PUSH RANK ATAU PUSH PELECEHAN? REALITAS GAMER PEREMPUAN DI GAME MOBILE LEGENDS

Game online seperti Mobile Legends seharusnya menjadi tempat untuk melepas penat, bekerja sama dalam tim, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Tetapi pengalaman pribadi menunjukkan hal-hal yang jauh dari ideal tersebut. Di balik keseruan permainan, ditemukan fakta bahwa ruang digital ini sering menjadi lokasi pelecehan verbal, terutama terhadap pemain perempuan. Tidak jarang, fitur chat teks atau chat suara yang seharusnya digunakan untuk berkomunikasi dengan tim berubah menjadi tempat yang tidak nyaman, bahkan cenderung merendahkan. Karena itu, pandangan bahwa perilaku tersebut hanyalah candaan dalam game sulit untuk dibenarkan.

Fenomena ini bukan sekadar pengalaman pribadi, melainkan didukung oleh data yang menunjukkan bahwa persoalan ini bersifat luas dan sistematis. Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2024 mencatat 3.166 kasus kekerasan seksual, termasuk pelecehan verbal, dengan korban terbanyak berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Hal ini selaras dengan demografi pemain game online yang didominasi usia muda. Selain itu, survei Bryter terhadap lebih dari 1.900 gamer di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan bahwa 59% pemain perempuan pernah mengalami perilaku toksik dari pemain laki-laki, dan 28% di antaranya mengalaminya secara sangat sering atau cukup sering saat bermain.. Angka-angka ini menegaskan bahwa ruang digital, termasuk game online, masih belum sepenuhnya aman bagi perempuan.

Dalam praktiknya, bentuk pelecehan tersebut sering kali hadir melalui bahasa yang dianggap “biasa”, tetapi sebenarnya bermasalah. Dalam beberapa pengalaman bermain, penulis kerap menerima komentar seperti “wah ada cewek, LC nih?”, atau candaan yang lebih vulgar seperti, “modal desah aja biar rank naik”. Tidak jarang pula muncul suara desahan yang sengaja dibuat oleh pemain lain, atau kalimat bernuansa seksual yang mengarah pada tubuh dan identitas perempuan. Ucapan-ucapan ini sering dianggap humor, padahal jika dikaji lebih dalam, jelas termasuk pelecehan seksual verbal yang merendahkan martabat.

Pengalaman tersebut meninggalkan dampak emosional yang kuat, bukan hanya peristiwa singkat. Sepanjang permainan, penulis sendiri menjadi target komentar. Setiap kesalahan kecil yang dilakukan langsung dikaitkan dengan stereotip seperti “makanya jangan bawa cewek, pasti beban”, yang membuat korban sibuk menahan emosi dan rasa tidak nyaman daripada berkonsentrasi pada permainan. Dalam keadaan seperti ini, sulit untuk merasa dihargai sebagai pemain karena identitas gender lebih diutamakan daripada kemampuan.

Dampak dari kondisi ini juga telah banyak dibahas dalam kajian ilmiah. Dalam Jurnal Psikologi Wijaya Putra, Nafisah dkk. (2021) menjelaskan bahwa verbal abuse yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan penurunan kepercayaan diri, kecemasan, hingga tekanan emosional yang berkepanjangan. Sementara itu, dalam kajian oleh Wulandari dan Krisnani (2021) dijelaskan bahwa pelecehan verbal memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental korban, termasuk perasaan tidak aman, rendah diri, dan gangguan emosional.

Lebih spesifik lagi, penelitian yang dimuat dalam kajian tentang perilaku komunikasi dalam game online menunjukkan bahwa korban verbal abuse dalam Mobile Legends sering mengalami perubahan suasana hati seperti sakit hati, marah, hingga enggan untuk kembali bermain. Hal ini menunjukkan bahwa pelecehan verbal bukan hanya persoalan komunikasi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis individu. Selain itu, dalam kajian lain juga dijelaskan bahwa kekerasan verbal kerap dianggap sepele karena tidak menimbulkan luka fisik, padahal dampak mentalnya bisa jauh lebih lama dan membekas.

Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari faktor sosial-budaya. Budaya patriarki yang masih kuat terbawa ke dalam ruang digital, sehingga perempuan kerap diposisikan sebagai objek candaan atau dianggap tidak kompeten. Ditambah dengan anonimitas dalam game, banyak pemain merasa bebas berkata kasar tanpa takut konsekuensi, sehingga perilaku ini terus berulang dan dinormalisasi.

Melihat kenyataan ini, dapat dipahami bahwa pelecehan dalam game bukanlah masalah sepele yang bisa diabaikan. Berdasarkan pengalaman pribadi, ditambah dengan data dan temuan dalam berbagai jurnal ilmiah, sudah saatnya ada perubahan nyata dalam cara kita memandang dan menangani masalah ini. Pengembang game seperti Mobile Legends perlu memperkuat sistem moderasi, menghadirkan fitur pelaporan yang lebih responsif, serta memberikan sanksi yang jelas dan tegas kepada pelaku pelecehan.

Selain itu, edukasi mengenai literasi digital dan etika komunikasi harus terus digencarkan, terutama bagi generasi muda sebagai pengguna utama game online. Pemain perlu memahami bahwa kebebasan berbicara di ruang digital tetap memiliki batas, dan setiap ucapan memiliki dampak nyata terhadap orang lain. Komunitas gamer juga harus mulai membangun budaya yang lebih sehat dengan tidak lagi menormalisasi candaan yang merendahkan.

Pada akhirnya, pengalaman bermain Mobile Legends menyadarkan bahwa game bukan sekadar permainan, tetapi juga ruang sosial yang mencerminkan cara kita berinteraksi sebagai manusia. Jika ruang ini terus dibiarkan dipenuhi oleh pelecehan dan perilaku tidak sehat, maka kita sedang membiarkan ketidakadilan tumbuh di dunia digital. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bersama-sama menciptakan ruang bermain yang aman, inklusif, dan menghargai setiap individu tanpa terkecuali.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!