
Masjid Al-Jabbar terus menarik perhatian masyarakat sebagai salah satu pusat wisata religi dan ikon baru di Jawa Barat. Setiap akhir pekan, kawasan masjid yang berdiri megah dikelilingi hamparan air ini dipadati pengunjung yang datang untuk beribadah, menikmati kemegahan arsitektur, sekaligus mengeksplorasi ruang edukasi sejarah dan budaya Islam yang tersedia di dalamnya.
Daya tarik masjid Al-Jabbar tidak hanya memikat para pencari ketenangan spiritual, tetapi juga generasi muda yang haus akan edukasi sejarah. Salah satunya adalah Salma (22), seorang pengunjung setia yang mengaku terpikat oleh paket lengkap yang ditawarkan masjid ini, di mana keindahan visual berpadu selaras dengan ruang edukasi yang interaktif.
Bagi Salma, kemegahan visual masjid yang anggun di tengah telaga buatan ini selalu berhasil memikat matanya tanpa mengikis niat utama untuk menunaikan ibadah shalat. Di antara seluruh sudut yang ada, Galeri Rasulullah menjadi tempat yang paling membekas di benaknya karena menyajikan konten sejarah yang dikemas secara modern, kreatif, dan interaktif.
Selain konsepnya yang matang, Salma sangat mengapresiasi kebijakan pengelola yang membebaskan biaya masuk ke area galeri tersebut. “Bagus sih, tertata, kreatif aja isinya kayak galeri-galeri yang wah. Kalau galeri yang lain mahal (harus) bayar, kalau Galeri Rasulullah ini gratis,” ujar Salma dengan antusias mengenai keunggulan yang membuatnya selalu ingin kembali berkunjung.
Lebih jauh, Salma menilai fenomena ramainya pengunjung dari berbagai latar belakang tujuan sebagai hal yang positif bagi masyarakat luas. “Masjid Al-Jabbar ini termasuk wisata religi, banyak orang ke situ. Ada yang mau salat, ada yang wisatanya doang. Itu jadi daya tarik juga. Mungkin yang awalnya nggak shalat di masjid, jadi salat di masjid,” tuturnya bijak.
Mengenai aspek kenyamanan, ia memuji kebersihan area utama masjid yang terjaga dengan baik. Namun, Salma memberikan catatan evaluasi terkait pelayanan (hospitality) dari beberapa oknum petugas lapangan yang dirasa kurang ramah saat melayani jemaah. “Masuk pertama kali indah, waw banget. Panas di luar, tapi pas masuk adem. Di Masjid Al-Jabbar bersih, ada yang ngarahin juga. Paling teteh-teteh penjaga sepatu judes,” selorohnya.
Menutup perbincangan, Salma berharap Masjid Al-Jabbar dapat terus mempertahankan keindahan dan kenyamanannya sebagai ruang publik sekaligus tempat ibadah yang suci. Ia pun menitipkan sebuah pesan penting dan imbauan sederhana bagi seluruh masyarakat yang berniat menyambangi mahakarya arsitektur di Kota Bandung ini, “Pokoknya bagi para pengunjung, jangan lupa jaga kebersihan.”
