CANDI JIWA BATUJAYA, JEJAK PENYEBAR AGAMA BUDDHA YANG KINI MENJADI RUANG ZIARAH DAN KAJIAN ARKEOLOGI

KARAWANG — Kompleks percandian Batujaya di perbatasan Desa Segaran dan Telagajaya masih ramai didatangi peziarah, akademisi, dan wisatawan meski industri di Kabupaten Karawang tumbuh pesat di sekitarnya. Berlokasi di tengah hamparan sawah pesisir utara Jawa Barat, situs ini menyimpan Candi Jiwa, struktur batu bata merah tertua di Nusantara yang berdiri sejak masa Kerajaan Tarumanegara.

 

Berdiri tegak di antara petak-petak sawah, Candi Jiwa menyimpan jejak sejarah panjang yang baru terungkap secara ilmiah pada 1984, ketika tim Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia melakukan ekskavasi pertama di kawasan tersebut. Sebelum penggalian itu, area Batujaya hanya berupa gundukan tanah setinggi beberapa meter yang oleh penduduk lokal disebut “unur”. Warga sekitar mengeramatkan unur-unur ini karena ternak yang melintas atau memakan rumput di atasnya kerap mati mendadak, sebuah kejadian berulang yang melahirkan keyakinan akan kekuatan spiritual atau “jiwa” di dalam gundukan tersebut. Pemerintah mulai memugar struktur ini pada 1996, dan nama Candi Jiwa lahir dari keyakinan warga itu.

 

Nasri, juru pelihara Candi Jiwa Batujaya, menjelaskan ragam motivasi pengunjung yang datang ke situs ini.

 

“Kompleks percandian ini masih banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, baik domestik maupun mancanegara. Sebagian besar pengunjung datang untuk melaksanakan ritual ziarah dan peribadatan keagamaan, sementara yang lain ingin meneliti sejarah serta perjalanan peradaban Tarumanegara yang pernah memainkan peran monumental di Priangan Barat dan pesisir utara Jawa,” ujar Nasri.

 

Bentuk Candi Jiwa lahir dari lingkungan rawa dan danau purba yang dulu mendominasi Batujaya akibat beralihnya aliran Sungai Citarum. Struktur bujur sangkar berukuran 19 x 19 meter ini menyisakan tinggi sekitar 4,7 meter tanpa pintu masuk maupun anak tangga di keempat sisinya. Di bagian atas kaki candi, susunan batu bata melingkar berdiameter sekitar 6 meter membentuk pola gelombang yang menyerupai kelopak teratai sedang mekar, melambangkan tempat bersemayamnya arca Buddha dalam kosmologi Buddha Mahayana.

 

Kini, kompleks Batujaya menjadi rujukan riset bagi arkeolog dan ilmuwan material yang ingin menelusuri kecanggihan teknologi bangunan purba. Tanpa sumber batu andesit di pesisir utara Karawang, pembuat kuno mengolah tanah liat lokal bercampur sekam padi menjadi batu bata merah yang dibakar merata pada suhu optimal 700 derajat Celcius. Dinding candi dilapisi stuko dari tumbukan kulit kerang laut, pasir, dan kapur, bahan yang didatangkan dari Karst Pangkalan di Karawang Selatan melalui jalur Sungai Citarum.

 

Mengungkap detail proses ini bukan perkara sederhana. Analisis laboratorium dibutuhkan untuk memastikan komposisi bata dan stuko yang dipakai para pembuat kuno, sebuah riset yang menyita waktu dan sumber daya mengingat minimnya catatan tertulis dari masa Tarumanegara.

 

Di balik hamparan sawah yang dulu menjadi rawa purba itu, Candi Jiwa kini berdiri sebagai pengingat bahwa Karawang menyimpan jejak peradaban Tarumanegara yang layak ditelusuri lebih jauh oleh siapa pun yang datang. Susunan bata merah, plester stuko, dan pola kelopak teratai yang masih tersisa hingga kini menjadi saksi diam dari satu periode panjang yang pernah membentuk wajah religius Nusantara.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!