Pernahkah kamu terbangun di tengah malam, hanya untuk menatap layar ponsel dan berakhir dengan rasa sesak di dada? Bukan karena berita duka, melainkan karena melihat unggahan seseorang seangkatan yang baru saja merayakan pencapaian kariernya, atau mungkin sekadar foto liburan yang tampak sangat “wah”. Di detik itu, tanpa sadar kita sedang menghakimi diri sendiri dengan sangat kejam. Kita merasa kecil, tidak berguna, dan tertinggal jauh di belakang. Fenomena ini bukan lagi sekadar rasa iri biasa, melainkan sebuah beban mental yang perlahan-lahan merusak cara kita menghargai hidup sendiri.
1. Terjebak dalam Ruang Pamer DigitalMasalah utama kita hari ini adalah kita hidup di era di mana setiap orang memiliki “papan pengumuman” pribadinya masing-masing. Media sosial telah berubah menjadi ruang pamer yang tak pernah tutup. Kita dipaksa menyaksikan highlight reel atau momen-momen terbaik orang lain setiap detiknya. Sialnya, kita seringkali melakukan kesalahan fatal: membandingkan “dapur” kita yang berantakan dengan “ruang tamu” orang lain yang sudah rapi dan dipoles sedemikian rupa.
Ketidakadilan dalam membandingkan diri inilah yang membuat kita sering merasa ‘kalah’ sebelum benar-benar bertanding. Kita merasa tidak cukup baik hanya karena standar sukses kita ditentukan oleh algoritma Instagram atau TikTok. Padahal, di balik foto estetik itu, kita tidak pernah tahu berapa banyak air mata yang tumpah atau berapa kali mereka gagal. Kita hanya melihat hasil akhir, lalu menghukum diri sendiri atas proses kita yang masih berjalan perlahan.
2. Ekspektasi Sosial dan ‘Toxic Productivity‘
Lingkungan di sekitar kita, entah itu teman kampus atau tuntutan keluarga, seringkali memperparah kondisi ini. Budaya toxic productivity yang mendewakan kerja keras tanpa henti membuat kita merasa berdosa jika beristirahat sejenak. Jika kita tidak sesibuk orang lain, kita merasa gagal. Jika kita tidak punya “sampingan” atau pencapaian mentereng di usia 20-an, kita merasa masa depan sudah tertutup rapat.
Akibatnya, mental kita perlahan rusak. Rasa insecure ini bukan lagi sekadar bumbu kehidupan, tapi sudah menjadi racun yang mematikan kreativitas. Kita jadi takut untuk mencoba hal baru karena sudah terlanjur membayangkan kegagalan. Kita takut diejek, takut tidak sekeren mereka, dan akhirnya memilih untuk tetap diam di zona nyaman yang sebenarnya sangat menyiksa. Kita telah menjadi musuh terbesar bagi diri kita sendiri, mematahkan semangat sebelum sempat melangkah.
3. Memanusiakan Kembali Diri Sendiri
Lalu, sampai kapan kita akan terus membiarkan diri kita digerogoti oleh rasa tidak puas yang tak ada habisnya? Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa setiap orang memiliki timeline atau garis waktunya masing-masing. Hidup bukanlah perlombaan lari cepat, melainkan maraton yang sangat panjang. Seseorang yang sukses di usia 22 tahun tidak berarti lebih hebat dari seseorang yang baru menemukan jalannya di usia 30 tahun.
Kita perlu belajar untuk “menutup mata” sejenak dari hiruk-pikuk pencapaian orang lain. Fokuslah pada kemajuan kecil yang kita buat setiap hari. Berhasil bangun lebih pagi, menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu, atau sekadar mampu bertahan di hari yang berat adalah sebuah kemenangan yang layak dirayakan. Jangan biarkan standar sukses orang lain menjadi penjara bagi kebahagiaanmu sendiri.
4. Berdamai dengan Proses
Menjadi diri sendiri di dunia yang terus-menerus memaksa kita menjadi orang lain adalah sebuah perjuangan yang sangat berat. Namun, itu adalah satu-satunya jalan menuju ketenangan mental. Berhenti mencari validasi dari jumlah likes atau komentar di dunia maya. Validasi terbesar harusnya datang dari cermin di hadapanmu setiap pagi.
Mari kita berhenti menjadi hakim yang kejam bagi diri sendiri. Berikan dirimu ruang untuk gagal, ruang untuk belajar, dan ruang untuk sekadar bernapas. Ingatlah bahwa kamu tidak perlu menjadi “luar biasa” setiap hari untuk dianggap berharga. Cukup menjadi manusia yang terus berusaha tumbuh dengan kecepatanmu sendiri, itu sudah lebih dari cukup. Dunia ini sudah cukup keras, jangan ditambah lagi dengan kekejamanmu pada diri sendiri.
REFLEKSI
Menulis opini tentang kesehatan mental dan rasa insecure adalah perjalanan yang sangat personal bagi saya. Topik ini saya pilih bukan tanpa alasan; saya merasakan sendiri bagaimana tekanan sosial di era digital seringkali membuat saya merasa rendah diri. Kegelisahan inilah yang memotivasi saya untuk menyusun tulisan ini agar bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri dan juga bagi teman-teman mahasiswa lain yang mungkin merasakan beban yang sama.Strategi menulis yang saya terapkan adalah menggunakan gaya bahasa yang “dekat” dengan pembaca Gen-Z namun tetap sopan dan bermakna.
Saya sengaja menggunakan istilah-istilah seperti highlight reel, toxic productivity, dan timeline agar esensi pesannya lebih mudah ngena di hati audiens. Saya ingin tulisan ini tidak terkesan sebagai ceramah medis yang kaku, melainkan seperti obrolan jujur dari seorang kawan yang juga sedang berjuang menghadapi badai pikiran yang sama.
Tantangan terbesar dalam proses pengerjaa tugas ini adalah bagaimana menjaga alur tulisan agar tetap positif dan tidak sekadar menjadi keluhan semata. Saya mengatasinya dengan menyisipkan argumen-argumen logis mengenai ilusi media sosial di bagian tengah, lalu menutupnya dengan solusi reflektif di bagian akhir. Pengalaman mempublikasikan tulisan ini juga memberi saya pelajaran berharga tentang pentingnya memilih judul yang menggugah (hook) agar tulisan kita tidak tenggelam begitu saja di internet. Melalui tugas ini, saya sadar bahwa menulis adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka sekaligus menyuarakan kebenaran.
