Citatah selama ini dikenal sebagai kawasan perbukitan kapur yang memikat, tempat berdirinya tebing-tebing monumental yang sering menjadi tujuan para pemanjat. Tetapi di balik panorama geologinya yang megah, Citatah menyimpan kekayaan kuliner yang tak kalah mengakar: peuyeum, makanan fermentasi tradisional khas Sunda yang telah lama menjadi denyut kehidupan masyarakat setempat.Pagi yang Menghangat di Dapur Peuyeum Jam masih menunjukkan pukul enam ketika aroma kayu bakar mulai memenuhi udara di sebuah rumah produksi milik keluarga Enung . Rumah panggung sederhana itu berdiri di tepi jalan desa, dikelilingi kebun singkong milik tetangga.
Asap tipis dari tungku tradisional terus membubung, seolah menandai dimulainya proses panjang yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Di dalam dapur, singkong-singkong putih tersusun rapi. Air mendidih menggelegak pelan di kukusan besar. Ibu Enung bekerja dengan tenang namun cekatan; gerakannya memperlihatkan bahwa ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari jati dirinya. “Tiap subuh abdi tos ngamimitian. Singkong didangukeun ulah teuing asak, ulah teuing mentah. Kudu nyaruaan,” jelasnya sambil mengusap keringat.Ia bercerita bahwa membuat peuyeum bukan pekerjaan yang bisa diburu-buru. Ada proses, ritme, dan “rasa tangan” yang hanya didapat dari pengalaman bertahun-tahun.“Kalau singkongna teu sarek, peuyeumna moal lembut. Ieu anu ngabédakeun antara peuyeum Citatah jeung nu sanes,” tambahnya.
Warisan Turun-Temurun yang Tetap Bertahan Keluarga Ibu Enung bukan satu-satunya yang mempertahankan tradisi ini. Banyak warga Citatah yang sejak kecil sudah akrab dengan proses pembuatan peuyeum. Anak-anak tumbuh melihat orang tua mereka memarut, merebus, menabur ragi, hingga menggantung peuyeum yang sudah matang di beranda rumah.Asep , putra sulung Enung, menjadi salah satu generasi muda yang memilih melanjutkan usaha keluarga. “Sakolah mah lulus SMA, tapi abdi milih ngabantu di imah. Aya rasa bangga nyieun produk nu jadi ciri tempat sorangan,” katanya.Namun Asep tidak sekadar mempertahankan, ia juga berinovasi. Ia belajar membuat konten sederhana untuk mempromosikan peuyeum di media sosial. Menurutnya, pemasaran digital adalah kunci agar peuyeum tetap dikenal generasi muda.“Ayeuna mah jaman online. Aya nu pesen via marketplace. Lamun urang teu adaptasi, moal maju,” ujarnya.Ruang Ekonomi di Tengah Objek Wisata Jalan Raya Citatah yang menghubungkan Padalarang dan Cikalong Wetan selalu dipadati kendaraan, terutama akhir pekan. Arus wisatawan menuju Goa Pawon, Stone Garden, atau kawasan panjat tebing menjadi berkah bagi pedagang peuyeum lokal. Di sepanjang jalan, kios-kios kayu berdiri dengan tampilan khas: barisan peuyeum tergantung seperti hiasan tradisional.
Wati , salah satu pedagang yang sudah 10 tahun berjualan di pinggir jalan, merasakan betul peran wisatawan terhadap hidupnya. “Sabtu Minggu mah rame, alhamdulillah. Sering aya nu eureun kusabab hayang nyobaan peuyeum ti sumberna langsung,” katanya sambil merapikan dagangan. Wati bercerita bahwa banyak pembeli yang mengaku lebih suka peuyeum Citatah karena rasanya lebih legit, teksturnya lembut, dan aroma raginya tidak terlalu menyengat.
Selain itu, ekonomi peuyeum ternyata memicu rantai pendapatan lain: petani singkong, pengrajin ragi lokal, hingga produsen kemasan sederhana.Tantangan yang Menghampiri Pengrajin Lokal Meski tetap diminati, peuyeum Citatah tidak sepenuhnya berada di jalur mulus. Para pembuatnya menghadapi tantangan, mulai dari naiknya harga singkong hingga minimnya keterlibatan generasi muda. “Kadang singkong jadi mahal. Upami panénna sae, alhamdulillah. Upami teu, modalna kedah langkung ageung,” ungkap Enung.Di sisi lain, modernisasi membuat banyak anak muda lebih memilih pekerjaan di kota daripada meneruskan tradisi keluarga. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para pengrajin senior.Asep pun merasakan dilema itu. “Bener loba nu pindah kerja ka kota. Padahal peuyeum masih bisa jadi usaha yang stabil. Tinggal cara jualanna nu kudu dimodernkeun,” katanya.Ia berharap ada pelatihan dari pemerintah daerah terkait pengemasan, higienitas, dan pemasaran digital agar peuyeum bisa memiliki nilai jual lebih tinggi.
Aroma yang Mengikat WaktuSore hari, setelah proses fermentasi 2–3 hari, peuyeum matang digantung di depan rumah. Warnanya cerah, teksturnya lembut bila disentuh, dan aromanya khas manis, sedikit asam, dan menggoda. Pemandangan ini tidak hanya menyenangkan mata, tetapi juga menjadi simbol keajegan budaya masyarakat Citatah.Meski Citatah kini berubah menjadi kawasan wisata dan industri kecil, peuyeum tetap hadir sebagai penanda identitas mengikat generasi masa lalu dengan masa kini, dan menjadi harapan bagi masa depan. “Peuyeum teh lain sekadar kadaharan. Ieu warisan. Mun urang teu ngajaga, saha deui?” kata Enung menutup pembicaraan’’Dan benar, di tengah gemuruh kendaraan, hiruk pikuk wisatawan, serta debu batu kapur yang beterbangan, aroma peuyeum yang hangat tetap menjadi rumah bagi banyak warga Citatah rumah dari tradisi yang tak pernah padam.
