Setiap kali hujan turun, sebagian jalan di berbagai daerah berubah menjadi “kolam dadakan” dengan genangan air yang bercampur tanah. Pengendara berhati-hati memperlambat laju kendaraan, pejalan kaki mencari jalur alternatif yang aman, dan kemacetan pun tidak terhindarkan. Fenomena ini seolah menjadi rutinitas setiap tahunnya yang dianggap wajar dan tidak ada yang angkat suara. Padahal, genangan di jalan rusak bukan hanya sekedar gangguan kecil, melainkan cerminan dari masalah infranstruktur yang terus diabaikan.
Masalah ini begitu dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, bahkan dapat dikatakan sebagai pengalaman yang hampir tak terpisahkan dari aktivitas rutin, terutama di wilayah yang memiliki kualitas infrastruktur jalan yang kurang memadai. Banyak masyarakat yang menjadi korban akan hal yang berbahaya ini yang disebabkan oleh jalan yang tidak pantas untuk di lewati. Lebih dari sekedar gangguan kecil, fenomena ini sebenarnya mencerminkan persoalan yang lebih besar atas tidak adanya perhatian pada perbaikan jalan yang rusak atau berlubang. Setiap kali musim hujan tiba masalah yang sama kembali terulang tanpa adanya perubahan yang signifikan. Jalan yang sebelumnya telah diperbaiki pun kerap kembali rusak dalam waktu yang relatif singkat, seolah perbaikan dilakukan hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan yang terjadi.
Menurut pendapat saya, genangan air muncul dijalan ang rusak bukan sekedar persoalan kecil yang harus terabaikan, melainkan masalah serius yang menunjukkan adanya kelemahan dalam perencanaan pembangunan, kurang optimalnya perawatan infrastruktur, serta rendahnya kesadaran bersama, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Kondisi ini mencerminkan bahwa penanganan yang dilakukan selama ini belum menyentuh akar persoalan secara menyeluruh. Apabila situasi ini terus diabaikan tanpa upaya perbaikan yang nyata dan berkelanjutan, dampaknya akan semakin meluas. Tidak hanya menghambat kelancaran aktivitas sehari-hari tetapi juga menimbulkan bahaya yang setiap harinya ditakutkan akan semakin banyak korban yang tertimpa musibah ini. Oleh karena itu, permasalahan ini seharusnya menjadi perhatian khusus secara bersama yang perlu ditangani serius dan berkesinambungan.
Pertama , dalam penelitian ini di kawasan Jalan Tongkol, Kelurahan Uma Sima, hujan dengan intensitas rata-rata sekitar 117 mm per jam sebenarnya masih bisa dikelola. Secara hitungan teknis, saluran drainase disana dirancang untuk mampu mengalirkan air sebanyak 4,55 m³ setiap detik. Bayangkan, itu setara dengan menguras 4.550 botol air minum ukuran 1 liter dalam satu detik. Namun, saat diukur langsung di lapangan, kenyataannya sangat berbeda. Kapasitas saluran yang tersisa hanya 0,896 m³/detik, atau kurang dari seperlima dari yang seharusnya. Kenapa? Karena saluran dipenuhi endapan lumpur dan sampah. Setiap hari, ada sekitar 202 ton material yang mengendap dalam setahun menjadi nyaris 74 ribu ton. Jumlah itu bisa dibayangkan seperti puluhan truk besar yang membuang muatannya setiap hari ke dalam saluran. Tentu mudah menyalahkan pemerintah soal aliran dana atau perencanaan yang tak sesuai. Tapi kritik jujur harus melihat satu sisi lain: rendahnya kesadaran kita bersama dalam merawat drainase. Sampah dan endapan itu tidak datang dari langit. Selama membuang sampah ke saluran dianggap biasa, selama gotong royong membersihkan saluran hanya jadi ritual musim hujan, maka saluran sebesar apapun akan cepat mampet. Jadi, ini bukan cerita tentang hitungan teknik yang meleset. Ini cerita tentang fungsi drainase yang mati separuh karena sedimentasi, separuh karena lalai. Solusinya bukan hanya memperbesar saluran, tapi mulai membersihkannya bersama-sama. Karena air tak peduli siapa yang salah; air akan tetap merusak kalau tak diberi jalan.
Kedua, berdasarkan data hasil penelitian pada jalan Antarsura, Kecamatan Denpasar Timur, ditemukan bahwa permasalahan genangan dan kerusakan jalan disebabkan oleh ketidakmampuan sistem drainase eksisting dalam menampung debit air hujan. Kerusakan ini parah karena padatnya lalu lintas yang berulang dan kondisi air dan tanah yang tinggi menjadi sebuah permasalahan yang harus diperhatikan. Oleh karena itu, genangan bukan hanya sekedar masalah permukaan melainkan indikator kegagalan fungsi drainase yang berdampak langsung pada penurunan struktural dan fungsional jalan, sehingga diperlukan normalisasi saluran dan perbaikan secara menyeluruh.
Ketiga, berdasarkan hasil penelitian di ruas udara Jalan Udara Berastagi–Simpang Desa Semangat, ditemukan beberapa permasalahan utama. Pertama, terjadi genangan air yang cukup luas dan dalam di sepanjang jalan, terutama akibat curah hujan yang tinggi serta sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik. Kedua, kondisi jalan mengalami berbagai jenis kerusakan, seperti lubang, retak-retak, serta alur yang tersebar di beberapa titik. Ketiga, saluran drainase di lokasi banyak yang tidak tersedia atau rusak parah karena sedimentasi dan sampah, sehingga air tidak dapat mengalir dengan lancar. Keempat, perubahan tata guna lahan dari area resapan menjadi permukiman turut memperparah genangan. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam merawat drainase juga menjadi faktor sosial yang berkontribusi terhadap permasalahan ini.
Dampak genangan pada jalan yang rusak bukanlah persoalan kecil. Selain memicu kemacetan, kondisi ini juga memperbesar resiko kecelakaan dijalan raya. Pengendara kesulitan melihat lubang yang tertutup air, sehingga kendaraan bisa terjebak atau terperosok. Bahkan tidak sedikit kasus yang berujung pada luka serius akibat kondisi jalan yang memprihatinkan.
Dari segi ekonomi, kerugian yang menyangkut hal ini ditimbulkan cukup besar. Kendaraan sering melintas jalan rusak cenderung lebih cepat mengalami kerusakan. Akibatnya biasay perawatan meningkat dan menjadi beban bagi masyarakat. Dengan berbagai dampak tersebut, sudah seharusnya persoalan ini mendapat perhatian yang lebih serius. Pemerintah perlu lebih sadar atas kondisi jalan yang rusak dan berlubang, dan utamakan keluhan masyarakat sekitar atas keselamatan mereka saat ini.
