Sehari menjelang Lebaran sekarang terasa berbeda. Dulu, suasana rumah ramai oleh aroma masakan, suara orang keluar-masuk dapur, dan kesibukan menyiapkan hantaran untuk dikirim ke rumah saudara atau tetangga yang lebih tua. Anak-anak biasanya ikut mengantar, sambil membawa wadah opor, sambal goreng, atau kue kering dengan hati-hati. Sekarang, pemandangan seperti itu mulai jarang terlihat. Sebagai gantinya, ponsel justru lebih sibuk: notifikasi ucapan “mohon maaf lahir batin” berdatangan sejak subuh, lengkap dengan stiker, template, dan pesan berantai.
Perubahan ini memang terlihat wajar di tengah kehidupan yang semakin digital. Namun, menurut saya, memudarnya tradisi nganteran bukan sekadar perubahan gaya hidup biasa. Ini adalah tanda bahwa ada nilai sosial yang perlahan ikut memudar: rasa hormat, perhatian, dan kehangatan hubungan antarkeluarga. Karena itu, tradisi nganteran masih penting untuk dijaga, bukan karena kita anti-perkembangan zaman, tetapi karena ada makna manusiawi yang tidak bisa digantikan oleh pesan singkat di layar.
Alasan pertama, nganteran bukan hanya soal makanan, melainkan soal makna. Banyak orang mungkin melihat tradisi ini sebagai kebiasaan lama yang merepotkan: masak lebih banyak, menyiapkan wadah, lalu mengantar dari rumah ke rumah. Padahal, inti dari nganteran bukan pada lauk yang dibawa, melainkan pada pesan yang disampaikan: kami ingat, kami hormat, dan kami ingin tetap dekat. Ketika seseorang datang langsung ke rumah orang tua, paman, bibi, atau tetangga yang dituakan, ada pengakuan bahwa hubungan itu penting dan layak dirawat.
Di situlah nilai yang sering hilang ketika semuanya diganti dengan komunikasi instan. Sebuah pesan WhatsApp bisa dikirim ke puluhan orang hanya dalam beberapa detik. Praktis, memang. Tapi justru karena terlalu mudah, maknanya sering terasa tipis. Berbeda dengan datang langsung, mengetuk pintu, mengucap salam, lalu menyerahkan makanan dengan senyum dan obrolan singkat. Tindakan sederhana itu memberi rasa hangat yang jauh lebih membekas. Bagi orang yang menerima, terutama yang sudah lanjut usia, kedatangan keluarga sering kali lebih berarti daripada isi hantarannya sendiri.
Alasan kedua, silaturahmi digital tidak selalu mampu menggantikan kehadiran fisik. Kita memang tidak bisa menolak bahwa teknologi sangat membantu. Jarak yang jauh, kesibukan pekerjaan, atau kondisi tertentu membuat komunikasi lewat ponsel menjadi solusi yang masuk akal. Masalahnya, belakangan ini teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi sering dijadikan pengganti total. Akibatnya, hubungan yang seharusnya hangat berubah menjadi serba formal dan instan.
Coba perhatikan kebiasaan saat Lebaran sekarang. Banyak orang mengirim pesan yang sama ke seluruh kontak: satu teks, satu gambar, satu klik, selesai. Tidak salah, tetapi terasa sangat berbeda dengan duduk lima belas menit di rumah saudara sambil bertanya kabar, mendengar cerita, atau sekadar melihat kondisi mereka secara langsung. Tatap muka memberi ruang untuk sesuatu yang tidak bisa dibawa oleh emoji: ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh, dan rasa sungguh-sungguh. Dalam hubungan keluarga, hal-hal seperti itu justru yang membuat ikatan tetap hidup.
Alasan ketiga, hilangnya tradisi nganteran bisa memperlebar jarak emosional antaranggota keluarga. Modernisasi memang membuat hidup lebih cepat, tetapi juga lebih individual. Banyak orang tinggal jauh dari keluarga besar, sibuk dengan pekerjaan, atau merasa cukup menjaga hubungan lewat grup keluarga. Lama-lama, kedekatan itu hanya terasa di ruang digital, bukan dalam kehidupan nyata. Kita tahu kabar saudara dari status media sosial, tetapi jarang benar-benar bertemu. Kita memberi tanda “like”, tetapi tidak lagi tahu bagaimana kondisi mereka yang sebenarnya.
Tradisi nganteran sebenarnya berfungsi sebagai penahan dari kecenderungan itu. Ia memaksa kita untuk berhenti sejenak dari ritme yang serba cepat, lalu mengingat bahwa hubungan keluarga tidak bisa dirawat hanya dengan koneksi internet. Ada ikatan yang butuh waktu, tenaga, dan kehadiran. Bahkan kunjungan singkat pun bisa menjadi penanda bahwa seseorang masih dianggap penting. Tanpa kebiasaan seperti ini, relasi keluarga berisiko berubah menjadi sekadar daftar nama di kontak ponsel: ada, tetapi jauh; dekat secara digital, tetapi dingin secara emosional.
Alasan keempat, tradisi nganteran sebenarnya masih bisa dipertahankan dengan cara yang lebih relevan dengan zaman sekarang. Banyak orang beranggapan bahwa menjaga tradisi berarti harus sama persis seperti dulu. Padahal, yang paling penting adalah rohnya, bukan bentuk luarnya yang kaku. Jika tidak sempat memasak banyak, tidak harus mengantar satu rantang besar. Mungkin cukup sepiring kecil makanan buatan rumah, atau beberapa kotak camilan yang disiapkan sederhana. Jika rumah saudara jauh, tradisi itu bisa dimulai dari lingkar terdekat: kakek-nenek, paman-bibi yang masih satu kota, atau tetangga sepuh di sekitar rumah.
Generasi muda juga bisa mengambil peran besar di sini. Justru anak muda yang akrab dengan teknologi perlu menunjukkan bahwa modern bukan berarti tercerabut dari akar budaya. Mengunggah ucapan Lebaran di media sosial boleh saja, tetapi akan jauh lebih bermakna jika disertai tindakan nyata. Misalnya, membantu orang tua menyiapkan hantaran, mengantar sendiri ke rumah kerabat, atau menyempatkan mampir walau hanya sebentar. Dari situ, anak-anak dan remaja belajar bahwa menghormati orang tua tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi juga lewat tindakan.
Pada akhirnya, yang sedang kita jaga dari tradisi nganteran bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan kualitas hubungan antarmanusia. Lebaran seharusnya menjadi momen untuk kembali mendekat, bukan hanya ramai di notifikasi. Kita boleh hidup di era digital, tetapi jangan sampai kehilangan kebiasaan yang membuat keluarga tetap terasa hangat. Jika semua hal digantikan oleh layar, maka yang tersisa mungkin hanya komunikasi, bukan kedekatan.
Karena itu, saya percaya tradisi nganteran tidak seharusnya dibiarkan hilang pelan-pelan. Tradisi ini layak dipertahankan, meski mungkin dalam bentuk yang lebih sederhana dan menyesuaikan zaman. Setidaknya, dari kebiasaan kecil itulah kita belajar bahwa hadir secara langsung masih punya arti besar. Di tengah dunia yang serba cepat, mungkin yang paling dibutuhkan justru bukan pesan yang lebih banyak, melainkan langkah kaki yang mau mendekat. Lebaran akan terasa lebih utuh ketika silaturahmi tidak berhenti di layar, tetapi benar-benar sampai ke depan pintu rumah orang-orang yang kita sayangi.
