
Ada sebuah kota yang tidak pernah masuk dalam rencananya. Bandung bukan tujuan pertama, kota itu datang begitu saja seperti jeda panjang sebelum sebuah perjalanan besar dimulai. Di sanalah, di antara gedung-gedung kampus swasta yang ia pilih bukan karena cinta melainkan karena enggan berdiam diri, Rizka Aulia Fauziah belajar satu pelajaran paling berharga dalam hidupnya, bahwa mencoba meskipun tanpa harapan besar, adalah satu-satunya cara untuk sampai.
Tahun 2025, namanya tercatat di antara enam dari dua belas ribu pendaftar yang terpilih mewakili UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai Google Ambassador. Sebuah pencapaian yang jika ditelusuri dari mana ia berasal, terasa seperti kisah yang mustahil sampai kita tahu bahwa ia pernah memulai semuanya dari nol, dua kali. Namun kisah ini bukan sekadar tentang keberhasilan. Ini adalah kisah tentang keberanian untuk memulai, tentang kegigihan yang tidak kenal lelah, dan tentang seorang perempuan muda yang membuktikan bahwa asal muasal tidak pernah menjadi penentu batas pencapaian. Kisah Rizka adalah cermin bagi siapa pun yang pernah merasa bahwa kesempatan telah melewatinya begitu saja.
Rizka lahir dan besar di Solok Selatan, Sumatera Barat. Jauh dari gedung-gedung tinggi, jauh dari hiruk-pikuk startup teknologi, dan jauh dari ekosistem digital yang hari ini menjadi panggung impian jutaan anak muda. Di tanah yang kaya dengan hamparan sawah dan punggung bukit berlapis kabut itu, Rizka tumbuh dengan mimpi-mimpi yang mungkin terasa besar untuk ukuran kotanya tapi tidak pernah terasa mustahil di dalam dadanya. Ketika lulus SMA, pikirannya mengarah ke Surabaya atau Yogyakarta, kota-kota yang bagi banyak anak muda terasa seperti gerbang menuju masa depan. Di sana ada universitas-universitas besar, komunitas teknologi yang berdenyut, dan peluang yang terasa nyata. Namun takdir punya caranya sendiri untuk menulis cerita.
Ia akhirnya mendarat di Bandung. Bukan karena pilihan pertama, melainkan karena ia menolak untuk tinggal diam. “Daripada tidak melakukan apa-apa,” begitu ia menjelaskan keputusannya dengan nada ringan yang menyimpan kedalaman. Frasa sederhana itu mengandung filosofi yang jauh lebih kuat dari yang tampak di permukaann, bahwa diam bagi Rizka adalah kemewahan yang tak mampu ia bayar. Ketika banyak orang seusianya memilih menunggu, menunggu waktu yang tepat, menunggu kesempatan yang sempurna, menunggu keberanian yang datang sendiri Rizka memilih bergerak. Di kampus swasta itu, ia duduk di bangku kuliah sambil menyimpan bara keinginan yang tak pernah padam, masuk perguruan tinggi negeri. Bukan karena status atau gengsi semata, melainkan karena ia tahu betul bahwa akses ke sumber daya yang lebih luas, jaringan yang lebih kuat, dan peluang yang lebih beragam seringkali mengalir lebih deras melalui pintu-pintu PTN. Ia tidak menipu dirinya sendiri dengan menerima keadaan sebagai takdir ia menerimanya sebagai titik berangkat.
Satu tahun berlalu. Ia mencoba lagi. Dan kali ini, pintu itu terbuka. UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Teknik Informatika, menerima gadis dari Solok Selatan itu dengan tangan terbuka. Rizka menyebutnya sebagai kesempatan kedua. Tapi siapa sangka, ia baru saja mengambil ancang-ancang untuk lompatan yang jauh lebih tinggi. Memasuki UIN Sunan Gunung Djati, Rizka sadar bahwa perjalanan keduanya harus berbeda dari yang pertama. Bukan hanya soal nilai di atas kertas, ia ingin membangun dirinya secara menyeluruh. Ia bergabung dengan pers kampus, menghirup udara jurnalisme dan belajar menyuarakan cerita-cerita yang layak untuk didengar. Ia aktif di komunitas luar kampus, membuka dirinya pada perspektif-perspektif yang tidak akan ia temukan di dalam ruang kelas.
Ada dorongan yang terus menyalakannya dari dalam semacam kegelisahan produktif yang mengubah waktu luang menjadi peluang. Teman-teman seangkatannya mungkin bertanya-tanya dari mana ia mendapat energi sebanyak itu. Jawabannya sederhana ia belum pernah melupakan rasanya ketika duduk di kampus yang bukan pilihannya, menyimpan mimpi yang terasa mengganjal di dada. Momen itu menjadi bahan bakar yang tidak pernah habis. Ia juga aktif mengikuti berbagai perlombaan. Bukan semata untuk memenangkan piala, melainkan karena setiap kompetisi adalah ruang untuk mengukur diri seberapa jauh ia sudah melangkah, seberapa besar gap yang masih perlu ia tutup.
Maka ketika sebuah tautan pendaftaran Google Ambassador muncul di grup percakapan temannya, Rizka awalnya hanya memandangnya sekilas. Tidak ada yang istimewa di matanya saat itu. Tidak ada getaran di dada, tidak ada suara batin yang berbisik bahwa inilah momen yang akan mengubah hidupnya.
“Awalnya tidak tertarik,” akunya dengan jujur.
Tapi informasi itu terus bermunculan di linimasa media sosialnya, mengintai seperti sebuah panggilan yang menolak diabaikan. Program Google Ambassador sendiri bukanlah program sembarangan. Ia dirancang untuk mengidentifikasi mahasiswa-mahasiswi berbakat dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang tidak hanya cakap secara teknis, tapi juga memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan visi untuk membawa perubahan di komunitas mereka. Setiap tahun, ribuan mahasiswa mencoba peruntungan dan hanya segelintir yang berhasil menyisihkan diri.
Suatu hari Rizka menyerah atau lebih tepatnya, ia mendengarkan dirinya sendiri. Jari-jarinya membuka formulir pendaftaran.
“Saya hanya mencoba,” katanya, sebuah pernyataan yang terdengar ringan tapi mengandung keberanian yang dalam.
Tak ada ekspektasi yang ia pasang tinggi-tinggi, tak ada janji pada diri sendiri bahwa ia harus berhasil. Yang ada hanyalah tekad untuk tidak membiarkan kesempatan itu berlalu tanpa pernah ia sentuh. Ia mengisi formulir dengan hati-hati, kemudian ia memecahkan sebuah studi kasus, menghadapi wawancara, dan kemudian melepaskan hasilnya ke tangan semesta. Namun di balik ketenangan yang ia tampilkan ke luar, ada keyakinan yang ia pegang erat seperti tali penyelamat. Sebuah kalimat yang ia sebut seperti mantra,
“Ga mungkin kita dapat hasil yang beda kalau usahanya sama. Jadi harus coba.” Kalimat itu bukan klise motivasi yang tercetak di poster dinding. Bagi Rizka, itu adalah pelajaran hidup yang ia tulis sendiri dengan tinta pengalaman yang pernah terasa pahit.
Hasilnya datang dalam bentuk kabar yang tak terduga. Dari dua belas ribu pendaftar se-Indonesia, Rizka masuk dalam enam nama yang terpilih mewakili UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai Google Ambassador 2025. Kabar itu ia terima bukan dengan sorak kegembiraan yang berlebihan, melainkan dengan rasa syukur yang tenang dan dalam. Terpilih ternyata bukan berarti jalan menjadi lapang seketika. Justru di sinilah babak yang paling menguji dimulai.
Dunia nyata tidak menunggu seseorang selesai merayakan sebelum menghadirkan tantangan berikutnya dan Rizka belajar itu dengan cara yang keras. Di saat yang bersamaan dengan perannya sebagai Google Ambassador, Rizka tengah mengemban tanggung jawab sebagai anggota pers kampus sekaligus terlibat aktif dalam kepanitiaan robotika jurusan. Jadwal yang padat itu perlahan menghimpit. Hari-hari mulai terasa lebih panjang dari yang seharusnya, tidur menjadi barang mewah, dan konsentrasi yang biasanya menjadi kekuatan terbaiknya mulai terpecah menjadi serpihan-serpihan.
Ada hari-hari ketika ia bangun pagi dan merasa tidak tahu harus memulai dari mana. Daftar tugasnya terlalu panjang untuk satu hari, tapi tenaganya tidak bertumbuh seiring dengan tanggung jawab yang bertambah. Ada momen ketika semua hal terasa terlalu besar untuk ditanggung seorang diri, ketika suara kecil di dalam kepalanya bertanya apakah ia telah menggigit lebih dari yang bisa ia kunyah? Burnout kata yang kini sering diucapkan generasinya mengetuk pintunya dari dalam. Satu event sebagai ambassador akhirnya tak terlaksana. Bagi orang lain, mungkin itu hanya satu item yang tercoret dari daftar. Tapi bagi Rizka, yang terbiasa memberi seratus persen dari dirinya, kegagalan kecil itu terasa besar seperti retak pada cermin yang sebelumnya ia jaga tetap bersih.
Tapi Rizka tidak melarikan diri dari tanggung jawab itu. Ia berdiri di hadapannya, mengakuinya kepada dirinya sendiri dan kepada orang-orang yang perlu mendengarnya, kemudian melanjutkan langkah. Ini bukan kegigihan yang heroik dan dramatis tapi bentuk keberanian yang lebih sunyi, yang lebih banyak orang butuhkan tapi lebih sedikit yang bicarakan keberanian untuk tetap hadir meskipun tidak sempurna. Ia tetap membuat konten di media sosial sebagai bagian dari tugasnya sebagai ambassador. Tetap menjalankan perannya, meski terkadang dengan tenaga yang tersisa. Tetap hadir dalam setiap pertemuan, setiap diskusi, setiap kolaborasi meskipun tidak sempurna. Dan dalam ketidaksempurnaan itulah, justru karakter Rizka yang sesungguhnya terlihat bukan pada saat ia berdiri di puncak dengan tangan terangkat, melainkan pada saat ia tertatih-tatih namun tetap melangkah maju.
Dari pengalaman sebagai Google Ambassador, yang ia bawa pulang adalah transformasi cara berpikir, cara berkomunikasi, cara memandang dunia yang terasa semakin kecil sekaligus semakin luas. Ada soft skill yang ia asah dalam tekanan nyata, kemampuan untuk memprioritaskan ketika segalanya tampak penting, kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif di tengah tekanan, kemampuan untuk memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Pelajaran-pelajaran itu tidak datang dengan mudah, tapi justru karena tidak mudah, ia menancap jauh lebih dalam. Ada pula kesempatan bertemu para influencer dan yang membuka matanya terhadap dunia yang lebih luas dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Program ini juga memberinya akses ke kelas Dicoding yang membekalinya dengan pengetahuan teknis yang tidak hanya relevan untuk hari ini, tapi untuk masa depan yang sedang dibentuk oleh teknologi. Dan yang paling berharga adalah jaringan relasi yang membentang dari Sabang hingga Merauke.
Jaringan itu adalah modal yang akan terus berbunga bahkan ketika program ambassador-nya sendiri telah berakhir. Kini, ketika namanya disebut sebagai Google Ambassador UIN Sunan Gunung Djati Bandung, orang-orang mungkin hanya melihat hasilnya. Mereka melihat foto profil yang cerah, caption yang menginspirasi, dan angka-angka yang terdengar mengesankan. Mereka tidak melihat malam-malam ketika ia harus memilih antara istirahat yang ia butuhkan dan tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Mereka tidak melihat formulir yang ia isi tanpa ekspektasi besar, wawancara yang ia jalani dengan campuran kepercayaan diri dan kecemasan yang ia sembunyikan di balik senyum. Mereka tidak melihat ketika ia meragukan dirinya sendiri di jam-jam terpendeknya. Mereka tidak melihat perjalanan panjang dari Solok Selatan menuju satu titik kecil di peta Bandung, sebuah titik yang ternyata menjadi pusat dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Tapi Rizka tahu. Ia menyimpan semua itu bukan sebagai beban, melainkan sebagai kompas. Setiap kali ia berdiri di hadapan audiens yang lebih besar, setiap kali namanya disebut dalam konteks yang pernah hanya ada di mimpinya, ia kembali ke titik itu. Ke seberapa jauh ia sudah melangkah, dan seberapa jauh ia masih bisa melangkah.
Kepada siapa pun yang masih berdiri di tepi sebuah kesempatan, memandang ke dalam dengan bercampur keinginan dan ketakutan, Rizka menitipkan sebuah kalimat yang ia sungguh-sungguh percayai bukan karena ia baca dari buku, tapi karena ia hidup di dalamnya,
“Selagi masih sehat, selagi masih muda, dan selagi ada waktu manfaatkan dengan baik. Karena kita tidak tahu kesempatan mana yang akan membawa kita ke jalan yang terang.”
Kalimat itu sederhana, tapi di dalamnya tersimpan kebenaran yang sering kita lupakan di tengah kesibukan sehari-hari, bahwa waktu tidak menunggu kita siap, kesempatan tidak selalu hadir dengan label yang jelas, dan bahwa satu-satunya penyesalan yang benar-benar berat untuk ditanggung adalah penyesalan atas sesuatu yang tidak pernah kita coba. Ada banyak Rizka di luar sana. Anak-anak muda dari kota-kota yang tidak pernah masuk dalam percakapan tentang ekosistem teknologi nasional, yang memiliki mimpi-mimpi besar tapi tidak selalu tahu jalannya ke mana. Yang pernah mendapat jawaban “tidak” dari pintu pertama yang mereka ketuk, lalu harus memutuskan apakah akan berhenti atau mencari pintu berikutnya.
Rizka Aulia Fauziah tidak pernah tahu bahwa Bandung akan menjadi kota yang mengubah hidupnya. Ia tidak tahu bahwa sebuah tautan di grup percakapan yang hampir ia lewatkan akan membuka pintu menuju salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya. Ia hanya datang, mencoba, jatuh, dan tidak berhenti. Dan ternyata, dalam dunia yang sering kali mengagungkan strategi dan perencanaan yang sempurna, hal sesederhana itu datang, mencoba, dan tidak berhenti sudah lebih dari cukup untuk mengubah segalanya.
