Ketika orang sunda tidak saling paham: Fenomena Bahasa Majalengka

Pernahkah mengalami atau mendengar terdapat dua orang sunda dari daerah yang berbeda saling berbicara, tetapi justru mengalami kebingungan dalam pembahasannya? Itulah yang kadang terjadi ketika penutus sunda dari Bandung, Cianjur atau Ciamis dan sekitarnya bertemu dengan orang Majalengka. Bukan karena mereka tidak bisa berbahasa sunda, melainkan karena adanya keberagaman yang menghasilkan bahasa sunda di Majalengka sudah banyak bercampur dengan beberapa unsur jawa ke cirebonan. Akibatnya, ada kata-kata yang terdengar asing. Itu bukan suatu kesalahan, namun itu adalah hal yang wajar dan justru membuktikan bahwa bahasa Sunda itu hidup dan beragam. Jadi, jangan bilang bahwa bahasa Majalengka itu “Kurang Sunda”.

Penulis berpendapat bahwa fenomena ini bagian dari keberagaman dan patut untuk dihargai, karena sesuai yang terdapat di Media Kompasiana (Nuraeni, 2017) penyebab utama fenomena ini adalah letak geografis Majalengka yang berada di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Secara alami, pengaruh bahasa Jawa masuk lewat adanya interaksi sehari-hari, perdagangan, bahkan keluarga yang campuran. Juga dalam media detik.com ( Aurellia, 2024) pendapat Kang Dedi Mulyadi bahwa Jawa barat mempunyai empat karakter kebudayaan yang menjadi iconik, yaitu Sunda kulon, Sunda priangan, Sunda betawi, dan Sunda Cirebon, Majalengka ini termasuk ke Sunda Cirebon. Sesuai dari yang terdapat dalam Medcom.id (Oktaviani, 2021) yang biasanya suka disebut bahasanya “Jawareh” yaitu Jawa sawareh yang artinya Sunda yang sudah masuk sebagian Jawa. Contohnya seperti terdapat dalam media Kompasiana (Budima, 2019) orang Majalengka biasa bilang “dewek” yang berarti “kamu” sementara orang Sunda dari timur seperti Ciamis atau Tasikmalaya dan sekitarnya arti “dewek” itu sendiri “cukup kasar katanya. Belum lagi beberapa kata lain yang iconic. “Ema palay emuh!” (Ibu pengen minum). Ketika di bahasa sunda yang umum minum diartikan dengan ngaleueut, hanya di Majalengka sekonyong-konyong menjadi Emuh.

 Perbedaan kecil ini ternyata cukup membuat komunikasi tersendat. Dari sisi sosiolinguistik, ini disebut dialek perbatasan. Tapi dari sisi komunikasi, ini bisa menjadi hambatan nyata. Pada kisah yang pernah dialami pun sering ditertawakan dan dianggap aneh karena banyak sekali perbedaan bahasa yang terjadi membuat komunikasi menjadi kebingungan arahnya. Apalagi jika saya bilang “Aya hawangan tetep weh banjir” teman saya yang sunda tapi berbeda daerah tertawa karena tidak tau maksudnya dan aneh terdengarnya, karena arti dari “hawangan” itu sendiri di sunda lain disebutnya “wahangan”.  Itu terkadang menjadi lelucon kecil, tapi menunjukkan bahwa tidak semua orang Sunda otomatis saling paham hanya karena sama-sama Sunda.

Penulis meyakini bahwa bahasa adalah produk dari keadaan sosial dan geografisnya. Karena suatu wilayah secara langsung memengaruhi bentuk bahasanya. Apalagi Majalengka yang letaknya sudah jelas berada di perbatasan budaya Sunda dan Jawa. Jelas bahasa terbentuk dari kondisi sosial dan letak geografis tempat ia berkembang. Pandangan ini cukup beralasan, sebab lingkungan suatu daerah berpengaruh langsung terhadap wujud bahasa yang digunakan baik dalam pilihan kata, cara pengucapan, maupun pola bertutur. Dalam hal ini, posisi Majalengka yang berada di perbatasan budaya Sunda dan Jawa menjadi contoh nyata bagaimana faktor geografis melahirkan percampuran bahasa. Majalengka tidak hanya sekadar wilayah administratif, tetapi juga menjadi ruang pertemuan dua kebudayaan besar, sehingga wajar jika ragam bahasanya tidak sepenuhnya condong ke satu sisi, melainkan berkembang menjadi bentuk yang unik dan khas. Bahasa juga bersifat dinamis dan terus berubah akibat adanya interaksi sosial. Pencampuran antara penduduk sunda dan Jawa seperti dalam penelitian tentang dialek di desa Lojikobong, menciptakan variasi bahasa yang baru untuk digunakan sehari-hari, dengan demikian perbedaan adalah hal yang sangat lumrah terjadi, bedanya bagaimana cara kita dalam menangani keberagaman ini.

Penulis menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah kesalahan, melainkan konsekuensi alami dari keberagaman. Orang Sunda Majalengka tidak perlu merasa bahasanya “kurang Sunda” atau “kotor”. Sebaliknya, ini adalah bukti bahwa bahasa itu hidup dan dinamis. Solusinya sederhana yang pada intinya kita harus tetap saling menghargai dengan diantara langkahnnya yaitu pertama, kita perlu saling terbuka. Jika mendengar kata yang asing, tanyakan saja dengan sopan. Kedua, penting bagi sekolah dan keluarga di Majalengka untuk tetap mengajarkan bahasa Sunda baku sebagai jembatan komunikasi, tanpa harus meninggalkan dialek lokal yang khas. Ketiga, masyarakat Sunda dari daerah lain harus belajar menghargai variasi, bukan menertawakan. Pada akhirnya, ketika orang Sunda tidak saling paham, jangan langsung menyalahkan, tapi jadikan itu momen untuk belajar bahwa kekayaan bahasa justru terletak pada perbedaannya, bukan keseragamannya.

Menurut pandangan penulis, sikap saling menghargai yang diajukan tidak sekadar berkaitan dengan etika dalam berkomunikasi, tetapi juga menjadi dasar penting bagi keberlangsungan bahasa daerah di tengah perkembangan zaman. Ketika masyarakat merasa malu atau enggan menggunakan dialek lokal karena khawatir dianggap berbeda, yang hilang bukan hanya kosakata, melainkan juga pengetahuan lokal serta jejak sejarah sosial yang terkandung di dalamnya. Karena itu, upaya pelestarian bahasa tidak berarti membekukannya agar tetap sama, melainkan menjaga agar tetap lentur dan berkembang. Dengan kata lain, cara paling tepat untuk mempertahankan keberadaan bahasa Sunda Majalengka adalah dengan membiarkannya terus beradaptasi dan berbaur, selama masih ada ruang untuk mempelajari bentuk bakunya. Dengan demikian, perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk saling memahami, bahkan dengan sesama yang berada dalam satu budaya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!