
Beberapa waktu yang lalu, terjadi sebuah peristiwa yang cukup mengejutkan di lingkungan tempat saya tinggal. Satu per satu orang mulai berteriak, menangis, bahkan ada yang tiba-tiba pingsan. Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi panik. Bisik-bisik cepat menyebar di antara orang-orang, “Ada yang kesurupan.” Tidak lama kemudian, dukun dipanggil, doa-doa dibacakan, dan banyak orang berkumpul untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Situasi pun terasa semakin tegang dan membuat semua orang khawatir. Namun, di tengah kepanikan itu, muncul satu pertanyaan dalam benak saya. Benarkah kejadian ini semata-mata karena makhluk halus seperti yang sering dipercayai masyarakat? Atau justru ada penjelasan lain yang lebih masuk akal, tetapi jarang kita pikirkan?
Pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya bukanlah untuk menentang keyakinan siapa pun. Setiap orang tentu berhak memiliki pandangan masing-masing. Namun, ketika fenomena yang sama terus terjadi berulang kali di berbagai tempat, rasanya sudah saatnya kita perlu membicarakannya dengan lebih terbuka. tidak hanya dari sisi kepercayaan, tetapi juga dari sisi pengetahuan yang bisa membantu kita memahami dan menangani situasi tersebut dengan lebih bijak.
Ketika Tekanan dan Emosi Menyebar dalam Kelompok
Dalam dunia psikologi, fenomena kesurupan massal dikenal sebagai Mass Psychogenic Illness (MPI), yakni kondisi di mana sekelompok individu mengalami gejala fisik serupa tanpa penyebab medis yang bisa diidentifikasi. Veronica Kaihatu, dosen Program Studi Psikologi di Universitas Pembangunan Jaya, menyebut bahwa fenomena ini bisa dijelaskan secara ilmiah dari kacamata psikologi. Ini bukan penyakit fisik biasa, melainkan respons sosial dan psikologis yang muncul ketika sekelompok orang menghadapi tekanan bersama yang tak tersalurkan.[1]
Mekanismenya dimulai dari satu individu yang memicu, lalu menyebar. Inilah yang para ilmuwan sebut sebagai emotional contagion, penularan emosi. Beberapa kasus kesurupan yang kita ketahui seringkali terjadi di lingkungan dengan cakupan populasi yang relatif besar, seperti di sekolah, pabrik, atau kantor. Jarang terjadi kesurupan ketika seseorang sedang di dalam kamar dan sendirian. Mengapa? Karena emosi, seperti halnya tawa, menular lewat kedekatan fisik dan kondisi psikologis yang rentan.[2]
Ini bukan soal gaib. Ini soal tekanan yang terlalu lama dipendam.
Data di lapangan menunjukkan pola yang cukup jelas. Banyak kasus kesurupan massal yang sebagian dari mereka diketahui sedang menghadapi tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bukan sekadar kebetulan. Dalam sebuah kejadian di pabrik di Garut, misalnya, puluhan pekerja mengalami kesurupan massal. Peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan kondisi kerja yang cukup berat, ditambah lingkungan kerja yang panas dan melelahkan.[3] Gambaran seperti ini juga pernah terjadi di berbagai daerah lain dengan situasi yang hampir serupa.
Masalahnya justru berkaitan dengan kondisi sosial yang sering menempatkan seseorang pada banyak peran sekaligus. Ketika tanggung jawab terus menumpuk sementara kesempatan untuk bercerita atau mengungkapkan perasaan sangat terbatas, tekanan tersebut bisa tersimpan lama. Dalam situasi tertentu, tubuh bisa merespons tekanan itu dengan cara yang tidak biasa.
Temuan penelitian juga menunjukkan hal yang sejalan. Sebuah tim dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pernah meneliti kasus kesurupan massal di sebuah sekolah menengah di Bandar Lampung. Hasilnya menunjukkan bahwa para siswa yang mengalami kesurupan sebelumnya memiliki tingkat kecemasan atau tekanan psikologis yang berbeda-beda. Temuan ini memberi gambaran bahwa kesurupan tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sebab. Sering kali, ada kondisi emosional yang sudah ada sebelumnya, tetapi tidak terlihat atau tidak sempat ditangani dengan baik.[4]
Ritual Justru Memperburuk Keadaan
Di sinilah letak persoalan yang menurut saya cukup penting untuk dibicarakan. Saya memahami mengapa penjelasan mistis masih sangat kuat di masyarakat. Keyakinan spiritual memang sudah lama menjadi bagian dari budaya dan cara kita memaknai berbagai peristiwa. Hal itu tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, ketika penjelasan tersebut menjadi satu-satunya respons dan membuat kita menunda penanganan yang tepat, tanpa sadar kita justru membiarkan orang yang mengalami kesurupan berada dalam kondisi tidak nyaman lebih lama dari yang seharusnya.
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan di tengah kerumunan besar, misalnya dengan memanggil dukun dan melakukan ritual di hadapan banyak orang, sering kali membuat situasi menjadi semakin tegang. Suara yang ramai, suasana yang penuh kecemasan, serta kepanikan yang menyebar dari satu orang ke orang lain dapat memperburuk kondisi psikologis mereka yang terlibat. Bukan karena niatnya salah, tetapi karena situasi yang tidak terkendali bisa membuat emosi semakin sulit ditenangkan.
Padahal, langkah penanganan yang dianjurkan sebenarnya cukup sederhana dan lebih berfokus pada ketenangan. Individu yang mengalami kejadian tersebut sebaiknya dipisahkan terlebih dahulu dari kerumunan, suasana dijaga tetap tenang, lalu dibawa atau diarahkan kepada tenaga kesehatan atau pihak yang berkompeten. Pendekatan ini bukan berarti kita mengabaikan keyakinan atau nilai spiritual. Justru sebaliknya, ini menunjukkan bahwa kita berusaha saling menjaga dengan cara yang lebih aman, rasional, dan efektif, sehingga orang yang mengalami kesurupan bisa segera mendapatkan pertolongan yang tepat.
Kesurupan Adalah Sinyal, Bukan Sekadar Tontonan
Data dari Survei Kesehatan Nasional tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 2% penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami masalah kesehatan mental, dengan depresi dan kecemasan sebagai kondisi yang paling sering muncul. Angka tersebut sebenarnya baru menggambarkan sebagian kecil dari kenyataan. Masih banyak orang yang mungkin mengalami tekanan serupa, tetapi memilih diam karena merasa tidak punya ruang untuk bercerita atau takut dianggap lemah. Mereka tetap menjalani aktivitas seperti biasa, bekerja, belajar, dan berinteraksi, meskipun di dalam hati sedang menghadapi beban yang tidak ringan.
Dalam konteks itu, kesurupan massal bisa dipahami bukan sebagai peristiwa yang sepenuhnya bersifat supranatural, melainkan sebagai tanda bahwa ada tekanan psikologis yang belum tertangani dengan baik. Ada perasaan cemas, lelah, atau tertekan yang tersimpan cukup lama, sementara tuntutan untuk terus produktif dan terlihat kuat tetap berjalan. Ketika kondisi tersebut tidak mendapat perhatian, tubuh kadang merespons dengan cara yang tidak biasa dan sulit dipahami.
Karena itu, pekerjaan rumah kita sebenarnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang harus dipanggil ketika kesurupan terjadi. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental, baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat kerja. Lingkungan yang sehat adalah tempat di mana seseorang merasa aman untuk mengungkapkan perasaan, mengatakan bahwa dirinya sedang lelah atau tidak baik-baik saja, tanpa takut dihakimi. Dengan cara itu, masalah dapat dikenali lebih awal sebelum berkembang menjadi situasi yang lebih serius.
[1] Denny Armandhanu, “Bukan mistis, mengulas penyebab kesurupan massal dan mengapa perempuan paling rentan” CAN.id: Berita Indonesia, Asia dan Dunia, https://www.cna.id/lifestyle/bukan-mistis-mengulas-penyebab-kesurupan-massal-dan-mengapa-perempuan-paling-rentan-16126?cid=internal_sharetool_web_29042026_cna(diakses 11 April 2026), 2024.
[2] Adebba Ramadhani Noury, “Memahami Kesurupan Massal dari Sudut Pandang Psikologi” Pijar Psikologi, https://pijarpsikologi.org/blog/memahami-kesurupan-massal-dari-sudut-pandang-psikologi, (diakses 28 April 2026).
[3] “Puluhan Perempuan Pegawai Pabrik di Garut Mengalami Kesurupan Massal” Merdeka.com, https://www.merdeka.com/peristiwa/puluhan-perempuan-pegawai-pabrik-di-garut-mengalami-kesurupan-massal.html, (diakses 28 April 2026).
[4] Arzia Tivany Wargadiredja, “Menyelidiki Sekian Penyebab Pelajar Indonesia Rutin Alami Kesurupan Massal” https://www.vice.com/id/article/menyelidiki-sekian-penyebab-pelajar-indonesia-rutin-alami-kesurupan-massal/, (diakses 28 April 2026).
