Dalam industri perfilman, mengubah karya sastra menjadi film atau serial adalah praktik yang sangat umum. Banyak novel best seller yang diadaptasi menjadi film, baik dari penerbit konvensional maupun dari platform digital seperti Wattpad. Salah satu contoh terbaru adalah pengadaptasian novel “Samuel” karya Ita Krn yang akan ditayangkan di We TV. Novel tersebut awalnya dikenal luas di Wattpad, sehingga para pembaca kini telah akrab dengan semua tokoh, termasuk karakter kembar Marvel dan Marvin. Saat membaca, mereka menciptakan imajinasi dan gambaran sendiri tentang penampilan, sikap, serta karakter kedua tokoh tersebut. Tidak jarang, pembaca membayangkan aktor tertentu yang mereka anggap paling pas untuk peran tersebut. Oleh karena itu, begitu produksi mengumumkan daftar aktor, wajar jika netizen langsung membandingkan pilihan itu dengan gambaran yang sudah ada dalam pikiran mereka.
Untuk memahami perdebatan, perlu diketahui perbedaan signifikan antara karakter Marvel dan Marvin. Marvel, yang diperankan oleh Yusuf Kartiko, adalah seorang kakak yang dididik sangat keras oleh ayahnya. Ia tumbuh menjadi sosok yang dingin, penuh beban, dan terdesak oleh tuntutan untuk meneruskan usaha keluarga, padahal ia memiliki impian untuk menjadi pilot. Marvel dikenal sebagai sosok pendiam, jarang tersenyum, tampak acuh tak acuh, tetapi memiliki kepedulian pada orang-orang terdekatnya. Dia adalah tipe karakter yang menyimpan banyak emosi di balik ekspresi wajah yang datar. Di sisi lain, Marvin yang diperankan oleh Andy William adalah adik kembarnya yang justru mendapat keleluasaan yang lengkap dari ayahnya. Ia digambarkan sebagai sosok yang lebih terbuka, ekspresif, mudah bergaul, dan penuh semangat. Namun, kebebasan yang ia miliki kadang membuatnya merasa kesepian karena kurangnya perhatian. Dengan kata lain, Marvel adalah karakter yang kaku dan introspektif, sementara Marvin lebih cair, ekstrovert, dan tidak dapat diprediksi.
Banyak netizen di TikTok dan Instagram yang ramai mengomentari pemilihan Yusuf Kartiko dan Andy William untuk peran tersebut. Mereka tidak mempermasalahkan visual kedua aktor yang dianggap selaras dengan imajinasi mereka. Namun, mereka berpendapat bahwa sifat yang terlihat di media sosial aktor-aktor ini justru bertolak belakang dengan perannya. Yusuf Kartiko, yang sering membagikan video dengan ekspresi hidup, penuh energi, dan sifat humoris, dianggap lebih pas memerankan Marvin yang ekspresif. Di sisi lain, Andy William, yang lebih sering menampilkan video yang tenang dan misterius, dinilai lebih cocok untuk karakter Marvel yang pendiam. Para netizen merasa bahwa konten yang dibagikan oleh Yusuf mencerminkan sosok yang ceria dan semangat seperti Marvin, sedangkan konten Andy lebih mencerminkan sosok yang tenang dan terkontrol seperti Marvel. Singkatnya, kepribadian nyata yang ditunjukkan dalam unggahan mereka dianggap berlawanan dengan karakter yang seharusnya mereka perankan.
Pandangan itu tidak dapat dibenarkan karena beberapa alasan yang mendasar. Pertama, menjadi seorang aktor profesional tidak hanya tentang menampilkan kepribadian asli di layar. Tugas utama seorang aktor adalah memahami karakter yang dimainkan. Seorang aktor yang baik justru dipilih karena kemampuannya untuk bertransformasi, bukan karena kemiripannya dengan tokoh yang dimainkannya. Yusuf Kartiko yang dikenal ekspresif harus belajar untuk menahan sisi kepribadiannya, melatih untuk memiliki ekspresi wajah yang netral, serta memperlihatkan sosok Marvel yang dingin dan tertekan. Ia perlu menunjukkan emosi yang terpendam dengan ekspresi minimal. Di sisi lain, Andy William yang santai perlu berlatih untuk keluar dari kenyamanan, memperlebar gerak tubuhnya, dan menjadi Marvin yang lebih bebas dan ekspresif. Di sini tercermin tantangan sekaligus bukti dari profesionalisme. Jika setiap aktor hanya diizinkan memainkan karakter yang persis mirip dengan kepribadian mereka, dunia seni peran akan kehilangan esensinya, yaitu kemampuan untuk berubah, berakting, dan menghidupkan tokoh yang berbeda dari diri mereka sendiri.
Kedua, ada bukti konkret dari tanggapan Yusuf Kartiko. Menanggapi komentar dari netizen, ia menulis: “Sifat saya memang begini, tetapi saat berakting, saya akan profesional. Insyaallah saya tidak akan mengecewakan kalian dengan karakter Marvel yang saya bawakan. Saya hanya ingin menghibur kalian sebaik mungkin. ” Pernyataan ini krusial karena menunjukkan bahwa Yusuf memahami perbedaan antara dirinya yang ekspresif dan karakter Marvel yang dingin. Ia berkomitmen untuk bekerja secara profesional. Unggahan ekspresif yang ia tampilkan di media sosial adalah refleksi dari dirinya sebagai individu di luar tugasnya, bukan sebagai aktor yang sedang memainkan tokoh. Media sosial adalah ruang untuk diri pribadi, sedangkan akting adalah medium untuk karakter.
Ketiga, dalam sejarah film terdapat contoh aktor yang semula dianggap tidak sesuai namun malah berhasil. Heath Ledger, yang dikenal sebagai bintang film remaja, ketika diumumkan memerankan Joker di The Dark Knight mendapat banyak kritik karena dinilai terlalu santai untuk memerankan karakter psikopat. Banyak yang meragukan kemampuannya. Namun, hasil akhirnya justru mengejutkan: penampilannya dipuji secara luas dan ia meraih Oscar anumerta. Kasus ini menjadi bukti klasik bahwa penilaian awal yang didasarkan pada kesan pribadi sering kali keliru, dan seorang aktor yang baik dapat menghidupkan karakter yang sangat berbeda dari dirinya sendiri.
Keempat, proses pemilihan aktor tidak pernah sembarangan. Sutradara dan tim casting memiliki visi artistik yang jelas. Mereka tidak hanya melihat kepribadian aktor di media sosial, tetapi juga melaksanakan audisi, membaca naskah bersama, berlatih, dan mempertimbangkan chemistry antar pemain. Mereka mengevaluasi potensi, kemampuan berakting, dan kesiapan mental. Keputusan memilih Yusuf sebagai Marvel dan Andy sebagai Marvin pasti melalui proses panjang yang tidak dilihat oleh publik. Mengabaikan proses tersebut hanya berdasarkan konten di TikTok atau Instagram merupakan tindakan yang tidak menghargai kerja tim kreatif.
Berdasarkan penjelasan di atas, sebaiknya kritik mengenai pemilihan aktor disampaikan setelah karya tersebut dipublikasikan dan bisa dinikmati secara keseluruhan, bukan sebelum itu. Sampai saat ini, belum ada cuplikan yang memperlihatkan penampilan akting Yusuf dan Andy sebagai Marvel dan Marvin. Namun, banyak netizen yang sudah cepat sekali memberikan penilaian hanya berdasarkan konten di media sosial pribadi mereka. Imajinasi yang terbentuk dari membaca novel bukanlah satu-satunya cara untuk menilai kebenaran. Sutradara memiliki hak untuk memberikan interpretasi yang baru asalkan tidak mengkhianati inti dari karakter. Sudah sepantasnya memberikan kesempatan kepada kedua aktor untuk menunjukkan kemampuan mereka. Jika setelah penayangan akting mereka dirasa kurang sesuai, kritik yang membangun tentu diperbolehkan. Namun, jika penilaian hanya didasarkan pada perasaan bahwa kepribadian di media sosial berbeda tanpa mempertimbangkan bukti persiapan dan komitmen profesional, maka itu adalah penilaian yang prematur dan tidak adil. Sebaiknya menonton terlebih dahulu, baru memberikan penilaian.

Gambar 1. Respon Komentar Yusuf Akrtiko
