
Sore itu, aroma biji kopi menyeruak antara tumpukan buku-buku tua di Pasar Palasari Bandung. Di sudut yang tak terlalu mencolok, diapit oleh lapak yang kosong, seorang pria berkacamata duduk tenang dibalik rak berisi puluhan toples kaca. Masing-masing dari toples itu menyimpan biji kopi dari berbagai penjuru Nusantara. Ada yang warnanya masih hijau mentah, ada yang kehitaman kerena telah melewati proses sangrai, dan ada pula yang masih mengeluarkan uap tipis dari proses roast yang baru saja selesai. Aroma itu bukan aroma kafe, ia lebih pekat, jujur lebih hidup.
Pria itu bukan seorang barista yang berseragam apron dengan latte art di tangannya. Ia tidak menjual cold brew dalam gelas tinggi dengan cap estetik. Ketika seorang pengunjung muda menyebut tempatnya sebagai “Coffe Shop” ia meluruskan dengan nada tenang seolah terbiasa dengan istilah itu “ini toko kopi. Bukan coffe shop. Sebuah penegasan sederhana yang menyembunyikan prinsip penting didalamnya.
Pria tersebut bernama Bambang. Lahir di Madiun, besar di Surabaya, dan kini menetap di Bandung. Hal tersebut bukan karena rencananya yang matang, melainkan karena pandemi yang memaksa segalanya untuk berubah. Dan kopi, sebagai minuman pertama yang membuat ia terkejut saat meneguknya di usia kelas satu SD dari hasil racikan neneknya, menjadi benang merah yang tak pernah putus sepanjang perjalanan hidupnya.
Indonesia sebagai salah satu penghasil kopi dengan kualitas terbaik, membuat konsumsi domestik terus meningkat dari tahun ke tahun. Generasi muda sebagai motor utama dalam pertumbuhan ini, menjadikan kopi bukan hanya untuk “melek” tapi sebagai gaya hidup, identitas, bahkan konten media sosial. Namun sayangnya, banyak dari mereka fasih dalam menyebut “pour over”, “cold brew” dan sejenisnya tapi tidak benar-benar tahu biji kopi apa, dari mana asalnya, dan bagaimana proses pengolahannya sampai menjadi secangkir gelas yang dapat mereka minum. Di sini Pak Bambang hadir sebagai penyelaras. Beliau bukan anak yang lahir dari keluarga petani atau kota yang terkenal dengan perkebunan kopinya. Ia justru tumbuh di Surabaya, yang notabenenya jauh dari kawasan perkebunan. Namun kopinya datang lebih dulu, dibuat dengan kopi yang dicampur dengan susu sapi, olahan dari tangan neneknya itu disajikan dalam sebuah cangkir sederhana yang menemaninya dalam membaca buku. “waktu itu gaada kopi, sachet. Itu pure kopi. Campur susu sapi, dengan gula” sedikit kenangnya, saat kelas satu SD di tahun 1980. Zaman di mana kopi masih benar-benar kopi, sebelum menjadi industri kemasan yang dibalut dengan berbagai varian rasa. Kebiasaan yang tertanam sejak kecil ini tidak langsung menjadi profesi. Bambang melewati fase yang panjang sebagai pekerja di Jakarta, bolak-balik antar dua kota, menjalani rutinitas yang jauh dari aroma sangrai kopi. Barulah pada 2015, setelah memutuskan untuk keluar dari dunia kerja formal, ia mulai merintis usaha kopi sebagai pedagang kaki lima yang mangkal di trotoar Jakarta. Tidak ada modal besar dan investor. Hanya dari tekad dan sebuah gerobak sederhana dan jaringan pertemanan yang ia bangun perlahan.
Dunia kopi yang ia pelajari bukan dari kursus berbayar atau sertivikasi barista internasional. Ia belajar dari komunitas, dan orang orang yang sudah lebih lama berkutat dengan biji, proses dan citarasa kopi. “Pasar Santa di kawasan Blok S, Jakarta Selatan” tekannya saat menjelaskan lokasi di mana dia belajar. Pasar ini bukan sekedar pasar biasa. Sejak 2011, pasar ini menjadi salah satu episentrum budaya anak muda Jakarta, tempat bertemunya seniman, koletor vinyl, pedagang kuliner, dan tentu saja para penggiat kopi. “kalau mau belajar kopi, ke sana Bro. Wah pendekar kopi semua itu.” Ujar Bambang. Di sanalah dia duduk mendengarkan, mencicipi, dan perlahan menyerap ilmu yang tidak ada dalam teks buku. Dari komunitas ia membangun jaringan pemasok yang hingga kini menjadi tulang punggung pada bisnisnya. Jaringan yang dibangun kepercayaan ini bukan berdasar kontrak diatas kertas putih, melainkan atas kepercayaan yang tumbuh dari waktu ke waktu. “Di Gayo saya punya temen Gayo, di Bali saya punya teman Bali, di Toraja saya punya teman Toraja. Walaupun secara fisik belum pernah ketemu, tapi saling percaya aja” jelasnya. Kepercayaan yang ia sebut dengan santai, sesungguhnya adalah modal sosial yang nilainya tidak bisa dihitung dalam neraca apapun.
Namun pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia sejak 2020 menghantam banyak sektor usaha, salah satunya pedagang kaki lima yang sayangnya termasuk Bambang. Ketika mobilitas dibatasi, jalanan Jakarta menjadi sepi, ia memilih langkah yang bagi sebagian orang terasa mundur, yakni meninggalkan ibukota dan pindah ke Bandung. Ia yang sebelumnya hanya mengenal Bandung sebagai kota singgahan sebulan sekali, kini menjadi rumah dan pada 2021, tokonya di Pasar Palasari resmi berdiri. Pilihan daerah ini bukan tanpa kalkukasi, Palasari sudah lam adikenal sebagai “surga buku”di Bandung. Tempat di mana mahasiswa, dosen, kolektor, ataupun pemburu referensi langka berdatangan. Di rak tokonya, berjajar sekitar 25 varian kopi dari berbagai penjuru Nusantara. Ada kopi puntang dari lereng Gunung Puntang yang menjadi langganan favorit pelanggannya, ada kopi manglayang yang unik karena citarasanya tidak terlalu asam mesji tergolong Arabica, ada pula Bajawa dari Flores, Gayo dari Aceh, dan sebagainya. Masing-masing dari mereka memiliki karakter tersendiri, ditentukan oleh iklim, proses pasca panen, ketinggian dan jenis tanah.
Proses pasca panen inilah yang kerap tidak dipahami oleh konsumen awam. Bambang menjelaskan dengan analogi sederhana “kopi itu kayak beras, mau dibikin nasi kebuli, nasi uduk, atau nasi kuning, ya itu tergantung prosesnya.” Ada tiga proses utama yang ia jual, yakni natural yang dikeringkan dengan kulitnya, washed yang dicuci lalu dikeringkan, dan honey yang dikupas namun menyisakan lendir sebelum dikeringkan. Yang paling mengejutkan di antara koleksinya adalah “Sunda Geisha” yang namanya diambil dari tanaman di wilayah Ethiopia ini melejit sebagai salah satu kopi termahal di dunia. Bambang menjual varian ini dengan harga Rp. 1.800.000 untuk satu kilo. Mahal? Jelas, namun hal ini juga dipengaruhi karena kopi ini ia dapat dari petani Puntang yang menanam benih Geisa di gunung tersebut. Ada pula luwak yang difermentasi oleh perut luwak dan dibandrol dengan harga Rp. 380.000 perkilonya. Selain itu, bambang juga membuka jasa roasting bagi peminatnya. Dengan mesin berharga Rp 30.000.000, ia bekerja dengan meng-sangrai biji yang lebih muda untuk mempertahankan rasa buah dan keasaman alaminya. Biji yang lebih gelap akan menghasilkan rasa pahit yang cocok untuk espresso. “Kalau gelap banget terus bilang ini Arabica, ada niat nipu dia” candanya. Lima tahun berjalan, toko tanpa cabang ini tenyata memiliki jangkauan yang mengejutkan. Selain melayani langgan lokal bandung yang datang langsung ke Palasari, Bambang juga mengirim pesanan ke berbagai kota: Jakarta, Medan, Bali, bahkan hingga ke Jeddah, ArabSaudi. yang dikirim bukan kopi biasa, melainkan kopi infus seperti varian blueberry, strawberry, dan apple yang ia produksi sendiri. “Mahalan ongkos kirimnya, Sekilonya Rp. 400.000 tapi ongkirnya Rp. 600.000” akunya sambil tertawa. Walaupun memang lebih mahal, itu bukan halangan bagi yang sudah tau rasanya.
Kisah yang paling menarik dari Bambang bukan soal harga atau varian, melainkan cara dia menghadapi realitas di jalanan. Ketika pertama kali membuka toko di Palasari, ia berhadapan dengan orang-orang yang mencoba memungut uang “keamanan” dari pedagang baru. Fenomena ini bukan hal baru di pasar tradisional Indonesia, namun menjadi sebuah ekosistem tak resmi yang kerap membebani pedagang kecil. Bambang tidak melawan, namun ia menyebutkan “diplomasi kopi.” dengan wajah tersenyum. “saya kasih kopi, saya ajak ngomong. Saya bilang saya jauh dari Jawa ke Bandung itu cari duit, bukan cari musuh. Kalau minta kopi saya kasih, minta duit saya enggak kasih” ceritanya tenang. Cara ini terbukti ampuh, orang yang awalnya datang untuk mengintimidasi, kini duduk satu meja yang sama dengan Bambang untuk minum kopi bersama.
Kisah Bambang tidak hadir untuk menjadi trendi, ia hadir karena ia tahu kopi, mencintai kopi, dan percaya bahwa orang yang benar-benar ingin tahu tentang kopi pada akhirnya akan menemukan jalan ke tokonya. Tak jarang mahasiswa, dosen, pecinta kopi senior, hingga baru pertama kali ingin membeli biji kopi asli, mereka berdiri penuh kebingungan di depan rak toples Bambang. “Bingung lho kalau di sini, mana kopi yang enak dan kurang tahu juga” saat pertama saya datang ke toko ini. Namun inilah yang menjadi rasa penasaran untuk mengulik hal yang bisa dipelajari darinya.
Dari trotoar Jakarta hingga sudut Palasari, dari secangkir kopi nenek hingga pengiriman ke Jeddah, dari konflik jalanan hingga diplonasi yang lahir dari cangkir, setiap perjalanan Bambang tersambung oleh satu hal yang sama, yakni kopi bukan sekedar minuman, ia adalah cara berkomunikasi, cara bertahan, berdamai, dan mengenal dunia.
Indonesia mungkin punya ribuan toko kopi dan ratusan kedai kekinian yang lebih fotogenik dari toko Bambang. Tapi di antara semua itu, tidak banyak yang dibangun atas kepercayaan lintas pulau tanpa pernah bertatap muka, atau yang bisa meredam ketegangan dengan secangkir seduhan hangat, atau yang menjual biji kopi ke Jeddah dari sebuah toko di pasar buku tua. Bambang tidak butuh estetika Instagram untuk bertahan. Ia memakai pengetahuan, konsistensi dan komunitas untuk membuat tokonya tetap hidup. Akan selalu ada varian, konsep, ataupun nama yang lebih viral. Tapi di sudut Palasari, seorang pria dari Surabaya tetap duduk dengan tenang di antara toples, menyangrai biji pada suhu 200 derajat, dan percaya bahwa kopi yang jujur, tanpa polesan, dan basa basi adalah kopu yang paling bertahan lama. Seperti neneknya yang menyeduhkan kopi murni untuk cucunya sebagai teman menemani buku pada tahun 1980-an. Sederhana, namun tak terlupakan.
