Menjaga Kalam di Tanah Rantau: Jejak Perjalanan Mbak Rina

Langit Purwakarta perlahan berubah jingga ketika lantunan ayat suci Al-Qur’an mulai

terdengar dari berbagai sudut Pondok Pesantren Nurrohman Al-Burhany. Di antara para santri

yang sibuk mengulang hafalan menjelang malam, seorang perempuan muda tampak duduk tenang

dengan mushaf terbuka di hadapannya. Jemarinya menyusuri baris demi baris ayat, sementara

bibirnya bergerak pelan melafalkan kalam Ilahi yang telah lama menetap dalam ingatannya.

Di lingkungan pesantren, hampir semua orang mengenalnya dengan satu panggilan yang

akrab yaitu Mbak Rina. Para santri memanggilnya demikian, begitu pula para guru dan keluarga

besar pesantren. Perempuan kelahiran Jambi, 2000 itu kini dikenal sebagai seorang hafizah 30 juz

yang mengabdikan hari-harinya bersama Al-Qur’an. Namun, perjalanan yang mengantarkannya

hingga titik itu bukanlah perjalanan yang singkat. Di balik hafalan yang telah selesai dijaga,

terdapat kisah tentang kerinduan kepada keluarga, perjuangan merantau, pengabdian yang tulus,

dan keteguhan hati yang tumbuh perlahan dari waktu ke waktu.

Perjalanan itu bermula jauh dari Purwakarta, di sebuah daerah di Jambi, tempat seorang

anak perempuan kecil menyimpan cita-cita sederhana menjadi santri dan menuntut ilmu agama di

pesantren. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Mbak Rina telah menyimpan keinginan untuk

mondok. Keinginan itu tumbuh seiring harapan kedua orang tuanya yang ingin melihat putrinya

belajar agama lebih dalam. Bagi keluarga mereka, pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu,

melainkan tempat membentuk karakter dan akhlak.

Namun setelah lulus sekolah, jalan menuju pesantren tidak langsung terbuka. Keterbatasan

biaya membuat keluarga harus mempertimbangkan banyak hal. Pada masa itu, Mbak Rina belum

memiliki tujuan yang pasti. Ia hanya menyimpan keinginannya dalam doa-doa yang diam-diam

dipanjatkan setiap hari. Kesempatan itu datang melalui seorang kerabat. Bibinya yang berada di

Jambi menawarkan sebuah pilihan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya yaitu

melanjutkan pendidikan di Purwakarta. Tawaran tersebut menjadi titik awal perubahan besar

dalam hidupnya.

Dengan restu kedua orang tua, Mbak Rina meninggalkan kampung halaman dan memulai

perjalanan menuju tempat yang sama sekali baru. Jarak yang memisahkan Jambi dan Purwakarta

bukan hanya tentang kilometer yang harus ditempuh, tetapi juga tentang keberanian meninggalkan

kenyamanan demi sebuah cita-cita. Hari-hari pertama di pesantren menjadi masa yang tidak

mudah. Segalanya terasa asing. Lingkungan baru, kebiasaan baru, dan kehidupan yang jauh

berbeda dari rumah membuat dirinya harus beradaptasi dengan cepat.

“Awalnya saya tidak betah. Rasanya ingin pulang terus,” kenangnya.

Rasa rindu kepada keluarga sering datang pada malam hari ketika aktivitas pesantren mulai

mereda. Di tengah kesunyian, bayangan rumah dan orang tua kerap hadir dalam pikirannya. Ada

saat-saat ketika ia ingin kembali ke Jambi dan mengakhiri semuanya. Namun waktu perlahan

mengubah perasaan itu. Rutinitas pesantren yang penuh kebersamaan membuat dirinya mulai menemukan kenyamanan. Ia belajar hidup bersama teman-teman dari berbagai daerah, mengikuti

kegiatan mengaji, dan menjalani kehidupan yang teratur dari pagi hingga malam. Sedikit demi

sedikit, tempat yang dahulu terasa asing berubah menjadi rumah kedua.

“Lama-kelamaan saya terbiasa. Sekarang malah sudah betah di sini,” ujarnya sambil tersenyum.

Kehidupan di pesantren mengajarkannya banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ia

rasakan. Jika dahulu hampir semua kebutuhan masih bergantung pada orang tua, kini ia harus

belajar mengurus dirinya sendiri. Ia belajar mengatur waktu, menyelesaikan pekerjaan secara

mandiri, dan bertanggung jawab terhadap berbagai hal dalam kesehariannya. Perubahan itu tidak

terjadi dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses yang panjang, melalui kebiasaan-kebiasaan kecil

yang dilakukan setiap hari.

Hari-hari Mbak Rina di pesantren berjalan dalam irama yang sederhana namun penuh

makna. Pagi hari dimulai sebelum matahari terbit. Saat sebagian orang masih terlelap, para santri

telah bangun untuk mempersiapkan diri menyambut salat Subuh berjamaah. Setelah itu, aktivitas

belajar dan mengaji berlangsung silih berganti hingga malam hari.

Bagi Mbak Rina, rutinitas tersebut bukan sesuatu yang membosankan. Justru dari jadwal

yang teratur itulah ia belajar menghargai waktu. Setiap jam memiliki tugasnya masing-masing,

setiap kegiatan memiliki tujuan yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Perlahan, kehidupan

yang dahulu terasa berat berubah menjadi kebiasaan yang dirindukan. Suara bel yang menandai

pergantian kegiatan, lantunan ayat Al-Qur’an dari kamar-kamar santri, hingga kebersamaan saat

makan bersama menjadi bagian dari kenangan yang membentuk perjalanan hidupnya.

Di pesantren pula Mbak Rina menemukan arti persaudaraan yang sesungguhnya. Meski

berasal dari daerah yang berbeda-beda, para santri hidup dalam satu lingkungan yang sama.

Mereka belajar bersama, saling membantu ketika mengalami kesulitan, dan saling menguatkan

saat ada yang merasa lelah atau kehilangan semangat.

“Kalau ada teman yang sedang sedih atau kesulitan, biasanya kami saling menyemangati. Jadi

tidak pernah merasa sendirian,” ungkapnya.

Kebersamaan itu membuat kerinduan kepada kampung halaman perlahan terobati.

Kehadiran teman-teman dan para guru menciptakan suasana hangat yang membuat pesantren

terasa seperti rumah sendiri. Di tempat itulah Mbak Rina belajar bahwa keluarga tidak selalu hadir

dalam ikatan darah, tetapi juga dapat ditemukan melalui orang-orang yang tumbuh dan berjuang

bersama dalam satu perjalanan.

Dari hari ke hari, tanpa ia sadari, pesantren telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang

berbeda. Bukan hanya lebih mandiri, tetapi juga lebih menghargai proses, lebih memahami arti

kebersamaan, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan.

Di tengah proses tersebut, Mbak Rina menemukan hal lain yang membuatnya semakin

mencintai kehidupan pesantren, yaitu hubungan hangat yang terjalin dengan para guru. Seiring

berjalannya waktu, hubungan itu tidak lagi terasa seperti hubungan antara santri dan pengajar.

Kehangatan yang diberikan para guru membuatnya merasa diterima sebagai bagian dari keluarga

besar pesantren. Ia sering berada di lingkungan rumah para ustadz dan ustadzah, membantu

berbagai kegiatan ringan, berbincang selepas mengaji, atau menemani anak-anak mereka bermain.

Kehadiran Mbak Rina diterima dengan baik hingga ia tidak lagi merasa sebagai pendatang dari

daerah yang jauh.

“Saya merasa dekat sekali dengan guru-guru di sini. Mereka baik dan selalu membimbing saya,”

tuturnya.

Bagi Mbak Rina, para guru bukan hanya orang yang mengajarkan ilmu agama. Mereka

adalah teladan hidup yang menunjukkan bagaimana ilmu seharusnya diamalkan dalam kehidupan

sehari-hari. Dari mereka, ia belajar tentang kesabaran, kedisiplinan, keikhlasan, dan cara

memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang. Kedekatan itu menghadirkan rasa nyaman

yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di pesantren, ia menemukan keluarga baru yang

membersamainya dalam perjalanan menuntut ilmu.

Karena kedisiplinan dan tanggung jawab yang ditunjukkannya selama bertahun-tahun, para

guru mulai memberikan berbagai kepercayaan kepadanya. Ia dipercaya membantu mengelola

beberapa kebutuhan santri serta terlibat dalam berbagai kegiatan pesantren. Kepercayaan tersebut

tidak pernah ia pandang sebagai beban. Sebaliknya, ia menganggapnya sebagai bentuk kasih

sayang dan penghargaan dari para guru yang selama ini membimbingnya.

“Kalau diberi amanah, saya bersyukur. Berarti guru percaya kepada saya,” katanya.

Kepercayaan itu membuatnya belajar menjadi pribadi yang lebih matang. Ia memahami

bahwa amanah bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang menjaga

kepercayaan yang telah diberikan orang lain.

Di balik kehidupan pesantren yang penuh kebersamaan, ada satu perjuangan besar yang

terus berjalan dalam diri Mbak Rina yaitu menjaga hafalan Al-Qur’an. Perjalanan menuju hafalan

30 juz bukanlah jalan yang selalu mudah. Banyak orang melihat hasil akhirnya, tetapi sedikit yang

mengetahui proses panjang yang harus dilalui untuk mencapainya. Mbak Rina mengakui bahwa

dirinya bukan santri yang paling cepat menghafal. Ada kalanya satu ayat harus diulang berkali-

kali sebelum benar-benar melekat dalam ingatan.

“Saya juga sering lupa. Tapi saya tidak mau menyerah,” ujarnya. Setiap hari ia berusaha menjaga

konsistensi. Baginya, keberhasilan tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mencapai

tujuan, melainkan oleh kemampuannya untuk terus bertahan dalam proses.

Ketika sebagian orang terlelap pada malam hari, ia masih duduk bersama mushafnya.

Ketika semangat mulai menurun, ia kembali mengingat tujuan awal mengapa dirinya datang ke

pesantren. Baginya, Al-Qur’an bukan sekadar hafalan yang harus diselesaikan, melainkan amanah

yang harus dijaga. Lingkungan pesantren menjadi tempat yang menguatkannya. Teman-teman

sesama santri saling membantu dan mengingatkan satu sama lain. Para guru senantiasa

memberikan arahan serta doa yang menjadi sumber semangat dalam perjalanan panjang tersebut.

Di tengah suasana yang penuh dukungan itu, Mbak Rina tidak pernah merasa berjuang

seorang diri. Tahun demi tahun berlalu. Ayat demi ayat terus bertambah dalam hafalannya. Hingga

akhirnya, perjalanan panjang itu mengantarkannya pada pencapaian yang selama ini diimpikan

menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Pencapaian itu bukanlah akhir dari perjuangan. Justru

sejak saat itulah ia merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga hafalan,

mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Bertahun-tahun hidup jauh dari kampung halaman telah mengubah banyak hal dalam diri

Mbak Rina. Perempuan yang dahulu sering dilanda kerinduan kini tumbuh menjadi pribadi yang

mandiri, sabar, dan penuh tanggung jawab. Pesantren telah memberinya lebih dari sekadar ilmu.

Tempat itu mengajarkannya arti keteguhan, keikhlasan, dan pentingnya memiliki orang-orang baik

yang mendukung perjalanan hidup seseorang. Di Pondok Pesantren Nurrohman Al-Burhany,

Mbak Rina menemukan rumah kedua. Ia menemukan guru-guru yang menjadi teladan, sahabat

yang menjadi saudara, dan lingkungan yang membantunya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih

dewasa.

Menjelang akhir perbincangan, ia menyampaikan pesan sederhana bagi para santri yang

tengah berjuang menuntut ilmu. “Jangan mudah menyerah. Kalau rindu orang tua itu wajar. Saya

juga pernah merasakannya. Tapi ingat tujuan kita datang ke pesantren. Nikmati prosesnya, karena

semua yang kita jalani hari ini akan menjadi pelajaran berharga di masa depan.”

Malam semakin larut. Suara lantunan Al-Qur’an kembali terdengar dari berbagai penjuru

pesantren. Di tengah suasana yang tenang itu, Mbak Rina kembali membuka mushafnya dan

mengulang ayat demi ayat yang telah lama hidup dalam ingatannya. Perjalanan menghafal

mungkin telah selesai, tetapi perjalanan menjaga Al-Qur’an akan terus berlangsung sepanjang

hidupnya. Sebagaimana ayat-ayat yang ia simpan di dalam dada, kisah perjuangannya pun akan

tetap hidup menjadi saksi bahwa cita-cita yang dirawat dengan kesabaran, doa, dan ketulusan pada

akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!