Sinetron Beri Cinta Waktu tayang perdana di SCTV pada 16 Oktober 2025, disutradarai oleh Anika Marani dan dibintangi oleh Zara Adhisty, Yesaya Abraham, dan Rayn Wijaya. Episode perdana Beri Cinta Waktu dibuka dengan kehidupan Adila (Adhisty Zara) yang hancur dalam sekejap menyusul meninggalnya Kamal (Abirama Putra), adik kesayangannya, dalam sebuah kecelakaan tragis. Peristiwa nahas itu membuat Adila terjerat dalam rasa bersalah yang tak kunjung reda ia harus bergulat dengan kehilangan, luka batin yang mendalam, serta beban keluarga yang terus meremas kehidupannya.
Adila menjadi tokoh yang begitu memikat karena diperankan oleh Adhisty Zara dalam debut sinetron pertamanya. Sebagai pendatang baru di dunia sinetron, Adhisty membawa energi segar dan naturalitas yang jarang ditemukan. Penonton tentunya cenderung lebih mudah terpikat pada wajah-wajah baru. Keterbatasan pengalaman justru menjadi kelebihan Zara membawa kepolosan dan ketulusan yang persis seperti karakter Adila sendiri. Tidak ada kesan acting yang berlebihan, sehingga setiap ekspresi duka, kebingungan, dan ketegaran Adila terasa autentik. Inilah mengapa penonton tidak hanya menonton, tetapi merasakan apa yang dialami Adila.
Karakter Trian yang diperankan oleh Yesaya tidak kalah memikat hati para penonton khususnya kalangan Wanita karena ia merepresentasikan konstruksi laki-laki ideal yang jarang ditemukan di dunia nyata. Trian digambarkan sebagai sosok yang setia, hadir tepat saat Adila paling membutuhkan, tidak pernah memaksa, dan selalu mengutamakan kebahagiaan orang yang dicintai di atas kepentingannya sendiri, bahkan ketika ia tahu hatinya hancur..
Selanjutnya Rayn Wijaya membawakan karakter Rama, dengan karisma yang membuat penonton sulit membenci sepenuhnya ada rasa penyesalan di matanya, ada getar suara yang menunjukkan bahwa ia pun terluka. Namun di sisi lain, sebagai pihak yang membatalkan pernikahan apalagi jika alasannya terkait pengkhianatan atau ketidaksiapan yang disembunyikan sejak awal Rama otomatis ditempatkan sebagai antagonis dalam narasi emosional penonton yang sudah terlanjur bersimpati pada Adila.
Fenomena kesedihan ini disebabkan oleh kematian karakter Adila (yang diperankan Adhisty Zara) merupakan potret nyata bagaimana kekuatan narasi audiovisual mampu melawan batas antara fiksi dan realitas. Kesedihan ini tentunya dialami oleh diri saya sendiri sebagai penonton sinetron Beri Cinta Waktu, tidak bisa dipungkiri hal ini membawa pengaruh besar, contohnya seperti menangis setiap waktu, sekalipun ini hanya fiksi tetapi rasanya sulit sekali untuk mengendalikan rasa sedih itu.
Alasan mengapa hal ini terjadi berkaitan erat dengan fungsi katarsis emosional. Sinetron sering kali menjadi pelarian bagi penonton dari stres kehidupan nyata ketika karakter favorit mengalami tragedi, penonton menggunakan momen tersebut untuk melepaskan beban emosi mereka sendiri. Selain itu, algoritma media sosial (TikTok, X, Instagram) memperkuat fenomena ini dengan menciptakan ruang. Saat seseorang melihat ribuan orang lain merasakan duka yang sama, emosi tersebut tervalidasi, menciptakan gelombang duka kolektif yang terlihat sangat masif secara digital.
Ini tentu saja dapat dibuktikan melalui data keterlibatan di media sosial. Kita bisa melihat tren tagar, jumlah unggahan video “menangis” di TikTok, hingga komentar yang membanjiri akun resmi stasiun televisi SCTV. Informasi yang didapat melalui akun milik Adhisty Zara, ia menyatakan bahwa kesehatannya menurun dan tidak bisa melakukan syuting lagi pada waktu dekat ini. Secara psikologis, riset mengenai Parasocial Interaction (PSI) sudah lama membuktikan bahwa manusia dapat mengembangkan hubungan satu arah dengan tokoh fiksi yang memicu reaksi duka yang mirip dengan kehilangan teman di dunia nyata. Faktanya penonton sampai mendoakan kesembuhan aktrisnya (bukan sekadar karakternya) menunjukkan adanya percampuran antara peran dan realitas individu di mata publik.
Di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan konsekuensi negatif berupa munculnya hujatan terhadap aktris yang memerankan karakter tersebut. Ketika batas antara fiksi dan realitas semakin kabur, sebagian penonton tidak hanya merasakan duka, tetapi juga mengalihkan kekecewaan mereka kepada individu nyata di balik karakter. Aktris dianggap tidak bertanggung jawab atas alur cerita yang sebenarnya ditentukan oleh penulis naskah dan tim produksi, sehingga muncul komentar negatif, tuduhan, hingga serangan personal di media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ikatan parasosial yang terlalu kuat dapat berubah menjadi bentuk over identification, di mana emosi penonton tidak lagi terkontrol secara rasional. Alih-alih melihatnya sebagai bagian dari konstruksi naratif, sebagian netizen memproyeksikan kemarahan mereka kepada aktris, bahkan ketika ia sedang mengalami penurunan kesehatan. Ini menunjukkan paradoks budaya digital yaitu kedekatan emosional yang dibangun oleh industri hiburan mampu menciptakan empati kolektif, tetapi sekaligus juga memicu perilaku toksik akibat anonimitas dan efek disinhibisi online, di mana individu lebih mudah mengekspresikan kritik ekstrem tanpa mempertimbangkan dampak psikologis terhadap figur publik yang menjadi sasaran.
Hal ini merupakan cermin dari kerinduan publik akan narasi yang humanis dan ruang untuk berempati. Penonton tidak hanya menangis untuk Adila, tetapi juga untuk pengalaman pribadi mereka tentang kehilangan, kegagalan, atau rasa sakit yang selama ini tidak tersalurkan. Dalam konteks masyarakat digital yang cenderung individualistis dan terfragmentasi, momen seperti ini secara ironis justru merekatkan kembali ikatan sosial meskipun bersifat sementara dan virtual. Dengan kata lain, tangisan di kolom komentar bukanlah sekadar histeris massal, melainkan bentuk budaya baru di mana kesedihan publik menjadi ritual yang mengukuhkan rasa kebersamaan. Industri kreatif, disadari atau tidak, telah memanfaatkan celah psikologis ini untuk membangun loyalitas penonton yang sangat dalam, namun sekaligus juga membuka pintu bagi ledakan emosi kolektif yang sulit dikendalikan.
