
Udara yang sejuk di bawah naungan pepohonan tua terasa menyambut setiap langkah pengunjung yang berjalan menuju kawasan makam. Sebagian peziarah tampak sedang berdoa, sementara yang lainnya duduk sejenak menikmati suasana sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Makam syekh Eyang Adipati Kertamanah bukan hanya menjadi tempat untuk berziarah, tetapi juga menjadi lokasi yang menyimpan nilai sejarah sekaligus memberikan suasana alam yang tenang.
Suasananya yang tenang dan penuh kesejukan itu, ternyata menyimpan kisah sejarah yang masih teringat oleh masyarakat setempat. Keberadaan Makam Syekh Eyang Adipati Kertamanah memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah dan perkembangan wilayah di sekitarnya. Sehingga keberadaannya ini masih menjadi bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat setempat.
Syekh Eyang Adipati Kertamanah dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di wilayah pasirjambu. Dalam tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, beliau diyakini berasal dari garis keturunan Prabu Siliwangi melalui beberapa generasi penerus. Sosoknya yang dihormati bukan hanya karena kedudukannya pada masa itu, tetapi karena perannya dalam memperkenalkan dan mengembangkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Perjalanan dakwah yang dilakukan Syekh Eyang Adipati Kertamanah diyakini menjadi salah satu awal berkembangnya Islam di wilayah Pasirjambu. Utar Muchtar selaku kuncen disana menjelaskan bahwa masyarakat kabuyutan mengenal beliau sebagai tokoh yang menjadi pelopor penyebaran Islam di daerah tersebut. “Upami diétang-étang, Eyang Sang Adipati Kertamanah téh cikal bakal pangpayuna ngembangkeun Islam di urang mah, di Bandung mah,” ujarnya.
Syekh Eyang Adipati Kertamanah menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurut Utar selaku kuncen disana, beliau berdakwah sambil bertani dan berbaur dengan warga sehingga ajaran Islam dapat diterima tanpa paksaan. Di kawasan makam juga terdapat makam tokoh lain, seperti Eyang Geleng Pangancingan, Syekh Eyang Jaga Satru, Eyang Kumis Beureum, dan Eyang Mangkubumi. Masyarakat setempat kerap menyebut mereka sebagai “jaga lawang” karena letak makamnya berada sebelum makam Syekh Eyang Adipati Kertamanah dan menjadi jalur yang dilalui para peziarah.
Perjalanan menuju makam juga memberikan pengalaman tersendiri bagi para pengunjung. Akses menuju lokasi masih mengharuskan pengunjung melewati jembatan bambu yang membentang di atas aliran sungai. Setibanya di kawasan makam, suasana sejuk langsung terasa berkat rindangnya pepohonan tua yang masih terjaga. Di sekitar area juga terdapat batu yang bentuknya menyerupai punden berundak, menambah kesan bahwa kawasan ini menyimpan jejak sejarah yang panjang. Tidak heran jika banyak peziarah memilih duduk sejenak menikmati suasana alam yang tenang sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
