Kita hidup di zaman Ketika kita meenjadi diri sendiri rasanya masih kurang cukup. Bukan karena kita kekurangan, kurang kepercayaan diri, tapi karena sekaraang layaknya identitas itu seolah harus selalu “layak tayang”, berusaha tampil ikut-ikutan walau sebenarnya ngga nyaman. Hari ini banyak dari remaja bukan bertanya tentang kemauan dirinya sendiri, melainkan “aku harus jadi siapa ya suapaya diterima?”. Ironisnya hal ini sering terjadi pada remaja, dan dari sinilah krisis identitas bermula bukan dari dalam diri, tapi dari luar lingkungan kita yang terlalu bising, melihat pencapaian,lifstyle orang lain yang seolah-olah menjadi patokan, Dalam konteks ini, remaja usia 15–25 tahun berada pada posisi paling rentan karena berada pada tahap pencarian jati diri, tetapi sekaligus menjadi kelompok yang paling intens terpapar arus informasi dan standar sosial yang seragam.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 10% anak dan remaja di Indonesia telah terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi. Selain itu, laporan kesehatan nasional juga mengungkap bahwa sekitar 34,9% remaja mengalami gangguan mental emosional dalam berbagai tingkat. Angka ini mengindikasikan bahwa krisis yang dialami bukan lagi bersifat individual, melainkan telah menjadi fenomena kolektif. Kondisi ini diperparah oleh tingginya intensitas penggunaan media digital, di mana menurut DataReportal (2026), rata-rata anak muda menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di internet, dengan dominasi aktivitas pada media sosial. Paparan yang terus-menerus terhadap kehidupan orang lain menciptakan ruang perbandingan yang tidak sehat dan mendorong terbentuknya standar identitas yang tidak realistis dirinya.
Dalam situasi demikian, budaya ikut-ikutan menjadi mekanisme adaptasi yang paling mudah sekaligus paling berisiko. Remaja cenderung mengadopsi gaya hidup, nilai, bahkan aspirasi yang berasal dari publik figur tanpa mempertimbangkan perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, maupun kultural. Identitas kemudian tidak lagi diposisikan sebagai hasil refleksi personal, tetapi sebagai produk imitasi. Hal ini terlihat dari kecenderungan gaya hidup konsumtif, mengikuti tren fashion, liftyle publik figure yang menjadi dorongan agar terlihat tampil “sempurna”, disertai kebutuhan akan validasi sosial yang semakin meningkat. Akibatnya, banyak remaja menjalani kehidupan yang tidak selaras dengan kapasitas maupun realitas dirinya.
Dampak dari kondisi ini tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga sosial dan perilaku. Ketika identitas dibangun di atas standar eksternal yang tidak stabil, maka orientasi hidup pun menjadi rentan terhadap penyimpangan. Tidak sedikit remaja yang mengambil keputusan di luar kapasitasnya, baik dalam hal gaya hidup, relasi sosial, maupun pilihan hidup lainnya, demi memenuhi ekspektasi yang dibentuk oleh lingkungan. Dalam beberapa kasus, tekanan ini bahkan dapat mendorong individu ke arah perilaku berisiko, seperti konsumsi berlebihan, keterlibatan dalam pergaulan negatif, hingga kehilangan arah tujuan hidup. Dengan demikian, krisis identitas tidak hanya berdampak pada bagaimana individu memandang dirinya, tetapi juga pada bagaimana ia menjalani kehidupannya.Data tahun 2025 menunjukkan bahwa jutaan remaja Indonesia mengalami gangguan mental yang dipicu oleh tekanan sosial dan perbandingan digital. Fenomena ini memperlihatkan bahwa krisis identitas tidak hanya berdampak pada aspek psikologis, tetapi juga berimplikasi pada arah kehidupan remaja secara keseluruhan.
Ironisnya, di tengah upaya untuk tampil berbeda, justru terjadi homogenisasi identitas. Tren yang berkembang di ruang digital menciptakan pola yang seragam dalam cara berpakaian, berbicara, hingga mengekspresikan diri. Keunikan yang seharusnya menjadi ciri khas individu perlahan tergantikan oleh kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan standar kolektif. Dalam konteks ini, tren tidak lagi sekadar fenomena budaya, melainkan menjadi instrumen yang secara tidak langsung mengikis keaslian identitas individu.
Pada akhirnya, penting untuk disadari bahwa proses menjadi dewasa bukanlah proses yang instan dan linear sebagaimana sering direpresentasikan di media sosial. Kedewasaan justru dibentuk melalui proses yang panjang, penuh ketidakpastian, dan sering kali diwarnai kegagalan. Namun, ketika realitas tersebut tertutupi oleh narasi kesuksesan instan, remaja cenderung mengembangkan ekspektasi yang tidak realistis terhadap dirinya sendiri. Hal inilah yang kemudian memperkuat perasaan tidak cukup dan memperdalam krisis identitas yang dialami.
Di sisi lain, realitas tentang proses menjadi dewasa sering kali tidak sejalan dengan narasi yang berkembang di media sosial. Kedewasaan bukanlah proses instan yang dapat dicapai melalui pencapaian material atau pengakuan sosial semata. Sebaliknya, proses tersebut bersifat gradual, penuh ketidakpastian, dan sering kali diwarnai oleh kegagalan serta refleksi diri yang mendalam. Namun, ketika remaja terus-menerus disuguhi gambaran kesuksesan yang instan dan ideal, maka terbentuklah ekspektasi yang tidak realistis terhadap diri sendiri. Hal ini pada akhirnya memperkuat perasaan tertinggal dan memperdalam krisis identitas yang dialami.
Selama identitas terus dibangun berdasarkan pengakuan sosial dan tekanan lingkungan, maka individu akan terus berada dalam kondisi rentan terhadap kebingungan dan ketidakpuasan diri. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengembalikan proses pembentukan identitas pada kesadaran refleksi yang lebih mendalam. Remaja perlu didorong untuk memahami bahwa menjadi diri sendiri bukanlah tentang mengikuti standar yang ada, melainkan tentang mengenali batas, potensi, dan nilai yang dimiliki secara autentik. Tanpa kesadaran tersebut, budaya ikut-ikutan akan terus berkembang, dan krisis identitas akan tetap menjadi persoalan yang tidak kunjung terselesaikan.
