
Sore perlahan turun di kawasan Braga. Wisatawan memenuhi trotoar, sebagian sibuk berfoto di depan bangunan-bangunan tua yang menjadi ikon kawasan tersebut. Di tengah keramaian itu, seorang pria tampak berjalan membawa dagangan minuman dingin. Sesekali ia menghampiri pengunjung dan menawarkan es teh maupun es jeruk dengan ramah.
Pria itu bernama Sudirman.
Sudah lebih dari sepuluh tahun ia menjalani profesi sebagai pedagang asongan. Sejak tahun 2014, Sudirman menggantungkan hidupnya dari hasil berjualan minuman di berbagai tempat keramaian. Bagi sebagian orang, segelas es teh mungkin hanya pelepas dahaga. Namun bagi Sudirman, minuman itulah yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Sudirman berasal dari Jawa, tetapi sejak kecil telah tinggal di Bandung. Kini ia memiliki dua orang anak yang masih bersekolah, satu di tingkat SMP dan satu lagi di SMA. Sebagai seorang ayah, ia terus bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga dan mendukung pendidikan anak-anaknya.
Braga bukan satu-satunya tempat ia mencari rezeki. Dalam kesehariannya, Sudirman juga sering berjualan di Museum Geologi Bandung. Menurutnya, penghasilan di lokasi tersebut sangat bergantung pada jumlah pengunjung yang datang.
“Kalau di museum tergantung kunjungan anak sekolah,” ujarnya.
Ketika banyak rombongan pelajar datang berkunjung, peluang dagangannya terjual tentu lebih besar. Sebaliknya, ketika jumlah pengunjung berkurang, hasil yang diperoleh pun ikut menurun. Saat berjualan di Museum Geologi, biasanya ia mulai bekerja pukul 09.00 hingga 15.00 mengikuti jam operasional museum.
Meski demikian, secara umum Sudirman tidak memiliki jam kerja yang pasti. Ia menyesuaikan aktivitasnya dengan kondisi dan kemampuan dirinya sendiri.
“Seadanya saja, sekuat kitanya,” katanya sambil tersenyum.
Selain menjual es teh dan es jeruk, terkadang ia juga menjajakan air mineral kemasan. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya memahami bahwa seorang pedagang harus pandai membaca peluang. Karena itulah ia tidak hanya bergantung pada satu lokasi.
Ketika ada acara besar di luar kota, Sudirman kerap ikut berjualan di sana. Salah satunya adalah acara karnaval yang diselenggarakan oleh SCTV. Bahkan saat musim liburan, ia sering mencari rezeki hingga ke Pantai Pangandaran yang ramai dipadati wisatawan.
Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain telah menjadi bagian dari kehidupannya. Baginya, keramaian bukan sekadar kumpulan orang, melainkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan.
Meski sudah lama berjualan, Sudirman mengakui bahwa penghasilannya tidak pernah benar-benar pasti. Ada hari ketika dagangan laris terjual, tetapi ada pula hari ketika pembeli sangat sedikit. Karena itu, ia memilih menjalani pekerjaannya dengan sabar dan penuh rasa syukur.
Tempat tinggal yang ia tempati saat ini disediakan oleh bos tempatnya bekerja. Meski sedikit meringankan beban hidup, tanggung jawab sebagai kepala keluarga tetap menjadi alasan utama yang membuatnya terus bekerja setiap hari.
Di tengah ramainya Braga, banyak orang mungkin hanya mengenal Sudirman sebagai pedagang minuman yang menawarkan es teh dan es jeruk. Namun di balik pekerjaannya yang sederhana, terdapat cerita tentang ketekunan dan perjuangan seorang ayah yang terus berusaha demi keluarganya.
Ketika malam tiba dan keramaian mulai berkurang, Sudirman perlahan mengakhiri aktivitasnya. Esok hari, ia akan kembali menyusuri jalanan, menawarkan dagangannya kepada para pengunjung, dan berharap ada rezeki yang bisa dibawa pulang.
Sebab bagi Sudirman, bekerja bukan hanya tentang mencari nafkah. Bekerja adalah cara untuk menjaga harapan tetap hidup, terutama bagi anak-anak yang menunggu masa depan yang lebih baik.
