“Dari Bengkel dan Peluit Parkir Menuju Studio Impian”

Malam sudah larut ketika Ramdan melepas rompi parkirnya, menggulung peluit kecil ke saku celana, lalu berjalan pulang dengan langkah yang berat. Di wajahnya menempel debu jalanan, di telapak tangannya masih tersisa bau oli dari bengkel motor tempat ia bekerja sejak pagi. Namun setibanya di rumah, ketika sebagian besar orang memilih beristirahat, lelaki muda asal Garut itu justru menyalakan ponsel dan laptop seadanya untuk belajar tentang cahaya, komposisi, dan warna hingga lewat tengah malam. Begitulah hari-hari Ramdan berjalan selama bertahun-tahun: pagi hingga sore bekerja di bengkel, malam menjaga parkir di minimarket, akhir pekan mengikuti kuliah kelas karyawan, dan sisa waktunya ia serahkan kepada satu mimpi yang tampak jauh untuk diraih: menjadi fotografer.

Di usia ketika banyak teman sebayanya menikmati masa muda dengan nongkrong atau berlibur, Ramdan justru akrab dengan letih yang menumpuk dan kecemasan yang datang silih berganti. Ia pernah bertanya pada dirinya sendiri apakah semua usaha itu akan berakhir sia-sia. “Sering banget saya ngelamun, terus mikir ini akhirnya gimana, apakah mimpi saya yang begitu diperjuangkan hingga mengorbankan masa muda saya ini akan berakhir bahagia atau sebaliknya” Ujarnya sambil tersemyum tipis dibalik layar gmeet.

Hari ini, pertanyaan itu dijawab oleh sebuah studio bernama “MR Pro Production” yang berdiri atas namanya sendiri dan oleh belasan anak muda yang kini bekerja dan belajar di dalamnya.

 

Kisah Ramdan bukan semata cerita tentang anak muda yang berhasil membuka usaha fotografi. Ini adalah kisah tentang daya tahan seseorang yang hidup dalam himpitan ekonomi, memanggul beban pekerjaan berlapis, menempuh kuliah yang jauh dari bidang impiannya, sekaligus melawan rasa rendah diri yang terus menghantuinya.

Berasal dari Garut, Jawa Barat, Ramdan tumbuh dalam keluarga sederhana. Setelah lulus SMA, ia memutuskan tetap kuliah melalui program kelas karyawan setiap hari sabtu dan minggu. Jurusan yang ia ambil tidak berhubungan dengan fotografi bahkan sangat jauh yaitu “sosial politik”. Saat ditanya mengapa ia mengambil jurusan tersebut ia hanya terkekeh sambil menjawab “Orang lulus nya itu, ya saya ambil aja, ilmu mah dari mana aja teh, gak harus selalu tentang apa yang disukai”.

Kini ia telah menyelesaikan kuliahnya. Namun yang membuat kisahnya layak dikenang bukan sekadar gelar yang berhasil diraih, melainkan proses panjang yang mengantarkannya mengubah kamera menjadi jalan hidup, sekaligus membuka kesempatan bagi orang lain.

Pada pagi hari, Ramdan adalah pekerja bengkel motor seperti kebanyakan. Ia memperbaiki rantai, mengganti oli, memeriksa rem, dan melayani pelanggan. Pekerjaan itu menuntut tenaga dan kesabaran. Tetapi harinya tidak selesai di bengkel. Menjelang malam, ia berganti peran menjadi tukang parkir di sebuah minimarket. Di sela-sela pekerjaannya, muncul perasaan yang sulit dihindari ketika melihat orang lain tampak menjalani hidup dengan lebih ringan. “Kadang saya iri. Teman-teman saya mah bisa nongkrong, bisa jalan, bisa fokus kuliah. Saya pulang kerja, kerja lagi. Besok begitu lagi,” ujarnya.

Ketertarikannya terhadap fotografi mulai tumbuh pada tahun 2018. Saat itu ia sering melihat berbagai karya foto dan video di media sosial. Rasa penasaran membuatnya mulai belajar secara otodidak melalui internet. Ia menonton video tutorial, membaca artikel, dan mempelajari teknik-teknik fotografi meski belum memiliki kamera sendiri. Malam menjadi ruang belajarnya. Setelah bekerja hampir seharian penuh, ia masih menyempatkan diri mempelajari pencahayaan, komposisi, editing, dan berbagai dasar fotografi lainnya. Yang paling berat bukan hanya kelelahan fisik. Ramdan juga sering merasa tertinggal. Ia bekerja sebagai montir dan tukang parkir, sementara banyak temannya sudah mulai memiliki pekerjaan yang lebih mapan. “Kadang saya minder juga ketika ditanya kerja di mana. Rasanya tuh seperti berada jauh di belakang orang lain,” kenangnya.

Dalam perjalanan belajar, ia tidak selalu bertemu dukungan. Beberapa hasil fotonya pernah dianggap belum layak. Ada calon klien yang memilih orang lain karena pengalamannya masih minim dan peralatannya sederhana. Penolakan itu membuatnya berkali-kali mempertanyakan kemampuannya. Namun di tengah masa-masa sulit tersebut, ia selalu mengingat pesan ibunya. “Kalau capek, istirahat. Tapi jangan berhenti.” Kalimat sederhana itu menjadi pegangan yang terus ia bawa. Saat pekerjaan sepi, saat ditolak klien, atau saat mulai meragukan dirinya sendiri, nasihat itu selalu kembali teringat.

Setelah bertahun-tahun menabung dari hasil bekerja, Ramdan akhirnya berhasil membeli kamera pertamanya, sebuah Canon 600D bekas. Momen itu menjadi titik penting dalam perjalanannya karena untuk pertama kalinya ia bisa mempraktikkan secara langsung apa yang selama ini hanya dipelajarinya melalui layar. Berbekal kamera tersebut, ia mulai menerima pekerjaan fotografi kecil-kecilan. Ia memotret acara keluarga, kegiatan komunitas, produk usaha kecil, hingga berbagai kebutuhan dokumentasi lainnya. Bayarannya belum besar, tetapi setiap pekerjaan menjadi kesempatan belajar. Kemampuannya berkembang perlahan. Ia semakin memahami cahaya, lebih rapi mengolah warna, dan lebih percaya diri menghadapi klien. Dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya, namanya mulai dikenal.

Setelah lulus kuliah, ruang geraknya menjadi lebih luas. Ia semakin fokus mengembangkan usaha fotografi yang telah dirintisnya. Pada tahun 2022, Ramdan mendirikan studio fotografi dan videografi bernama MR Pro Production. Studio itu bukan sekadar tempat bekerja, melainkan simbol dari perjalanan panjang yang ia tempuh sejak mulai belajar fotografi pada 2018. Awal berdiri, ia merekrut sekitar tiga orang pemuda di sekitarnya. Mereka diajak belajar fotografi, videografi, editing, dan berbagai keterampilan kreatif lainnya. “Saya tahu rasanya tidak punya kesempatan. Karena itu ketika usaha mulai berjalan, saya ingin ada orang lain yang ikut berkembang bersama,” katanya.

Sedikit demi sedikit, MR Pro Production berkembang. Jika pada awalnya hanya melibatkan tiga orang, kini sekitar lima belas orang terlibat dalam berbagai bidang pekerjaan di dalamnya. Ada yang menjadi fotografer, videografer, editor, hingga bagian produksi. Bagi Ramdan, perkembangan tersebut bukan hanya soal bisnis. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk berbagi ruang belajar dan pengalaman kepada anak-anak muda yang membutuhkan arah dan peluang. Jejak bengkel dan rompi parkir mungkin tidak pernah benar-benar hilang dari dirinya. Namun pengalaman itulah yang membentuk daya tahannya. Ia memahami bagaimana rasanya bekerja keras, menghadapi penolakan, dan terus belajar dari keterbatasan.

Pada akhirnya, kisah Ramdan bukan hanya tentang seorang anak muda yang berhasil menjadi fotografer. Ini adalah kisah tentang seseorang yang terus bergerak meski keadaan tidak selalu berpihak kepadanya. Dari bengkel motor, area parkir minimarket, ruang kuliah akhir pekan, hingga malam-malam belajar tanpa henti sejak 2018, ia mengumpulkan langkah demi langkah menuju impiannya. Di MR Pro Production yang kini berkembang bersama sekitar lima belas anggota tim, Ramdan tidak hanya membangun karier untuk dirinya sendiri, tetapi juga membuka kesempatan bagi orang lain.

Dan mungkin, di tengah aktivitas studio yang kini ramai, pesan ibunya masih menjadi pengingat yang paling sederhana sekaligus paling kuat: “kalau capek, istirahat, tapi jangan berhenti”.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!