
Tugu yang berada di halaman masjid Cijaura Bandung, menarik perhatian masyarakat setelah diresmikan oleh wali kota Bandung Wahyu Hamijaya pada Tahun 1995 sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat yang gugur akibat serangan Tentara kolonial Belanda .
Sejak dibangun pada tahun 1923, Masjid Cijaura tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pos perjuangan masyarakat. Di balik tugu yang masih berdiri kokoh, ternyata menyimpan kisah tragis yang menewaskan dua ratus jamaah saat pelaksanaan salat Jumat.
Menurut pengelola Pondok Pesantren Cijawura H. Asep Luqman, kawasan masjid pada masa revolusi kemerdekaan tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai basis pertahanan masyarakat dan pejuang yang berupaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1945, ketika situasi keamanan di Bandung semakin tidak menentu akibat kembalinya pasukan Belanda bersama NICA, lingkungan pesantren dijadikan tempat berkumpul dan berkoordinasi para pejuang.
Memasuki tahun 1946, suasana perjuangan semakin memanas. Saat pelaksanaan salat Jumat di Masjid Cijawura, tentara kolonial Belanda melancarkan serangan dari berbagai arah. Tembakan yang menghujani kawasan masjid menyebabkan ratusan jamaah dan pejuang yang berada di lokasi menjadi korban. Peristiwa tersebut dikenang sebagai salah satu tragedi kemanusiaan yang terjadi di wilayah Bandung pada masa Revolusi Fisik. Berdasarkan keterangan yang diwariskan oleh pengelola pesantren, sekitar 200 pejuang dan jamaah gugur dalam serangan tersebut.
Para korban yang gugur awalnya dimakamkan di halaman masjid. Namun, seiring berjalannya waktu dan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa mereka dalam mempertahankan kemerdekaan, Pemerintah Kota Bandung memindahkan makam para syuhada tersebut ke Taman Makam Pahlawan Cikutra pada tahun 1993. Untuk mengenang peristiwa itu, sebuah tugu peringatan kemudian didirikan di area masjid sebagai simbol penghormatan terhadap para pejuang yang gugur.
Hingga kini, Masjid Cijawura masih berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan sejarah. Bangunan yang telah mengalami beberapa kali renovasi itu tetap mempertahankan sebagian bentuk aslinya sebagai pengingat bahwa tempat tersebut pernah menjadi ruang ibadah sekaligus medan perjuangan. Keberadaan tugu dan kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadikan Masjid Cijawura bukan sekadar situs keagamaan, tetapi juga menjadi monumen sejarah yang merekam jejak pengorbanan masyarakat Bandung dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
