingkungan menjadi lebih sehat,” harapnya. Dukungan pemerintah melalui bantuan dana dan perhatian terus diharapkan agar program ini tetap langgeng.
Cibunut membuktikan bahwa perubahan berkelanjutan lahir ketika etika hadir sebelum estetika. Di sini, sembilan warna dinding bercerita tentang keberagaman, sementara budaya pilah sampah mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah bagaimana kampung ini dipandang, tapi bagaimana warganya memandang masa depan. Kampung Cibunut di Bandung menjadi bukti bahwa kesadaran kolektif mampu mengubah lingkungan secara berkelanjutan.
