
Ponsel bergetar. Sebuah undangan pernikahan masuk ke grup WhatsApp RT. Bukannya langsung tersenyum, jari malah refleks membuka buku catatan Nyambungan.
“Berapa yang pantas?” “Tahun lalu saya diberi segitu, apakah harus lebih?” “Kalau akhir bulan lagi tipis, bagaimana caranya menolak tanpa dianggap pelit atau tidak enak sama tetangga?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar dingin, tapi kenyataannya dialami oleh banyak orang dari berbagai lapisan. Di balik budaya saling membantu yang selalu kita banggakan sebagai ciri khas di suatu masyarakat, perlahan tumbuh kecemasan, tradisi nyambungan mulai terasa seperti tagihan sosial yang tak terlihat, namun beratnya nyata.
Sebagai kebiasaan yang sudah hidup turun-temurun di masyarakat Sunda, nyambungan sejatinya lahir dari semangat tolong-menolong yang tulus. Ketika ada tetangga menikah, khitanan, atau membangun rumah, warga sekitar berdatangan membawa uang, beras, atau sekadar tenaga. Ide dasarnya sangat sederhana, yaitu untuk meringankan beban orang yang sedang punya hajat. Namun di tengah kehidupan yang serba terukur, serba cepat, dan semakin individualistis, tradisi ini mulai terjepit. Di satu sisi, ia masih menjadi bukti bahwa kita belum sepenuhnya lupa cara peduli. Di sisi lain, ia sering kali berubah menjadi beban diam-diam yang menguras kantong dan pikiran. Saya percaya, nyambungan harus tetap dipertahankan, tapi caranya perlu dikembalikan pada relung aslinya, yakni keikhlasan yang semampunya, bukan kewajiban yang dihitung-hitung atau dipamerkan.
Coba perhatikan kehidupan kita hari ini. Dulu, tetangga adalah saudara terdekat. Sekarang, kita lebih sering menyapa lewat layar, bertetangga tapi tidak saling kenal nama, bahkan enggan keluar rumah karena sibuk dengan urusan masing-masing. Di tengah situasi seperti itu, nyambungan sebenarnya adalah jaring pengaman sosial yang masih nyata dan mudah dijangkau. Ia menerjemahkan filosofi Sunda silih asih, silih asah, silih asuh ke dalam tindakan sehari-hari tanpa perlu seminar atau kampanye mahal. Bukan soal seberapa tebal amplop yang diserahkan, melainkan soal kehadiran dan empati. Saat seseorang diuji oleh keadaan, kita hadir bukan sebagai penonton yang memberi selamat lewat stiker di grup, tapi sebagai penopang yang benar-benar turun tangan. Itulah modal sosial yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan justru semakin langka di kota-kota besar.
Secara nyata, tradisi ini juga menjadi penyeimbang bagi keluarga yang ekonominya pas-pasan. Catatan resmi pemerintah awal tahun 2026 menunjukkan bahwa di Jawa Barat masih ada sekitar 3,5 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bagi kelompok ini, biaya hajatan atau renovasi rumah bukan sekadar “keinginan” atau gaya hidup, tapi beban yang bisa membuat keuangan keluarga benar-benar goyah. Di sinilah nyambungan hadir sebagai bantuan sesama yang langsung meringankan beban tanpa syarat yang rumit. Saya pernah melihat sendiri bagaimana rumah seorang montir kecil ambruk diterjang angin kencang saat hujan deras. Dalam hitungan hari, tetangga mengumpulkan dana, membawa pasir dan semen, bahkan bergantian membantu memperbaiki atap. Tidak ada formulir pengajuan, tidak ada syarat administrasi, tidak ada bunga pinjaman. Hanya rasa kemanusiaan yang langsung bergerak. Jika dijalankan dengan sehat, tradisi ini adalah bentuk perlindungan sosial berbasis warga yang paling alami dan manusiawi.
Lantas, mengapa banyak orang mulai mengeluh dan merasa waswas? Masalah utamanya bukan pada tradisi itu sendiri, melainkan pada cara kita mempraktikkannya. Pelan-pelan, nyambungan berubah menjadi buku catatan utang-piutang sosial. Undangan sering kali diperlakukan seperti tagihan rutin, dan budaya “balas memberi” menuntut kesetaraan nominal yang kaku. Ada yang sampai membuat catatan rapi di buku khusus, “Si A memberi lima ratus ribu, nanti saat acaranya saya harus memberi enam ratus ribu.” Tidak heran jika ada warga yang sampai meminjam uang ke teman maupun tetangga demi menjaga muka, atau merasa cemas setiap kali nama mereka tercantum di daftar tamu. Tekanan halus ini justru menggerus nilai gotong royong yang seharusnya ringan dan sukarela. Ketika bantuan dikalkulasi layaknya piutang, esensi kebersamaan terkikis habis oleh gengsi dan kewajiban semu yang tidak pernah diucapkan tapi terasa mencekik.
Solusinya sebenarnya tidak perlu rumit. Kita hanya perlu kembali ke niat awal dan berani mengubah kebiasaan kecil. Sebagai pemberi, biasakan memberi sesuai kemampuan tanpa membandingkan dengan tahun lalu atau dengan tetangga sebelah. Tidak perlu malu memberi nominal sederhana, karena yang dihargai adalah kehadiran dan niat baik. Penyelenggara acara juga bisa secara sederhana dan terbuka menyampaikan bahwa sumbangan tidak perlu dibalas atau disesuaikan jumlahnya. Dengan begitu, nyambungan tidak lagi menjadi beban timbal balik yang menegangkan, melainkan ruang saling menopang yang terasa ringan dan menyenangkan.
Tradisi tidak akan punah hanya karena zaman berubah. Ia akan bertahan selama kita mampu menyesuaikan bentuknya tanpa kehilangan jiwanya. Nyambungan seharusnya menjadi jembatan yang mempersatukan, bukan utang yang membebani. Jangan sampai warisan leluhur yang dulu lahir dari ketulusan, kini justru menjadi sumber stres yang diam-diam kita keluhkan di dalam hati.
Kedepannya ketika undangan itu datang, beri dan bantu sesuai kapasitas dan kemampuan kita dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Begitupun ketika giliran kita yang mengadakan acara, berikan ruang bagi orang lain untuk memberi tanpa rasa bersalah atau tekanan. Biarlah nyambungan tetap hidup bukan sebagai kewajiban yang dihitung-hitung, melainkan sebagai janji bersama, di mana ada kebutuhan, di situ kita hadir. Karena pada akhirnya, kekayaan sejati bukan terletak pada seberapa besar nominal yang dikumpulkan, tapi pada seberapa ringan tangan dan seberapa tulus hati kita dalam saling menopang.
