
Upacara adat merupakan bagian dari tradisi yang pastinya berhubungan erat dengan kebudayaan serta kehidupan masyarakat tradisional. Dan tradisi sendiri erat hubungannya dengan Kebudayaan, dimana kebudayaan disebut sebagai sesuatu yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, adat kesenian, hukum, kemampuan atau kebiasaan yang dimiliki sebagai anggota masyarakat. Kuncen di bumi alit pada tahun 2017 yaitu bapak Saleh Wirapadja mengatakan istilah nyangku berasal dari bahasa arab “yanko” yang artinya membersihkan. Sedangkan untuk kata nyangku dari yanko sendiri menurut beliau bisa terjadi karena kesalahan pengucapan lidah orang sunda. Dalam pelaksanaannya, upacara adat nyangku ini dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis akhir di bulan Maulid dan menitikberatkan pada pembersihan alat-alat peninggalan leluhur seperti pedang Dzulfikar, keris komando, pancaworo dan lainnya yang memiliki makna spiritual. Pusaka tersebut biasanya disimpan di tempat yang dikenal dengan sebutan bumi alit, dimana bumi alit sendiri telah ada sejak zaman masih berdirinya Kerajaan panjalu. Kata bumi alit sendiri merupakan bahasa Sunda yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah “rumah kecil”, dan sebenarnya bumi alit adalah bangunan kecil yang ditempatkan di suatu tempat yang diberi nama pasucian. Dan nama pasucian sendiri diberikan oleh Prabu Borosngora atau Syeh Haji Dul Iman sebagai raja Panjalu sekaligus raja Panjalu pertama yang menganut agama Islam. Adapun hal lain yang menyertai adat Nyangku ini yaitu adanya arak-arakan warga setempat dengan menampilkan berbagai macam kekhasan dari setiap dusunnya baik itu kesenian, kerajinan, bahkan makanan. Kesenian yang menyertainya antara lain gembyung, wayang landung dari komunitas anak ibu, batu kalaras tilas serta debus. Sedangkan untuk tempat berlangsungnya upacara adat sendiri ialah di taman Borosngora atau sering juga disebut alun-alun Panjalu. Dan lagi, kurang dari satu bulan sebelum diadakannya upacara adat Nyangku juga diadakan pasar malam. Dimana warga sekitar beramai-ramai datang baik sebagai penjual ataupum sebagai pembeli dan penikmat acara.
Dari uraian tersebut saya berpendapat bahwa, upacara adat Nyangku merupakan cara pelestarian budaya yang cukup menarik dan cukup unik. Sejalan dengan pendapat menurut Ensiklopedia Indonesia kata tradisi berasal dari bahasa latin tradisi yang berarti penerusan. Dengan kata lain, dengan diadakannya upacara adat Nyangku maka peninggalan pusaka dari zaman dahulu bahkan zaman Prabu Borosngora sebagai orang yang menyebarkan agama Islam di Panjalu dapat banyak dikenang dan dikenal. Berbagai pusaka yang kemungkinan besar rusak karena termakan usia pada akhirnya bisa dilestarikan dan dapat dilihat banyak generasi selanjutnya. Adapun hal menarik dari pelestarian budaya ini diantaranya karena dilaksanakan di tempat terbuka dan dapat dilihat banyak pasang mata.
Selain itu, upacara adat nyangku ini selain melestarikan budaya tetapi juga menitikberatkan pada pembersihan pusaka.Dimana beberapa pusaka seperti pedang Dzulfikar, keris komando, pancaworo dan lainnya yang memiliki makna spiritual, akan dibersihkan menggunakan udara dari sembilan sumber yang berbeda. Adapun sembilan mata air tersebut diantaranya: 1) Cilengkong, Panjalu, 2) Cikarantenan, Gunung Syawal, 3) Cikapunduhan (makam Prabu Rahyang Kuning), 4) Cipanjalu, Desa Bahara, 5) Cipangbuangan, Garahang Panjalu, 6) Cipasanggrahan, 7) Cigunung Bitung, Majalengka, 8) Cigeger Emas, Ciomas dan 9) Citatah, Sanding Taman. Sejalan dengan itu, menurut kuncen Bumi Alt tahun 2017, bapak Saleh berkata bahwa sembilan mata air tersebut memiliki hubungan dengan sejarah panjalu. Meskipun hakikatnya pembersihan tersebut untuk menyucikan dan membersihkan diri namun pusaka-pusaka yang ada tetap diberikan perlakuan yang membuatnya bersih dan berkemungkinan berthan lama.
Kemudian upacara adat Nyangku juga menciptakan kebersamaan warga Panjalu. Sebab, dengan dilestarikannya upacara adat ini selain membersihkan pusaka nyatanya juga memberi peluang besar bagi masyarakat setempat untuk berjumpa. Hal ini diperkuat dengan pendapat pada sebuah jurnal yang ditulis mahasiswa asal Ciamis pada tahun 2024 yang mengatakan bahwa, upacara adat ini melibatkan selurus golongan atau lapisan masyarakat baik dari anak, dewasa juga sampai tua. Untuk berjalannya upacara adat ini, pastinya membutuhkan kerjasama serta koordinasi yang intens dan bukan tidak mungkin lama kelamaan menumbuhkan sebuah kepercayaan dan rasa kekeluargaan. Dimana, menurut Badan Pusat Stilistika (BPS) di desa Panjalu terdapat 11 dusun dengan satu kepala wilayah di setiap dusunnya. Dari banyaknya dusun , dengan arah kepala wilayahnya masyarakat biasanya akan hadir dalam upacara adat Nyangku tersebut. Dengan satu titik kumpul yang sama yaitu taman Borosngora, 11 dusun tersebut setidaknya sudah berada di tempat, tujuan serta keinginan yang sama yaitu melestrikan budaya Panjalu. Dengan demikian, upacara adat Nangku tidak hanya sebagai penghormatan pada leluhur atau pelestarian pusaka saja. Tetapi ajang mempererat kebersamaan warga sekitar dengan mengikat seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi baik secara langsung sebagai panitia ataupun tidak langsung dengan ikut memeriahkan upacaranya.
Dengan demikian, upacara adat Nyangku yang dilaksanakan sekali dalam setahun tepatnya pada hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Maulid ini mengandung tiga nilai secara bersamaan yaitu: nilai budaya, dengan pembersihan dan pelestarian pusaka yang ada. Nilai sosial, dengan kekompakan atau gotong royong guna kelancarannya kegiatan upacara adat baik dari persiapan, pelaksanaan sampai pada akhir termasuk diadakannya stand jualan serta pasar malam setiap bulan sebelum upacara berlangsung. Jelas semua kegiatan tersebut akan memerlukan banyak pihak untuk berkontribusi dan tidak mau banyak pihak yang akan saling mengandalkan dan terkait.Dengan ini kebudayaan akan terlestarikan dan pusaka akan terjaga kebersihannya selain itu kebersamaan,persaudaraan serta kekeluargaan dari 11 dusun yang ada di Panjalu dapat dipererat dan terjaga keberlangsungannya.
