Coba ingat kapan terakhir kali kamu melihat anak kecil duduk diam dengan buku di tangan, bukan layar, tapi buku. Susah mengingatnya, bukan? Bukan karena anak-anak sekarang bodoh atau malas. Tapi karena ada yang jauh lebih mudah menggoda perhatian mereka, sesuatu yang menyala, bergerak, dan tidak pernah berhenti menawarkan hal baru.
Membaca perlahan kehilangan tempat dalam keseharian anak-anak, tergeser oleh gawai yang menawarkan sesuatu yang lebih cepat dan lebih menarik. Perubahan ini membawa dampak besar pada tumbuh kembang mereka.
Rendahnya budaya membaca di Indonesia bukan lagi sekadar asumsi. Berbagai kajian internasional menunjukkan hal yang sama, hasil PISA dari OECD memperlihatkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata1, sementara UNESCO juga berulang kali menyoroti rendahnya minat baca masyarakat kita2. Data ini memperlihatkan bahwa membaca memang belum menjadi kebiasaan yang kuat. Dan yang lebih mengkhawatirkan, tren ini tidak membaik dari tahun ke tahun.
Sayangnya, persoalan itu tidak berhenti pada angka. Faktanya, tidak sedikit anak-anak yang sekarang lebih akrab dengan gawai. dengan menawarkan hiburan instan, dan menarik membuat mereka cenderung pasif dan kurang reflektif. Banyak orang tua yang resah karena gawai membuat anak lebih mudah bosan, kurang sabar, dan sulit fokus. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi cara anak menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, bahkan berinteraksi dengan orang lain.
Sebaliknya, membaca justru melatih semua itu secara diam-diam. Ketika anak merasakan kesedihan tokoh dalam cerita, ia sedang belajar memahami perasaan orang lain. Ketika ia membayangkan seperti apa hutan dalam dongeng, ia sedang melatih imajinasinya. Anak yang terbiasa dibacakan buku cenderung memiliki kosakata yang lebih kaya, kemampuan komunikasi yang lebih baik, serta empati yang lebih tinggi, modal yang tidak bisa diukur lewat nilai ujian, tapi terasa jelas dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa anak yang rajin membaca sejak dini cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik, bukan semata karena mereka lebih pintar, tapi karena mereka terbiasa memahami teks, mengikuti alur berpikir, dan menyerap informasi dengan proses yang lebih efektif.
Yang sering luput dari perhatian adalah bahwa membaca juga melatih anak untuk duduk dengan ketidaknyamanan. Buku tidak bisa di-skip. Cerita butuh waktu untuk berkembang. Dan justru di situlah latihannya, belajar sabar, belajar fokus, belajar bahwa tidak semua hal datang instan. Ini bukan soal kuno atau ketinggalan zaman. Ini soal kemampuan yang semakin langka di generasi yang tumbuh dengan konten tiga detik, kemampuan untuk bertahan dalam satu hal cukup lama sampai sesuatu yang bermakna muncul dari sana.
Memang, ada yang berpendapat bahwa gawai pun punya potensi dalam mendukung minat baca. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa e-book dan audiobook yang interaktif bisa meningkatkan minat baca anak3, dan media digital dapat membantu kemampuan literasi jika digunakan dengan pendampingan yang tepat4. Tetapi, pengalaman membaca lewat layar tetap berbeda dengan membaca buku cetak. Interaksi fisik dengan buku, seperti membalik halaman dan membayangkan cerita secara lebih mendalam, memberikan keterlibatan emosional dan fokus yang lebih kuat. Layar selalu menyimpan godaan lain di baliknya, satu konten, satu aplikasi, satu tab baru. Buku tidak. Buku hanya menawarkan satu hal, cerita yang menunggu untuk diselesaikan. Dan dalam kesederhanaan itu, ada kedalaman yang tidak bisa ditandingi oleh layar mana pun.
Situasi ini tidak bisa dianggap sepele. Membaca seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tuntutan akademik, melainkan sebagai kebutuhan dalam pembentukan karakter anak. Anak yang terbiasa membaca tumbuh menjadi orang yang lebih kritis, lebih peka, dan lebih mampu memahami dunia di sekitarnya. Dan tanggung jawab untuk membangun kebiasaan itu tidak bisa jatuh ke satu pihak saja.
Di rumah, orang tua adalah teladan pertama. Anak yang melihat orang tuanya membaca akan jauh lebih mudah tertarik untuk ikut membaca, bukan karena disuruh, tapi karena meniru. Membiasakan 15 sampai 20 menit membaca bersama sebelum tidur, memilihkan buku sesuai minat anak, atau sekadar meletakkan buku di tempat yang mudah dijangkau adalah langkah kecil yang dampaknya bisa sangat besar. Orang tua yang rutin mengajak anak ke toko buku atau perpustakaan pun secara tidak langsung menanamkan pesan bahwa buku adalah sesuatu yang layak dicari, bukan sekadar kewajiban sekolah. Anak tidak butuh perpustakaan mewah atau koleksi buku yang menumpuk sampai langit-langit. Ia hanya butuh melihat orang dewasa di sekitarnya memperlakukan buku sebagai teman, bukan pajangan.
Di sekolah, guru punya peran yang sama pentingnya. Bukan dengan mewajibkan laporan buku setiap minggu yang justru membuat membaca terasa seperti beban, tapi dengan menghadirkan cerita sebagai bagian dari kelas yang hidup, didiskusikan, diperdebatkan, dan dihubungkan dengan kehidupan nyata anak. Guru yang sesekali membacakan cerita dengan ekspresif di depan kelas, atau memberi ruang bagi murid untuk berbagi buku favorit mereka, bisa mengubah cara anak memandang membaca, dari tugas menjadi kesenangan. Kadang yang dibutuhkan hanya satu guru yang benar-benar antusias soal buku untuk mengubah cara pandang satu anak seumur hidupnya. Satu guru yang membuat membaca terasa seperti petualangan, bukan pekerjaan rumah.
Bisa dimulai dari langkah kecil, seperti satu cerita, satu buku, satu malam untuk anak. Karena kebiasaan membaca tumbuh dari momen kecil yang diulang terus-menerus. Dan momen itu, kita yang harus menciptakannya, sebelum buku benar-benar jadi benda asing di mata mereka, dan sebelum terlambat.
Sebab pada akhirnya, anak yang suka membaca bukan terlahir begitu saja. Ia dibentuk, oleh orang tua yang memilihkan buku sebelum mainan, oleh guru yang membaca dengan semangat, oleh lingkungan yang percaya bahwa duduk diam dengan sebuah cerita adalah hal yang berharga.
- TheGlobalEconomy.com. (2024). Indonesia: PISA reading scores. https://www.theglobaleconomy.com/Indonesia/pisa_reading_scores/ ↩︎
- Winanto, A. (2025, Februari 15). Minat baca masyarakat Indonesia di posisi mengkhawatirkan, peringkat kedua dari bawah dunia. Suara.com. https://www.suara.com/foto/2025/02/15/070000/minat-baca-masyarakat-indonesia-di-posisi-mengkhawatirkan-peringkat-kedua-dari-bawah-dunia ↩︎
- Hardianti, I. et al. (2025). Buku Cerita Digital Interaktif sebagai Media Pembelajaran dalam Meningkatkan Literasi Baca-Tulis Anak Usia Dini. Ceria (Cerdas Energik Responsif Inovatif Adaptif). 8(1). 8-16. ↩︎
- Anggraini, Y. (2020). Pemanfaatan Gadget dalam Meningkatkan Minat Baca Anak di Keluarga. Jurnal Perpustakaan Universitas Airlangga. 10(2). 138-147. ↩︎
