Overthinking di Kalangan Mahasiswa: Antara Ambisi dan Tekanan Sosial

Pernah merasa lelah padahal tidak melakukan apa-apa? Pikiran terus berputar, memikirkan masa depan, membandingkan diri dengan orang lain, hingga akhirnya sulit tidur. Tugas belum tentu banyak, tetapi kepala terasa penuh. Jika iya, kamu tidak sendirian. Fenomena overthinking kini menjadi “teman akrab” bagi banyak mahasiswa.

Kondisi ini bukan sekadar perasaan sesaat. Menurut American Psychological Association, tingkat stres pada mahasiswa mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, terutama dipengaruhi oleh tekanan akademik dan sosial. Bahkan, laporan dari World Health Organization menyebutkan bahwa satu dari delapan orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan sebagai salah satu bentuk yang paling umum. Data ini menunjukkan bahwa apa yang dirasakan mahasiswa hari ini bukanlah hal yang sepele.

Di era media sosial dan tuntutan produktivitas yang tinggi, mahasiswa tidak lagi hanya dituntut untuk sekadar kuliah. Mereka juga diharapkan aktif dalam organisasi, memiliki prestasi, membangun relasi, bahkan sudah harus memikirkan karier sejak dini. Tanpa disadari, standar “mahasiswa ideal” menjadi semakin tinggi dan sulit dijangkau. Saya berpendapat bahwa overthinking di kalangan mahasiswa bukan hanya masalah individu, melainkan refleksi dari tekanan sosial yang semakin tidak realistis.

Pertama, media sosial menjadi pemicu utama munculnya overthinking. Setiap hari, mahasiswa terpapar berbagai pencapaian orang lain, teman yang lulus lebih cepat, membuka usaha sendiri, atau diterima di perusahaan ternama. Penelitian dari Pew Research Center menunjukkan bahwa banyak anak muda merasa tertekan karena kebiasaan membandingkan diri di media sosial. Hal ini wajar, karena yang ditampilkan di sana hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan prosesnya. Namun, tanpa disadari, perbandingan ini membuat seseorang merasa tertinggal, meskipun sebenarnya ia sedang berkembang dengan caranya sendiri.

Kedua, standar kesuksesan yang semakin sempit turut memperparah kondisi ini. Kesuksesan sering kali diukur dengan indikator yang seragam: IPK tinggi, cepat lulus, pekerjaan mapan, dan penghasilan besar. Padahal, setiap mahasiswa memiliki latar belakang, kemampuan, dan kondisi yang berbeda. Psikolog Carol Dweck menjelaskan bahwa individu dengan pola pikir tetap (fixed mindset) cenderung melihat kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan diri. Akibatnya, ketika tidak memenuhi standar tertentu, mahasiswa mudah merasa gagal, bahkan sebelum benar-benar mencoba berbagai kemungkinan.

Ketiga, kurangnya ruang aman untuk bercerita membuat overthinking semakin sulit dikendalikan. Banyak mahasiswa memilih memendam masalah karena takut dianggap lemah atau tidak mampu. Budaya “harus kuat” yang sering digaungkan justru menjadi bumerang. Laporan dari UNICEF menunjukkan bahwa banyak anak muda enggan mencari bantuan karena adanya stigma terhadap kesehatan mental. Akibatnya, pikiran negatif terus menumpuk tanpa adanya saluran untuk dilepaskan.

Keempat, kemampuan manajemen waktu dan pikiran yang belum matang juga menjadi faktor pendukung. Tidak sedikit mahasiswa yang menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu. Ketika deadline datang bersamaan, muncul rasa panik yang berlebihan. Dalam kondisi seperti ini, pikiran cenderung tidak rasional. Psikolog Daniel Kahneman menjelaskan bahwa dalam situasi stres, manusia cenderung memperbesar ancaman dan memprediksi hal-hal buruk yang belum tentu terjadi. Inilah yang membuat overthinking semakin sulit dihentikan.

Jika dibiarkan, overthinking dapat membawa dampak yang serius. Tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga mengganggu kesehatan mental secara keseluruhan. Riset dari National Institute of Mental Health menunjukkan bahwa kecemasan berlebih dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, bahkan keseimbangan emosi. Mahasiswa yang mengalami overthinking berkepanjangan bisa kehilangan motivasi belajar, merasa cepat lelah, dan sulit menikmati proses perkuliahan.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Langkah pertama adalah menyadari bahwa setiap orang memiliki timeline yang berbeda. Tidak semua orang harus mencapai sesuatu di waktu yang sama. Hidup bukan perlombaan yang memiliki garis finis seragam. Kedua, penting untuk membatasi konsumsi media sosial, terutama jika mulai memicu rasa cemas dan perbandingan diri. Mengatur waktu penggunaan media sosial dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Ketiga, cobalah untuk berbagi cerita dengan orang terpercaya, baik teman, keluarga, maupun mentor. Berbicara bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk keberanian untuk memahami diri sendiri. Keempat, latih manajemen waktu dengan membuat prioritas yang jelas dan realistis. Membagi tugas menjadi bagian kecil dapat membantu mengurangi rasa kewalahan.

Selain itu, penting juga untuk melatih cara berpikir yang lebih sehat. Tidak semua pikiran harus dipercaya. Kadang, apa yang kita khawatirkan hanyalah asumsi, bukan kenyataan. Dengan menyadari hal ini, kita bisa mulai memilah mana pikiran yang perlu ditindaklanjuti dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling sempurna. Proses belajar tidak selalu lurus dan rapi. Ada fase ragu, gagal, bahkan kehilangan arah. Namun, semua itu adalah bagian dari perjalanan bertumbuh.

Overthinking mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Akan selalu ada momen di mana kita merasa khawatir terhadap masa depan. Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengelolanya, bukan membiarkannya mengendalikan hidup kita. Karena hidup bukan perlombaan. Dan kamu tidak sedang terlambat, kamu hanya sedang berjalan dengan ritmemu sendiri, tetaplah percaya diri.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!