Merias Mimpi, Menata Masa Depan di Antara Kuas dan Bangku Kuliah

Jarum jam baru menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Udara masih terasa dingin, suasana sekitar pun masih lengang dan gelap. Namun, Nandini Prameswari  telah memulai aktivitasnya. Setelah bangun tidur, ia duduk di hadapan cermin kecil di kamarnya. Bukan untuk berdandan, melainkan memastikan seluruh perlengkapan kerjanya telah siap dibawa. Berbagai alat rias seperti foundation, kuas makeup, eyeshadow, hairdo spray, serta jepit rambut telah tertata rapi di dalam sebuah koper besar yang hampir setiap akhir pekan menemaninya menuju berbagai lokasi pernikahan.

Saat banyak mahasiswa seusianya masih terlelap, Nandini justru sudah bersiap menyambut hari. Dengan teliti, ia mengecek kembali isi koper makeup miliknya. Beragam perlengkapan ia pastikan dalam kondisi lengkap dan siap digunakan. Koper besar itu bukan sekadar tempat menyimpan alat kerja, melainkan juga saksi perjalanan rutinnya sebagai perias yang kerap berpindah dari satu lokasi pernikahan ke lokasi lainnya.

Rutinitas itu telah menjadi bagian dari kehidupan Nandini Prameswari selama beberapa tahun terakhir. Di usianya yang baru 22 tahun, ia tidak hanya menjalani peran sebagai mahasiswi semester enam Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, tetapi juga aktif bekerja sebagai Makeup Artist (MUA). Di tengah tuntutan kuliah dan pekerjaan yang sama-sama menyita waktu dan tenaga, Nandini berusaha menjaga keduanya tetap berjalan seimbang.

Kesibukan semacam ini bukanlah hal yang baru bagi Nandini. Aktivitas yang padat telah menjadi bagian dari kesehariannya. Sebagai mahasiswi ia memilih untuk menjalankan dua tanggung jawab sekaligus, yakni menempuh pendidikan di bangku kuliah dan bekerja sebagai Makeup Artist. Kedua peran tersebut dijalaninya secara bersamaan dengan penuh komitmen di usia yang masih relatif muda.

Merias wajah bagi Nandini bukan sekadar pekerjaan. Setiap goresan kuas yang ia aplikasikan menyimpan jejak perjalanan yang tidak selalu mudah. Ada keberanian untuk melangkah, kelelahan yang harus ditahan, air mata yang pernah jatuh, serta tekad kuat untuk meraih masa depan melalui usaha yang nyata. Di balik hasil riasan yang mempercantik banyak wajah, tersimpan kisah tentang perjuangan panjang dan mimpi-mimpi yang terus ia kejar tanpa henti.

Ketertarikan Nandini terhadap dunia kecantikan berawal dari kegemarannya menggambar dan melukis sejak usia dini. Saat itu ia sering menghabiskan waktu dengan pensil warna dan buku gambar. Baginya, menciptakan karya yang indah selalu memberikan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri.

Tanpa disadari, hobi tersebut kemudian menemukan wadah baru ketika ia mulai mengenal dunia makeup. Kreativitas yang sebelumnya dituangkan di atas kertas perlahan beralih ke media yang berbeda, yakni wajah manusia.

“Saya dari kecil memang suka menggambar dan melukis.” ungkap Nandini.

Perjalanan itu tidak lepas dari peran keluarga yang selalu mendukung minatnya. Sang kakak yang lebih dahulu berkecimpung sebagai Makeup Artist (MUA) menjadi orang pertama yang mengenalkannya pada dunia tata rias. Sementara itu, kedua orang tuanya tidak pernah membatasi keinginannya untuk belajar, bahkan terus memberikan dorongan agar ia mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

Pada tahun 2018, ketika masih duduk di bangku SMP, Nandini mulai menapaki langkah awal di dunia makeup. Ia tidak langsung menjadi perias utama, melainkan memulai dari posisi yang paling dasar sebagai asisten kakaknya. Berbagai tugas ia kerjakan, mulai dari membawa perlengkapan makeup, merapikan kuas, menyiapkan kebaya, membereskan alat-alat rias, hingga mendampingi sang kakak saat merias pengantin. Meski terlihat sederhana, pengalaman tersebut menjadi proses belajar yang sangat berharga baginya. Ia melewati ribuan jam latihan, mulai dari melayani jasa makeup wisuda dan bridesmaid hingga akhirnya pada akhir 2024 ia mulai merias pengantin.

“Menjadi seorang MUA itu sebenarnya tidak mudah karena prosesnya panjang dan penuh lika-liku” kenang Nandini.

Ia ingat betul masa-masa sulit saat harus membawa koper perlengkapan yang besar di atas motor, berboncengan dengan kakaknya seperti “kura-kura ninja”. Risiko begal di malam buta hingga penolakan dari calon klien karena belum memiliki galeri wedding atau kamera profesional menjadi bumbu pahit dalam proses belajarnya. Peristiwa tersebut meninggalkan luka yang cukup dalam.

“Kakak saya sampai menangis. Rasanya sedih sekali karena kami sudah berusaha keras,” tuturnya. Namun, setiap tetes keringat dan air mata itu ia jadikan pupuk untuk memperkuat mentalnya.

Seiring berjalannya waktu, usaha yang mereka lakukan mulai menunjukkan hasil yang nyata. Jumlah klien terus meningkat, kemampuan semakin terasah, dan portofolio pekerjaan pun semakin berkembang. Setelah melalui berbagai tantangan dan proses yang panjang, mereka akhirnya merasakan buah dari kerja keras yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Baginya, pencapaian tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan secara berlebihan. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil pada waktunya. Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa kerja keras, kesabaran, dan ketekunan tidak pernah mengkhianati usaha yang telah diperjuangkan.

Bagi Nandini, pendidikan dan karier adalah dua rel yang harus berjalan beriringan secara seimbang. Strateginya cukup disiplin, Senin hingga Jumat adalah waktu suci untuk kuliah, sementara Sabtu dan Minggu didedikasikan untuk pekerjaan. Namun, jika ada jadwal wedding di hari kuliah, ia akan mulai merias pukul 3 pagi agar pukul 7 sudah bisa berada di dalam kelas.

Laptop adalah benda yang tak pernah absen dari tasnya. Di sela-sela waktu luang saat menunggu klien atau di lokasi kerja, ia akan membuka laptop untuk mengerjakan tugas individu maupun kelompok.

“Waktu istirahat itu sebenarnya sedikit. Tidur pun kadang sehari cuma 2 sampai 3 jam saja,” ungkapnya. Baginya, tidak ada waktu untuk bersantai jika ingin mempertahankan nilai akademik yang tetap aman di tengah padatnya jadwal kerja.

Ujian terberat Nandini bukanlah pada fisik yang lelah, melainkan pada mental yang dihajar habis-habisan oleh lingkungan sekitar. Di awal merintis, ia harus menelan pil pahit berupa cibiran, hinaan, hingga fitnah dari tetangga yang meremehkan profesinya. Ada yang memandang sebelah mata, meragukan apakah seorang MUA bisa sukses, bahkan membanding-bandingkan penghasilannya dengan pekerjaan kantoran.

“Mental aku dihajar, sisi emosi aku diuji. Pernah merasa ingin menyerah karena satu omongan orang” tuturnya.

Namun, alih-alih membalas dengan kata-kata, Nandini memilih membuktikan dengan karya. Pada tahun 2022, hasil kerja keras itu mulai terlihat nyata. Ia dan kakaknya berhasil membeli unit mobil dan membangun rumah dari hasil keringat sendiri. Kini, mereka yang dulu mencibir hanya bisa terdiam melihat kesuksesan yang diraih Nandini melalui “mental baja” yang ia miliki.

“Ini menjadi bukti bagi kami yang dulu pernah dihina, difitnah, dan dipandang sebelah mata. Pada akhirnya, semua itu bisa kami jawab dengan keberhasilan,” ujar Nandini.

Prinsip hidup Nandini sangat tegas kemandirian. Meski masih dalam tanggungan orang tua, la memiliki perencanaan matang sejak SMP untuk tidak merepotkan siapapun. Mulai dari perlengkapan kuliah, hingga kebutuhan pribadi seperti pakaian dan sepatu. semuanya ia bayar dari kantong sendiri.

Ia memegang teguh sebuah prinsip bahwa wanita wajib berpenghasilan agar memiliki nilai diri (value) dan tidak mudah diinjak-injak. Selain untuk kemandirian pribadi, motivasi terbesarnya adalah membantu perekonomian keluarga. Ia ingin membuktikan bahwa sebagai perempuan, ia mampu berdiri tegak di kaki sendiri dan menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Menatap masa depan, Nandini memiliki impian yang mulia. Di bidang pendidikan, ia bercita-cita menjadi guru profesional yang bermanfaat bagi masyarakat, bahkan berkeinginan menjadi PNS. Sementara di bidang karier, ia bermimpi menjadi seorang owner bisnis yang sukses dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Kepada rekan-rekan mahasiswa yang juga sedang berjuang kuliah sambil bekerja, Nandini menitipkan pesan yang menyentuh hati.

“Kalian keren dan hebat. Kalau kalian lagi capek, istirahat dulu sejenak, jangan sampai menyerah. Jika merasa ingin mundur, lihatlah ke sekelilingmu. banyak orang yang ingin ada di posisimu sekarang. Dan yang terpenting, lihatlah orang tuamu yang sedang kamu perjuangkan.”

Esok dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, Nandini kemungkinan kembali terbangun pukul dua pagi. Ia akan menyiapkan koper makeupnya, berangkat menuju lokasi klien, lalu bergegas ke kampus. Rutinitas yang melelahkan itu mungkin belum berakhir, tetapi dari sanalah ia sedang merias mimpi dan menata masa depannya, satu sapuan kuas dalam satu waktu.

Kisah Nandini Prameswari adalah pengingat bagi kita semua bahwa kesuksesan tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu, tetapi kepada mereka yang berani bangun di pagi buta, menerjang badai, dan tetap memegang kuas serta laptopnya dengan penuh keyakinan.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!