
Ada yang berbeda dari cara ia memandang layar ponselnya, bukan sekadar menggulir linimasa, melainkan mencari-cari kepastian. Namanya mungkin belum dikenal luas, tapi ia adalah bagian dari sekelompok mahasiswa yang menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun sebelumnya di kampusnya, menjadi angkatan pertama di Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Bukan jalan yang mudah. Bahkan sebelum perjalanan dimulai, tanda tanya sudah berderet panjang dipikirannya. “Ketika saya mencari informasi mengenai program studi ini, masih minim baik di fakultas ataupun di Instagram UIN Bandung. Begitu kurang lebih yang ia ungkapkan ketika ditanya tentang Kesan pertama menjadi bagian dari prodi yang masih seumur jagung. Informasi minim, akreditasi yang belum jelas, menjadi dua hal yang menyambut para pionir ini di awal perjalanan. Namun, mereka tetap langkahkah masuk.
Pilihan kuliah memang jarang sekali lahir dari satu kehendak tunggal. Bagi mahasiswi ini, keputusan masuk Tadris Bahasa Indonesia adalah jalan tengah dari dua tarikan, yaitu kecintaan pribadi pada dunia tulis-menulis, dan harapan orang tua agar anaknya kelak menjadi guru. “Saya senang sekali dengan tulisan. Bukan dalam keguruan, namun mengenai kebahasaannya,” ujarnya.
Karena keinginan orang tua pun tak bisa diabaikan begitu saja. Maka Tadris Bahasa Indonesia menjadi jawaban Raya berkuliah di sana yang mempelajari pendidikan, dan di sana pula ada ruang untuk ia belajar lebih jauh tentang bahasa dan sastra. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Terkhusus ia akan menjadi angkatan pertama, berarti tidak ada kakak tingkat yang bisa dijadikan panduan. Tidak ada jejak skripsi terdahulu untuk ditelusuri. Dan tidak ada patokan yang jelas tentang bagaimana seharusnya melangkah.
Jika ada satu frasa yang paling tepat menggambarkan pengalaman angkatan pertama ini, mungkin itu adalah meraba-raba dalam gelap. Bukan karena tidak ada bimbingan, tapi karena jalur yang mereka tempuh benar-benar baru, dan menjadi perintis masa depan prodi. “Untuk mencari tahu antara itu dari tugas, pembelajaran, dan lain-lain, kita harus meraba-raba seorang diri,” katanya. Kalimat sederhana itu menyimpan beban yang besar. Betapa sulitnya menavigasi sistem akademik yang masih dalam tahap pembentukan, sementara kamu sendiri adalah bagian dari percobaan itu.
Skripsi menjadi puncak dari segala ketidakpastian itu. Tidak ada skripsi senior sebagai acuan. Bertanya pun sering kali bingung harus kepada siapa. Yang tersisa hanyalah kelelahan yang menumpuk, dan tekad untuk terus mencari tahu. “Risiko terbesar saat mempersiapkan skripsi Adalah menyerah, karena kita banyak kehilangan arah, tidak tahu patokannya di mana.”
Di tengah tekanan dan ketidakpastian itu, ia pun menemukan satu jangkar, yaitu ulisan. Bukan sekadar hobi, tapi cara bertahannya karena tulisannya. “Saya sering menyebut tulisan saya adalah cara lain saya untuk mengeluh,” akunya sambil tersenyum. Di Tadris Bahasa Indonesia, ia tidak sendirian dengan kecintaan itu. Hanya dengan tulisan, ia merasa mempunyai alasan untuk tetap bertahan.
“Saya dapat merasakan peluk erat itu dari tulisan itu sendiri. Saya juga bisa bedah buku bersama teman-teman yang sangat menggemari tulisan.” Memang benar, banyak dari teman sekampusnya yang memiliki minat serupa, seperti membaca, mendiskusikan buku, dan menulis bersama. Karena komunitas kecil itulah yang membuat Tadris Bahasa Indonesia terasa seperti rumah untuknya, bukan sekadar tempat menimba ilmu semata.
Selain menulis, ia juga menemukan keseimbangan melalui aktivitas di luar kelas. Pilihan untuk bergabung dengan protokol di prodi dan Himpunan Mahasiswa TBI, serta ikut berbagai kegiatan kampus. Semuanya membantunya tumbuh, tidak hanya secara akademik, tapi juga sebagai manusia. Katanya “Tadris Bahasa Indonesia itu merupakan rumah untuk saya, karena banyak diantara semua mahasiswa yang memiliki kesamaan atau kesenangan yang sama.”
Untuk melalui perjalanan sepanjang ini, pastinya tidak ia tempuh sendirian. Ketika ditanya tentang dukungan yang ia terima, satu kata langsung meluncur, yaitu Alhamdulillah. Katanya “Alhamdulillah, saya mendapatkan dukungan yang penuh, entah itu dari keluarga, teman dekat, orang tua, ataupun dari sahabat-sahabat yang sampai saat ini menemani saya.” Nama-nama itu kemudian ia sebutkan satu per satu, dimulai dari Acha, Devi, Fira, Salma, Fya, Wafi, teman-teman angkatan Adharma Pratama, dan rekan-rekan Kabinet Nawasena di himpunan. Masing-masing membawa peran tersendiri dalam perjalanannya.
Mama dan ayah menjadi motivasi terbesar. Prinsip lulus cepat dan memberikan gelar S.Pd. kepada orang tua menjadi kompas yang tak pernah ia lepaskan. “Di saat saya menyerah, saya chat mama ayah untuk meminta doa, meminta dukungan. Itu cara saya mengatasi kendala” ungkapnya. Ada kesederhanaan yang mengharukan dalam cara ia mencari kekuatan, bukan di tempat-tempat besar, melainkan dalam layar ponsel yang menampilkan nama ‘Mama’ dan ‘Ayah’.
Kemudian, dipenghujung percakapan, pertanyaan paling mendasar pun dilontarkan, yaitu apa makna dari semua perjalanan ini menurutmu?
Jawabannya tidak terduga, tapi justru itulah yang membuatnya bermakna, jawabanya adalah bergaul. “Ayah pernah bilang kalau ingin pintar, cukup baca buku yang banyak. Tapi dalam perjalanan pendidikan ini, saya senang bergaul dengan banyak orang, belajar dari banyak orang, dan pengalaman banyak orang.” Jadi, bagi dia, pendidikan bukan hanya soal nilai atau gelar. Pendidikan adalah tentang tumbuh di antara orang-orang yang lebih dulu tumbuh. Tentang mengenal diri sendiri melalui cermin yang ditawarkan oleh orang-orang di sekitar. Tentang cerita-cerita yang dipertukarkan di lorong kampus, di sela-sela diskusi, di momen-momen kecil yang sering luput dari perhatian.
Ia mengatakan bahwa lagu “Cermin” karya Nadin Amizah, menjadi salah satu Gambaran dalam perjalanan Raya dari hari pertama kuliah hingga sidang akhir. “Jujur selama perjalanan ini amat sangat senang dengan lagu nadin, apalagi kalo lagi nulis, kenapa cermin? Karena, aku berjuang banget buat sembuh dari keluh sampe ke peluk erat diri” tuturnya.
Raya dan teman-teman yang menjadi angkatan pertama selalu menanggung beban yang tidak pernah dipikul oleh angkatan-angkatan berikutnya. Mereka adalah eksperimen hidup, di mana harus menjajaki wilayah yang belum terpetakan, membuat kesalahan yang akan menjadi pelajaran bagi orang lain, dan membuktikan bahwa sesuatu yang baru pun bisa bertahan dan berkembang.
Program Studi Tadris Bahasa Indonesia kini punya lebih banyak cerita berkat mereka. Bukan cerita tentang kemudahan, tapi tentang keberanian untuk tetap berjalan meski tanpa peta. Tentang menulis ketika kata-kata adalah satu-satunya pegangan. Tentang menelepon mama dan ayah di saat paling lelah. Dan pada akhirnya, tentang bergaul dengan ilmu, dengan teman, dengan diri sendiri dalam sebuah perjalanan yang penuh risiko, menjadi bukti Raya amat sangat luar biasa dan mengesankan.
